Merdeka: Menjadi Diri yang Benar-Benar Sendiri

Merdeka: Menjadi Diri yang Benar-Benar Sendiri
©Genius

Merdeka berarti menjadi diri yang sendiri.

Era digital mengeliminasi autentisitas. Identitas subjek menjadi anonim. Globalisasi meluaskan propaganda westernisasi. Yang aktual ialah anonimitas. Dia bukan timur, bukan barat. Dia ada sekaligus tidak ada. Dia dekat tetapi jauh. Dia beralih dari homo sapiens ke homo digitalis (Hardiman, 2021). Satu-satunya yang dia punya ialah “klik”. Klik adalah ego seorang manusia digital (homo digitalis). Aku klik, maka aku ada – I click, therefore I am (premo ergo sum).

Namun sebetulnya klik juga menegaskan bahwa keberadaanku adalah ketiadaanku. Klik mematikan abstraksi, mendangkalkan imajinasi. Klik membelenggu subjektivitasku. Pada posisi ini aku menjadi tidak bebas. Aku tidak menjadi diri sendiri. Aku dikendalikan oleh teknologi informasi komunikasi.

Contohnya, ke mana-mana aku membawa HP. Di mana aku ada di situ HP ada. Bangun pagi langsung menengok HP. Pesan apa pagi ini dari kekasih. Jari-jemari seperti terkoneksi cukup akurat sehingga tanpa disadari bergegas mengutak-atik HP. Bahkan intensionalitas pun terarah terus-menerus ke HP.

HP adalah rumah baru yang home-nya lebih menjanjikan daripada famili dan tegur sapa kasih sayang. Jika sudah punya android, dunia ini sudah milikmu. IQ peradaban ada di dalam smartphone. Ilmu pengatahuan apa saja bisa kamu dapatkan dengan mengklik. Surga yang absurd pun jadi konkret dan bisa diakses. Totalitas keinginan dan cita-citamu bisa kamu jangkaui dengan begitu akrab lewat WWW (World Wide Web).

Di dalam jaringan (online), kamu dideterminasi. Kamu bukan lagi penjelejah kritis, tapi penikmat yang dependen. Kamu adalah subjek terikat yang dikontrol oleh data. Kamu adalah seorang pencandu. Pencandu informasi. Pencandu hoaks. Pencandu pornografi. Pencandu pesan WhatsApp.

Pencandu adalah orang yang tidak merdeka. Dia juga tidak bisa memerdekakan diri. Tak jelas individualitasnya. Ia hanyut di dalam artifisialitas. Tidak sanggup mandiri dan otonom. Hari-hari dilewatkan dengan berselancar di jagat maya.

Komunitas virtual (virtual community) adalah rumah baru tempat ia menemukan apa yang tidak pernah diberikan oleh orang tua atau sahabat dekatnya. Di rumah itu ia bergabung dengan banyak orang yang mengembara dalam dunia maya (netter). Ia bisa berbisnis (e-commerce), belajar (e-learning), mengakses bacaan (e-library), bertransaksi (e-banking), dan mencuri (cybercrime) tanpa harus terlibat secara langsung di lapangan.

Kehadiran konkret rupanya makin mungkin diabaikan. Kita hidup di era di mana perjumpaan sosial dan tegur sapa persaudaran hampir dilupakan. Saling menatap antarmata tak seindah pandangan pertama yang selalu dirindukan terjadi lagi. Sebab bukan lagi komunikasi korporeal, tapi komunikasi digital.

Kehadiran hari ini adalah kehadiran digital, telepresensi. Kita asyik menyapa dan saling menatap via video call atau via zoom, tapi enggan bertemu langsung sebab berselancar di WWW lebih memuaskan daripada silaturahmi langsung. Kita benar-benar kehilangan. Satu-satunya yang tinggal ialah nothingness. Lalu kita berpikir ulang tentang being baru di suatu dunia yang sama sekali tidak empiris (digital state of nature).

Kemerdekan sebagai individu yang otonom, kesadaran eksistensial, dan independensi di dalam hidup mesti diraih kembali. Digitalisasi membatasi kebebasan. Ia memberikan otomatisasi. Menyediakan jawaban-jawaban. Kemungkinan-kemungkinan di dalam hidup hampir terselesaikan.

Baca juga:

Klik adalah solusi. Seperti membuka kotak pandora segala yang terlarang lumrah tersebar. Kita butuh heuristika diri yang serius. Menilik diri secara mendalam lewat refleksi filosofis supaya menjadi aku yang autentik. Aku yang tidak terikat oleh apa pun atau siapa pun.

