Merawat Kebinekaan, Menekan Ego Meninggikan Persatuan

Merawat Kebinekaan, Menekan Ego Meninggikan Persatuan
©Nusabali

Mari merawat kebinekaan.

Negara ini, dengan berbagai keberagaman, seakan menjadi bom waktu yang kapan saja bisa meledak dan menghancurkan seluruh tatanan kehidupan sosial. Agar bom ini tidak meledak, untuk mengantisipasi semua ini, harus ada kesadaran setiap individu maupun kelompok agar tidak memantik timbulnya perpecahan di kalangan anak bangsa.

Di saat yang bersamaan, saya melihat grup WhatsApp begitu ramai sedang membicarakan kejadian di Kota Kendari yang sedang terjadi bentrokan antara dua kelompok pemuda. Sebagai anak Kendari, informasi tersebut tentunya mengkhawatirkan saya sekaligus sedih dengan keadaan daerah yang begitu saya cintai.

Kejadian bentrokan tersebut bukan pertama kalinya terjadi di Kendari apalagi Indonesia. Di negara yang begitu beragam ini, tentunya gampang diadu domba dengan berbagai isu, di antaranya isu SARA.

Selain itu, kesalahpahaman dan tindakan yang dilakukan oleh oknum sering menjadi pemicu terjadinya konflik horizontal tersebut. Sebut saja kasus konflik Sampit di Kalimantan, konflik Ambon di Maluku, konflik Poso di Sulawesi Tengah, konflik Tolikara, bahkan kemarin yang terbaru adanya perusakan rumah ibadah dan masih banyak lagi kejadian yang karena hanya persoalan sepele dan merupakan perpecahan karena masalah pribadi yang kemudian berimbas kepada konflik sosial yang berkepanjangan.

Di Kendari dan Sulawesi Tenggara pada umumnya sudah beberapa kali terjadi konflik yang juga disebabkan karena persoalan pribadi, yang kemudian merembet kepada antar-kelompok. Tentunya hal demikian menjadi tugas kita untuk selalu menjaga dan memberikan edukasi kepada masyarakat agar jangan mudah terprovokasi dan termakan isu yang tidak jelas sumbernya.

Belajar dari Sejarah

Mendengar dan melihat video yang dikirim melalui grup WhatsApp, nalar saya ke mana-mana melihat kejadian dua kelompok di Kendari yang akan saling bentrok. Tentunya saya dan masyarakat pada umumnya tidak menginginkan jika konflik yang sudah pernah terjadi kembali dihidupkan.

Jika kita membaca sejarah kejadian di Ambon, Maluku bagaimana dampak sosial ekonomi, politik, dan budaya, sampai berujung kepada terjadinya inflasi keuangan negara. Ribuan orang mengungsi, anak dan orang tua terpisah, mayat di mana-mana. Bagaimana kejadian Sampit di Kalimantan konflik yang kemudian berujung kepada bentroknya antar-etnis ini menimbulkan banyak korban. Yang pada awalnya ini karena selisih paham antar-dua pemuda. Karena masyarakat kita kebanyakan tidak menyaring informasi terlebih dahulu, maka meledaklah bentrok tersebut.

Indonesia dengan banyaknya etnis, agama, budaya, dan kehidupan sosial menjadi sangat mudah untuk diadu domba. Sebab jika sudah berkaitan dengan etnis dan agama, semua orang akan rela mati untuk mempertahankan martabat dan harga diri masing-masing.

Sejarah itu menjadi sisi gelap kehidupan sosial bangsa ini, yang pastinya akan selalu menghantui pikiran para keluarga korban. Maka pada dasarnya, sebagai generasi muda, yang perlu kita jadikan sebagai pelajaran ialah bagaimana bersikap dewasa dalam menyikapi segala kejadian yang ada. Kita perlu melihat kejadian yang sudah-sudah, apakah dengan kejadian tersebut kita akan mampu kembali kepada kehidupan yang biasa? Kita akan selalu dihantui dengan kejadian tersebut.

Bagaimana seorang sahabat saya sewaktu kuliah dulu di IAIN Kendari, yang menceritakan ia merupakan anak korban konflik di Ambon yang meninggalkan Maluku untuk mengungsi di pulau Wakatobi. Mereka sekeluarga harus terlunta-lunta di lautan dan hidup di daerah orang karena akibat konflik tersebut. Apakah daerah kita harus seperti yang lain, menerima hukuman sosial akaibat terjadinya konflik?

Solusi dari Semua Masalah

Tentunya ini berkaitan juga dengan kebijakan pemerintah. Pertama, tarkait dengan perekonomian di masa pandemi ini, kebijakan ekonomi yang diambil dipandang merugikan banyak pengusaha kecil. Tentunya untuk bisa menyambung hidup sehari-hari mereka harus mencari pekerjaan lain yang bisa menghasilkan uang untuk keperluan hidup.

Baca juga:

Kedua, ketersediaan lapangan kerja yang bisa merekrut banyak karyawan dengan tidak mempersulit dengan persyaratan. Ketiga, pendidikan menjadi penting sebab perilaku seseorang akan berubah jika taraf pendidikan keluarga dan di sekitar lingkungannya juga membaik.

Di tengah kehidupan post-truth ini, di mana informasi yang benar dianggap salah dan begitu pun sebaliknya, menjadi pemicu terjadinya konflik horizontal di masyarakat. Bagaimana kita berkaca kepada konflik yang dulu-dulu disebabkan berita yang tidak jelas?

Saya pikir ketiga aspek itu saling berkelindang. Namun pada dasarnya untuk menjaga kelestarian kehidupan sosial kita, maka perlu adanya kesadaran diri bagi setiap masyarakat. Dan peran masyarakat yang lain juga perlu memberikan kesadaran kepada yang belum sadar. Yang intinya ialah, merawat kebinekaan dengan menekan ego dan meninggikan persatuan.

Asman