Merdeka dari Keserakahan

Merdeka dari Keserakahan
Ilustrasi: Nasional Kompas

Tidak sedikit orang yang menderita, melarat, dan kelaparan karena keserakahan.

Umat Islam sukses mengalahkan orang-orang non-Muslim dalam perang Badar. Rasulullah kemudian bersabda: Marḥaban Bikum Qaddamtum min Jihâd al-Aṣgar ilâ al-Jihâd al-Akbar. Qîla, “Yâ Rasûlallâh, wa Mâ al-Jihâd al-Akbar”. Qâla, “Jihâd an-Nafs” (selamat datang, kalian telah melaksanakan jihad kecil menuju jihad besar. Sahabat bertanya, “apa jihad besar itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “yaitu jihad melawan hawa nafsu”). Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Gazâlî dalam Iḥyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn (III: 64).

Dalam konteks Indonesia, Bung Karno, Sang Proklamator, mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia sebagai negara yang berdaulat. Ia pernah berkata, “perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah; perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.

Dengan kata lain, terusirnya tentara Belanda dan Jepang yang menjajah bumi Nusantara bukan berarti akhir dari sebuah penjajahan. Tetapi merupakan awal dari lahirnya penjajahan baru yang dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri. Penjajahan yang dilakukan tanpa menggunakan senjata dan peperangan. Tetapi menggunakan uang dan kekuasaan, baik dilakukan dengan sesama anak bangsa maupun bekerja sama dengan bangsa asing.

Salah satu penjajah yang sangat berbahaya bagi kehidupan manusia dan sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah orang-orang serakah. Ia akan menghalalkan segala cara untuk memenuhi hasrat keserakahannya. Seperti kapitalis, koruptor, dan semacamnya. Sebab hal ini akan merusak dan menghancurkan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bahkan Goenawan Muhammad mengkritik keras tingkah laku Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Ia mencela mereka yang meminta anggaran sebesar 7,25 triliun untuk pembangunan Gedung DPR karena dianggap serakah dan tidak tahu malu.

Dalam realitasnya, tidak sedikit orang yang menderita, melarat, dan kelaparan karena keserakahan. Tidak sedikit orang yang tersakiti, tertindas, dan terabaikan hak-haknya karena keserakahan. Tidak sedikit kerusakan laut dan hutan serta binatang musnah secara sia-sia karena keserakahan.

Apakah keserakahan itu dilakukan oleh kaum kapitalis, koruptor, politisi, ataupun pejabat negara sebenarnya sama saja. Karena hakikatnya, siapa saja yang serakah, dialah penjajah yang akan menghancurkan kehidupan! Sehingga harus dicegah dan dilawan semaksimal mungkin.

Menjelang 73 tahun Indonesia merdeka, kemakmuran yang dicita-citakan oleh founding fathers masih belum tercapai. Mengingat masalah kemiskinan masih menjadi fenomena umum yang mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia.

Meskipun BPS (Badan Pusat Statistik) melaporkan angka kemiskinan menurun pada bulan Maret 2018. Dan, dikatakan terendah sejak krisis moneter 1998. Tetapi bukan berarti masalah kemiskinan di Indonesia sudah selesai. BPS mencatat masih terdapat 25,95 juta orang atau rakyat Indonesia yang berada dalam kemiskinan.

Kalau melihat 25 ribu suporter yang menyaksikan final Piala AFF U-16 2018 antara Timnas Indonesia Vs Thailand di Stadion Gelora Delta Sidoarjo saja membuat mata terbelalak tidak berkedip. Apalagi melihat kumpulan orang miskin di seluruh Indonesia yang berjumlah 25,95 juta. Padahal Rhoma Irama menyebutkan dalam lagunya yang berjudul “Indonesia”, Indonesia merupakan negara subur dan kaya raya. Menurut Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 ayat (3), seluruh kekayaan negara tidak lain hanyalah untuk kemakmuran dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Hal ini sejalan dengan salah satu tujuan Indonesia setelah merdeka. Yaitu, untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana disebutkan dalam Pembukaan UUD 1945.

Mahabenar Allah yang berfirman, “telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia (ar-Rûm: 41)”. Imam al-Gazâlî mengatakan dalam Iḥyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn (III: 77). Bahwa yang paling menghancurkan terhadap kehidupan manusia adalah syahwat perut, baik syahwat seksual, makan maupun nikah. Hal ini akan membawa manusia kepada cinta harta dan pangkat—sebagai modal utama untuk mendapatkan syahwat seksual dan makan.

Dengan demikian, maka cara apa pun akan dilakukan untuk mendapatkan harta dan pangkat. Karena memang tidak sedikit orang yang terlena dan terbuai dengan kemewahan dunia dan hidup megah. Sehingga lalai terhadap aturan-aturan Tuhan yang telah ditetapkan sebagaimana disinggung dalam Alquran (at-Takâśur: 1).

Oleh karena itu, sebagai anak bangsa, kita memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan cita-cita dan merawat kemerdekaan Indonesia. Maka terlebih dahulu kita harus merdeka dari keserakahan, baik dari diri sendiri maupun dari orang lain. Sehingga Indonesia Kerja Bersama yang diusung oleh pemerintahan Jokowi dapat dijalankan dengan baik.

Kemerdekaan yang kita rasakan saat ini merupakan hasil perjuangan keras para pendiri bangsa. Mereka telah berhasil mengenyampingkan egonya masing-masing demi kepentingan dan kemaslahatan bangsa Indonesia.

Pendek kata, apa pun cara pemerintah untuk menyejahterakan dan memakmurkan seluruh rakyat Indonesia tidak akan berjalan lancar atau bahkan tidak akan berjalan sama sekali apabila orang-orang serakah masih bebas berkeliaran. Meminjam istilah Rhoma Irama dalam lagu Indonesia, selama korupsi masih menjadi-jadi, maka pemerataan dan kemakmuran hanyalah menjadi mimpi indah yang tidak akan pernah terwujud.

Bahkan menurut Mahfud MD, negara bisa hancur dan mati karena keserakahan koruptor—sebagai pemangsa buas (drakula) yang akan menghabisi seluruh “darah” (uang) negara . Tak salah kalau kemerdekaan Indonesia ini, menurut Agustanjil Sjahroezah (cucu Haji Agus Salim), hanya sebatas fisik saja dan belum berdaulat secara penuh.

_____________

Baca juga:
    Latest posts by Nasrullah Ainul Yaqin (see all)