Meramu Eksistensi Gerakan Mahasiswa di Luar Daerah

Meramu Eksistensi Gerakan Mahasiswa di Luar Daerah
Foto: Hairil Amri

Sebaiknya kita tidak mendikotomi antara organisasi gerakan mahasiswa di luar daerah dengan yang di dalam daerah. Sebab di antaranya memiliki potensi kader yang berbeda. Tinggal bagaimana kita mengonsolidasikan gagasannya sebagai bentuk ketidak-apatisan.

Hingga kita menyadari bahwa organisasi menjadi kebutuhan, instrumen gerak menuju penyatuan gagasan dan gerakan secara kolektif. Pada tahap itulah lahir pemuda yang bersikap organisatoris, bukan pemuda yang apatis; atau dengan kata lain, Pemuda Palsu.

Eksistensi organisasi, atau gerakan mahasiswa di luar daerah, idealnya diukur dari sumbangsih gagasannya sebagai salah satu tolok ukur objektif dalam menilai gerakan. Jika kita ikut mengamati lintasan sejarah yang telah bangsa lalui, peranan mahasiswa dan pemuda sangatlah besar dalam memecahkan kebuntuan guna mengisi kemerdekaan.

Bahkan, peranan pemuda dalam kurun waktu pra-kemerdekaan ikut bergerak dan mencatatkan dirinya dalam sejarah. Sebut saja Boedi Oetomo, Jong Celebes, Jong Java, Jong Borneo, Jong Sumatera, dan masih banyak lagi lainnya. Serta PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) yang salah satu jebolannya adalah Bung Hatta yang kemudian menjadi Wakil Presiden pertama Republik Indonesia.

Sadar atau tidak, dan mesti kita akui dengan jujur, bahwa betapa banyaknya organisasi kemahasiswaan di daerah yang cakupan gerak dan juangnya menasional. Sebut saja organisasi yang tergabung dalam Cipayung, yang sistem kaderisasinya tertata dengan baik. Hingga sebagai konsekuensi logisnya, eksistensi mereka dalam mengadvokasi dan mengkritisi memiliki bargaining position dan pengakuan. Baik untuk lembaganya secara umum maupun individu yang melembaga di dalamnya.

Lantas, bagaimana kita sebagai mahasiswa di luar daerah? Apakah kita justru menjadi pembawa budaya baru ke daerah, yang sama sekali tidak sesuai dengan budaya di daerah kita sebelumnya? Ataukah kita menjadi pembaru di waktu yang akan datang?

Tetapi, apakah mungkin kita sebagai mahasiswa di luar daerah akan menjadi pembaru dengan sikap apatis atau minimal hanya paham berseni dan budaya? Apakah cukup dengan hal demikian? Bahkan mungkin organisasi kita hanya menjadi penikmat dana pajak yang digunakan untuk membangun asrama mahasiswa di luar daerah dan segala jenis perawatannya?

Jika benar demikian, berarti kita yang melembagakan diri dalam organsisasi daerah sama dengan pemeras rakyat, yang tak peduli akan penderitaannya. Oleh karena itu, idealisasi organisasi kedaerahan mesti segera kita wujudkan bersaama.

Genealogi Organisasi Mahasiswa Daerah

Secara definisi, mungkin banyak dari kita mengartikan organisasi mahasiswa daerah adalah organisasi atau wadah berhimpunnya mahasiswa yang berasal dari daerah. Agar kita tidak terburu-buru dalam mendefinisikan, ada baiknya kita mendalami genealoginya terlebih dahulu. Supaya dapat menyimpulkan dengan komprehensif.

Meramu Eksistensi Gerakan Mahasiswa di Luar Daerah1

Berawal dari teks sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, bisa kita lihat bahwa para pemuda dengan sadar melihat ketertindasaan bangsanya dari penjajah. Sehingga banyak dari kalangan pemuda membentuk organisasi sebagai wadah memperjuangkan kemerdekaan untuk tujuan bersama.

Begitu juga dengan pemuda yang keluar negeri. Dalam catatan sejarah, rupanya tidak hanya keluar untuk menuntut ilmu. Mereka juga bergeliat menyuarakan kemerdekaan melalui organisasi yang juga mereka bentuk, yakni PPI (Persatuan Pelajar Indonesia).

Gerakan kemerdekaan di dalam negeri rupanya semakin menjadi isu yang sangat hangat di kalangan pemuda. Maka, melalui pemuda dari berbagai daerah, bangsa kita mendeklarasikan kesatuan bahasa, kesatuan bangsa, dan kesatuan tanah air. Ini kemudian disebut sebagai Sumpah Pemuda.

