Merawat Hak Perempuan

Merawat Hak Perempuan
©Shutterstock

Esensi dari peringatan Hari Perempuan Dunia ini hakikatnya merupakan penyegaran kembali bahwa perjuangan hak perempuan belum usai.

Hari Perempuan Internasional sudah kita peringati tepat 8 Maret 2017. Momentum bersejarah dengan alasannya tersendiri selalu saja penting untuk kita peringati, setidaknya agar dapat mengambil pelajaran dari masa lalu.

Bila antusiasme perempuan Indonesia begitu heroik memperingati hari itu, secara definitif paradigma perempuan Indonesia sudah memiliki perubahan yang luar biasa. Itu tidak lain dari jauh sebelum hari ini perempuan di Indonesia masih berkonotasi domestik, yakni dapur, sumur, kasur.

Namun pelan–pelan hak perempuan sudah mengalami perubahan, baik di sektor sosial, politik, pendidikan ataupun sektor lainnya. Tentu capaian ini bukanlah akhir dari tujuan sebenarnya. Butuh perjuangan bersama di semua segmen agar perempuan Indonesia mampu berkibar di kancah dunia.

Banyak tokoh perempuan sebelumnya yang telah memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap bangsa ini. Sebut saja misalnya Kartini, Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Hj. R. Rasuna Said, dan masih banyak lagi yang lain.

Kartini dengan keberaniannya memperjuangkan pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan. Cut Nyak Dien ikut terlibat dalam perang mengusir penjajahan dari tanah airnya, sehingga harus meninggal demi kemerdekaan. Sederhananya, tak ada kemerdekaan tanpa perjuangan perempuan.

Esensi dari peringatan Hari Perempuan Dunia ini hakikatnya merupakan penyegaran kembali bahwa perjuangan hak perempuan belum usai. Tentu saat ini perjuangan perempuan tidak hanya pada ranah kenaikan gaji dari yang bekerja di pabrik-pabrik, tetapi sudah meluas pada level kesetaraan gender di seluruh lini kehidupan.

Refleksi momentum hari perempuan sedunia harus memiliki nilai plus bagi perempuan. Penting sekali, misalnya, perempuan mempunyai bergaining politic yang kemudian dapat menentukan sendiri masa depannya.

Memang betul hari ini adalah zaman yang modern, tetapi perilaku terhadap perempuan masih banyak yang bias. Baik dalam sosial, politik, maupun ekonomi, mereka kerap mendapat perlakuan kekerasan dan pelecehan.

Baca juga:

Dalam catatan tahunan Komnas HAM, ada sekitar 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan. Umumnya yang terjadi kekerasan di ranah personal dan berupa fisik, seperti KDRT dan kekerasan dalam pacaran.

Catatan ini menjadi problem yang perlu kita kawal bersama, agar bagaimana kekerasan terhadap perempuan tak terulang lagi.

Kesadaran Politik bagi Perempuan

Sebenarnya, secara hukum, perempuan sudah memiliki kuota 30 persen yang harus terpenuhi. Angin segar ini tertuang dalam UU No. 8 Tahun 2012 tentang pemilihan umum yang menyediakan ruang bagi perempuan sebanyak 30 persen. Ketentuan ini untuk menopang agar perempuan mempunyai hak yang sama dalam politik.

Seperti halnya pendapat Karls (1995) bahwa pemberdayaan kaum perempuan merupakan suatu proses kesadaran dan pembentukan kapasitas (capacity building) terhadap partisipasi yang lebih besar di ranah publik. Tentu kebijakan publik yang mendukung perlu menopang hal ini.

Namun persoalan kesadaran politik tidak menyeluruh. Hanya segelintir perempuan saja yang menonjol. Karena itu, masa depan politik perempuan di ranah publik perlu kita tingkatkan.

Pertama, yang harus kita mulai adalah meningkatkan pendidikan perempuan secara merata. Pendidikan sebagai investasi jangka panjang harus terbangun sebagai panglima perubahan. Pendidikan adalah faktor krusial yang memberikan dampak sosial yang berkelanjutan.

Hari ini, pendidikan bagi perempuan masih belum merata. Masih banyak perempuan yang termarjinalkan. Mereka yang miskin, yang hidup di daerah terpencil dan daerah perbatasan, belum menerima pendidikan yang berkualitas.

Padahal strategi membangun kesadaran politik adalah dengan menjadikan pendidikan ujung tombak perubahan. Strategi ini dapat kita bangun dari pendidikan usia dini dan pendidikan keluarga. Jika pendidikan merata terhadap perempuan, dengan sendirinya kesadaran berpolitik akan tumbuh.

Halaman selanjutnya >>>
Alan Akim
Latest posts by Alan Akim (see all)