Merawat Hak Perempuan

Merawat Hak Perempuan
Ilustrasi

Esensi dari peringatan Hari Perempuan Dunia ini hakikatnya merupakan penyegaran kembali bahwa perjuangan hak perempuan belum usai.

Hari Perempuan Internasional sudah kita peringati tepat tanggal 8 Maret 2017. Momentum bersejarah dengan alasannya tersendiri selalu saja penting untuk diperingati, setidaknya agar dapat mengambil pelajaran dari masa lalu.

Bila antusiasme perempuan Indonesia begitu heroik memperingati hari itu, secara definitif paradigma perempuan Indonesia sudah memiliki perubahan yang luar biasa. Itu tidak lain dari jauh sebelum hari ini, perempuan di Indonesia masih berkonotasi domestik, yakni dapur, sumur, kasur.

Namun, pelan–pelan hak perempuan sudah mengalami perubahan, baik di sektor sosial, politik, pendidikan ataupun sektor lainnya. Tentu capaian ini bukanlah akhir dari tujuan sebenarnya. Butuh perjuangan bersama di semua segmen agar perempuan Indonesia mampu berkibar di kancah dunia.

Banyak tokoh–tokoh perempuan sebelumnya yang telah memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap bangsa ini, misalnya Kartini, Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Hj. R. Rasuna Said, dan masih banyak lagi yang lain.

R.A. KARTINI dengan keberaniannya memperjuangkan pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan. Cut Nyak Dien ikut terlibat dalam perang mengusir penjajahan dari tanah airnya, sehingga harus meninggal demi kemerdekaan. Sederhananya, tak ada kemerdekaan tanpa perjuangan perempuan.

Esensi dari peringatan Hari Perempuan Dunia ini hakikatnya merupakan penyegaran kembali bahwa perjuangan hak perempuan belum usai. Tentu saat ini perjuangan perempuan tidak hanya pada ranah kenaikan gaji dari yang bekerja di pabrik-pabrik, tetapi sudah meluas pada level kesetaraan gender di seluruh lini kehidupan.

Refleksi momentum hari perempuan sedunia harus memiliki nilai plus bagi perempuan. Penting sekali, misalnya, perempuan mempunyai bergaining politic yang kemudian dapat menentukan sendiri masa depannya.

Memang betul hari ini adalah zaman yang modern, tetapi perilaku terhadap  perempuan masih banyak yang bias, baik dalam sosial, politik, ekonomi. Mereka kerap mendapat perlakuan kekerasan dan pelecehan.

Dalam catatan tahunan Komnas HAM, ditemukan ada sekitar 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan. Umumnya yang terjadi kekerasan di ranah personal dan berupa fisik, seperti KDRT dan kekerasan dalam pacaran. Catatan ini menjadi problem yang perlu dikawal bersama, agar bagaimana kekerasan terhadap perempuan tak terulang lagi.

Kesadaran Politik bagi Perempuan

Sebenarnya, secara hukum, perempuan sudah diberikan kuota 30% yang harus dipenuhi. Angin segar ini tertuang dalam UU No. 8 Tahun 2012 tentang pemilihan umum yang menyediakan ruang bagi perempuan sebanyak 30%. Ketentuan ini untuk menopang agar perempuan mempunyai hak yang sama dalam politik.

Seperti halnya pendapat Karls (1995) bahwa pemberdayaan kaum perempuan merupakan suatu proses kesadaran dan pembentukan kapasitas (capacity building) terhadap partisipasi yang lebih besar di ranah publik. Tentu hal ini perlu ditopang dengan kebijakan publik yang mendukung.

Namun, persoalan kesadaran politik tidak menyeluruh. Hanya segelintir perempuan saja yang menonjol. Tentu masa depan politik perempuan di ranah publik perlu ditingkatkan.

Pertama, yang harus dimulai adalah meningkatkan pendidikan perempuan secara merata. Pendidikan sebagai investasi jangka panjang harus dibangun sebagai panglima perubahan. Pendidikan adalah faktor krusial yang memberikan dampak sosial yang berkelanjutan.

Hari ini, pendidikan bagi perempuan masih belum merata. Masih banyak perempuan yang termarjinalkan. Mereka yang miskin, yang hidup di daerah terpencil dan daerah perbatasan, belum menerima pendidikan yang berkualitas.

Padahal, strategi membangun kesadaran politik adalah dengan menjadikan pendidikan ujung tombak perubahan. Strategi ini dapat dibangun dari pendidikan usia dini dan pendidikan keluarga. Jika pendidikan merata terhadap perempuan, dengan sendirinya kesadaran berpolitik akan tumbuh.

Kedua, menciptakan perempuan mandiri. Selama ini perempuan hanya tergantung kepada laki-laki, sehingga tidak dapat keluar dari persoalan dasar, yakni terbatasnya kapasitas dirinya. Minimnya perempuan yang memiliki skill membuat kesadaran politik masih belum terbangun.

Perlu dukungan dari berbagai elemen, termasuk perempuan itu sendiri, agar dapat meningkatkan kemampuan diri tanpa perlu terkekang oleh norma-norma etik yang tak adil. Perempuan hari ini harus mulai sadar bahwa dirinya punya harga diri yang sama dengan perempuan lain. Kesempatan itu sangat terbuka lebar untuk memperjuangkan nilai-nilai ke-egaliter-an.

Yang terakhir adalah perempuan harus berani tampil di ruang publik. Kuncinya adalah keberanian perempuan mengisi ruang publik dan tidak ragu bersaing secara kompetitif dengan laki-laki. Sebab betapa hambar semisal bila ruang dan kesempatan telah diberikan, namun mental keberanian perempuan masih belum terbangun.

Ruang publik juga harus banyak diisi oleh perempuan agar optimalisasi kemampuan perempuan cepat terserap. Saatnya perempuan menjadi peyeimbang perubahan. Sebab bagaimanapun, hak perempuan untuk punya peran yang krusial dalam kehidupan dunia. Perempuan adalah fondasi dari sebuah negara.

Momentun peringatan hari perempuan sedunia ini harus menjadi semangat perubahan bersama untuk menumbuhkan kesadaraan perempuan dalam membangun kesadaran politiknya. Membangun perempuan yang sadar akan politik adalah tugas bersama. Selain itu, perempuan dituntut pula agar terus belajar memperbaiki diri guna menjadi bagian dari perubahan dan pembaharuan sebuah bangsa.

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Alan Akim (see all)