Jika kita menelusuri dokumen sejarah dalam deklarasi Sumpah Pemuda, ternyata pemuda-pemudi daerah dari seluruh pulau besar di nusantara turut dilibatkan. Mereka turut membentuk sebuah wadah dari masing-masing pulau.

Maka saat ini kita akrab dengan istilah Jong Celebes, Jong java, Jong Borneo, dan Jong Sumatera. Inilah cikal bakal organisasi pemuda kedaerahan dimulai. Dalam catatan sejarah, tidak hanya tingkat pulau, tetapi juga mancanegara dengan lahirnya PPI pada waktu itu.

Dalam beberapa literatur, fakta di atas memang babak pertama dari organisasi kedaerahan. Namun, tidak sampai di situ. Pasca Orde Lama runtuh dan Indonesia memasuki Orde Baru, justru menjadi babak kedua dengan ciri yang lebih spesifik. Bahkan sampai pada tingkat kabupaten. Dengan sikap pemerintah yang otoriter, itu membuat gerakan kemahasiswaan di tingkat pusat menemui kebuntuannya.

Lihat juga: Membangun Semangat Mahasiswa dan Organisasi Daerah demi Perkembangan Bangsa

Sebelum pecahnya reformasi tahun 1998, organisasi mahasiswa daerah banyak diminati oleh kalangan pemuda-pemudi, terkhusus pada daerah-daerah yang sedang berkembang. Hipotesis ini saya dasarkan pada otoriternya Orde Baru yang menekan organisasi kemahasiswaan di tingkat nasional. Sehingga organisasi nasional menemukan kemandekan dalam menjalankan fungsi kaderisasinya untuk sampai pada tingkat daerah.

Oleh karena ketiadaan organisasi yang mengontrol daerah yang sedang berkembang tersebut, mahasiswa lalu berbondong-bondong membuat wadah sebagai Centrum Cendikia asal daerah.

Dalam hipotesa ini, yang menjadi pengamatan saya adalah HIPERMAJU, KPM-PM, termasuk IMIM. Ketiga organisasi mahasiswa di luar daerah tersebut lahir sebelum reformasi. Tentu dalam rangka mengawal dinamika pemerintahan di daerah dan sebagai the guardian of democracy (pengawal berjalannya demokrasi).

Lantas, bagaimana dengan organisasi mahasiswa daerah yang lahir pasca reformasi? Tentu Berbeda pendekatannya.

Sebut saja Ikama Sulbar-Yogyakarta, yang berdasarkan historis, punya spirit pembentukan yang berdasar pada spirit menyuarakan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat. Dominasi culture sebelum mekarnya Sulawesi Barat sebagai daerah otonom baru dari Provinsi Sulawesi Selatan. Semakin berjalannya waktu, organisasi ini (Ikama Sulbar) justru semakin memperluas tujuannya.

Dinamisasi Organisasi Mahasiswa di Luar Daerah

Dalam lintasan sejarah di atas, dapat kita pahami bahwa setiap organisasi kemahasiswaan mengalami penyesuaian dengan masanya. Itu kemudian berimplikasi pada gerakannya untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah dirumuskannya. Lalu membuktikan bahwa organisasi juga mengalami dinamisasi dalam gerakan.

Saya mengutip perkataan Sayyidina Ali yang saya anggap pas untuk mengantarkan pembaca dalam konsep dinamisasi yang saya maksud:

Didiklah anakmu (kaderisasi) berdasarkan akhlak yang sesuai dengan masanya. Janganlah akhlak di masamu yang kau jadikan ukuran untuk mendidik anakmu. Karena bisa jadi akhlak di masamu berbeda dengan akhlak di masa anakmu.

Itulah pandangan yang menunjukkan kepada kita. Bahwa relativitas itu mutlak dalam kehidupan. Semua butuh persesuaian sesuai konteks zaman.

Jika dalam konteks sejarah para pemuda membuat organisasi daerah untuk menyongsong kemerdekaan, maka konteks hari ini tentu bukan lagi untuk menyongsong kemerdekaan, melainkan untuk mengisi kemerdekaan.

Hematnya, organisasi mahasiswa kedaerahan mesti menjadi the guardian of culture (penjaga nilai-nilai budaya) sebagai suatu sistem yang telah ada. Ia harus ada untuk memfilter arus globalisasi yang secara potensial dapat mendistorsi sejarah dan budaya kita. Maka tak heran, di beberapa organisasi mahasiswa di luar daerah, terdapat gerakan seni budaya. Di samping gerakan intelektual untuk meretas paradoks dalam tubuh organisasi mahasiswa daerah.

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Hairil Amri (see all)