Merawat Keragaman

Merawat Keragaman
©Youthmanual

Hukum hanya dibuat untuk memastikan kesepahaman bersama, membuat peraturan-peraturan yang dapat menjaga keseimbangan, dan merawat keragaman individu.

Jika Anda membenci seseorang atau kelompok tertentu, sudah pasti Anda tidak hanya berurusan dengan perasan benci dalam diri Anda sendiri. Tetapi, kelompok Anda juga akan mendapat imbas dari persepsi dan emosi negatif yang muncul akibat Anda tak mampu mengendalikannya.

Identitas kebencian itu selalu sama. Ia berdampak negatif yang bentuk konkretnya memiliki daya rusak dan memberontak.

Seandainya ruang lingkup kebencian itu subjektif, dalam diri Anda sendiri, mestinya tak ada seorang pun yang akan mendapat imbasnya. Tetapi, faktanya, subjektivitas kita secara langsung atau tidak merupakan bentuk identitas kultural bahkan politik.

Dalam rasio kebudayaan, ini merupakan bentuk endapan dari pikiran-pikiran yang mencair begitu ia berbaur dengan masyarakat. Jika rasa kebencian itu meluap, maka pikiran itu akan pecah dan berimbas pada identitas kultural.

Karakter kebudayaan itu selalu kolektif. Ia bersifat melingkupi. Tetapi, ada cara kerja sendiri-sendiri di mana kebudayaan dapat hidup dalam suatu komunitas tertentu tanpa ada hubungan dialektis dengan komunitas yang lain.

Betapa pun kompleksnya keragaman budaya dalam masyarakat, ia pada dasarnya tak terhubung satu sama lain. Misalnya, budaya Jawa tak ada hubungan langsung dengan Sunda, Madura, atau bahkan Bali. Tetapi, semua itu akan terhubung ketika muncul kekuatan dari luar yang bersifat menghimpun, menyatukan, dan menciptakan suasana keragaman dalam perbedaan.

Dalam rasio objektif, keragaman memiliki makna fungsionalnya ketika ada perbedaan. Jika Anda berbeda dengan saya, maka seketika itu Anda bukan saya dan saya bukan Anda.

Anda tak akan pernah menjadi saya, sebab kita berbeda dan kita tak menginginkan menjadi sama dalam ruang dan waktu tertentu. Perbedaan itu seakan abadi untuk menentukan kepastian akan identitas kultural yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan benar dan salah. Itulah perbedaan. Ia tak menginginkan menjadi sesuatu yang lain selain dirinya sendiri.

Baca juga:

Ini baru pada tataran identitas kultural, di mana pikiran-pikiran kolektif berusaha menjaga dan memastikan bahwa memang demikianlah kebenarannya. Saya tak pernah menginginkan menjadi Arab sebab saya Jawa, dan mungkin Anda juga demikian.

Tetapi harus kita akui bahwa identitas kultural itu bersifat lentur. Ia sangat cair betapa pun ia muncul dari pikiran manusia yang mengendap dalam ruang sejarah yang begitu panjang.

Sekarang, mari kita melihat perbedaan-perbedaan lain di luar identitas kultur yang sejak lahir menjadi bagian dari hidup dan menghidupi kita. Perbedaan yang paling mencolok dalam diri manusia adalah sikap subjektivitas absolut yang tak pernah mampu terenggut oleh identitas kolektif seperti sudut pandang, keputusan-keputusan yang diambil, dan perbedaan dalam memecahkan suatu masalah. Ini contoh kecil.

Politik, dalam beberapa bentuknya, meracuni pikiran-pikiran manusia ketika ia digunakan dengan cara-cara yang keliru. Politik itu agung. Ia tak hanya mampu membaca dunia atau memahaminya, tetapi ia mampu mengubahnya.

Ia dapat mengubah apa pun dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Sebab politik berhubungan langsung dengan kekuasaan. Selain itu, tidak, meskipun ada kecenderungan untuk mengarah pada kekuasaan sampai pada perubahan, seperti pengetahuan dan kebudayaan, tentunya.

Sebagai makhluk sosial, kita tak pernah bisa hidup rukun tanpa dapat mengendalikan ketajaman perbedaan kita dengan yang lain. Pengendalian itu merawat. Anda boleh saja tidak suka dengan identitas tertentu di luar diri Anda, tetapi Anda tak akan mampu menolak bahwa perbedaan-perbedaan itu saling merawat keragaman satu sama lain tanpa ada motif saling menguasai atau mengendalikan.

Umumnya, motif kekuasaan itu muncul ketika sudah terjalin harmonisasi pemikiran di tingkat keragaman. Tujuannya hanya satu, agar setiap aspirasi dapat terlaksana secara bersama-sama tanpa ada yang rugi dan hanya berpihak pada satu kelompok tertentu.

Misalnya, setiap identitas kultural tertentu pasti memiliki kriteria dalam melihat mana yang baik dan mana yang buruk. Hukum tercipta, lalu masuk ke semua lini kehidupan kita dengan tidak selalu melihat bentuk baik dan buruk yang kita yakini.

Halaman selanjutnya >>>
Rohmatul Izad
Latest posts by Rohmatul Izad (see all)