Belajar dari Chairil: Memerdekakan Diri Sendiri

Chairil Anwar, si binatang jalang, tak pernah mau dibelenggu oleh relasi sosial atau hubungan asmara. Ia adalah individu yang MERDEKA – “aku mau bebas dari segala/merdeka/juga dari Ida”. Ia tak peduli pada waktu dan siapa yang mengakrabkan waktu itu – “kalau sampai waktuku/’ku mau tak seorang ‘kan merayu/tidak juga kau/tak perlu sedu sedan itu”. Maka orang dekatnya merasa SIA-SIA sebab Chairil tak mau berbagi – “Ah! Hatiku tak mau berbagi/mampus kau dikoyak-koyak sepi”, bahkan lebih sadis lagi – “sedang di depan cermin aku enggan berbagi”.

Chairil mengafirmasi personalitasnya dan memantapkan apa yang dalam wacana eksistensialisme Sartre disebut “autentisitas”. Chairil mau menjadi siapa dirinya, seorang individu autentik (an authentic person) yang punya otonomi diri, vitalitas personal, dan progresivitas.

Pada suasana ini Chairil sama seperti Sartre, sama-sama menyatakan “ya” atas kebebasan dan menjunjung tinggi eksistensi sebagai “aku” (freedom is identical with my existence. I exist my body). Sartre menolak yang lain (hell is the other people). Pada akhirnya yang tinggal adalah aku seorang diri (l experience the other as “far” from me and my self as “alone”) atau Chairil menyebut “nasib adalah kesunyian masing-masing”. Iya, kita juga mesti MERDEKA dan mau menjadi DIRI yang benar-benar SENDIRI.

Chairil menegaskan dirinya sebagai manusia merdeka. Ia membuktikan subjektivitasnya bahwa ia berada di dalam partikularitasnya. Aku ini binatang jalang/dari kumpuluan yang terbuang.  Aku tetap terus berjuang mengembangkan individualitas dan dengan itu mencapai vitalitas diri sebagai seorang pencinta kehidupan. Biar peluru derita terus menembus kulit, luka itu terus dibawa berlari kepada kesembuhan supaya hidup menjadi lestari. Aku adalah seorang biofil sejati yang ingin menumbuhkembangkan hidup. Aku menginginkan hidup, bahkan hidup seribu tahun lagi.

Chairil berani menunjukkan dirinya yang autentik. Diri itu ia peroleh di dalam kesendirian dan kesunyian asali yang menyediakan kecemasan dan absurditas, tetapi bisa memberi peluang bagi usaha memantapkan dan memantaskan diri menjadi “aku” sejati, menjadi diri (self) yang tidak dibelenggu oleh keadaan. Ia berani memberontak terhadap kehidupan dan bertumbuh di dalam sikap indepedensi yang radikal. Kalau sampai waktuku/‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu/Tidak juga kau/Tak perlu sedu sedan itu.

Kita belajar dari Chairil untuk memerdekakan diri. Hidup dengan cita-cita perjuangan untuk melawan arus informasi yang tidak mendidik. Melawan penyakit modern: kecanduan pada gadget. Sebagai seniman, Chairil menegaskan bahwa ia harus mempunyai ketajaman dan ketegasan dalam menimbang serta memutus (Jassin, 1985:133). Sikap ini hendaknya dimiliki juga oleh kita sebagai konsumen teknologi.

Menimbang dan memutuskan merupakan kecapakan yang lahir dari refleksi dan kritisisme. Afirmasi rasionalisme Rene Descartes clara et distincta harus jadi model berpikir kita. Dengan ini kita bisa terhindar dari kecanduan era digital. Kita tidak boleh menerima begitu saja apa yang disediakan oleh internet. Segala sesuatu harus disangsikan karena tidak semua pengalaman apa adanya, benar begitu saja, tetapi perlu dipikirkan terus-menerus, dijustifikasi, ditelaah untuk menemukan dasar yang menjadi kepastian mutlak.

Hidup kita harus punya tata bahasa sendiri. Kosakata kita itulah rasionalitas kita. Kita mesti mandiri di dalam berpikir untuk merayakan hidup yang merdeka. Kemerdekaan yang kita punya ialah kemerdekaan berpikir. Berpikir menyelamatkan kita dari kesesatan. Dialektika tetap krusial di tengah kekacauan identitas manusia era digital. Dari seniman kita belajar tentang individualisme sebagai cita-cita kepribadian.

Subagio Sastrowardoyo dalam kata pembukaan pada Temu Sastrawan 6-8 Desember 1982 di TIM menegaskan bahwa individualisme seniman dan sastrawan adalah individualisme seorang lone fighter, seorang pejuang tunggal yang hendak menangkap makna, dan mengatur langkah hidup ini, seorang diri. Otonomi individualisme ialah kemandirian di dalam berpikir untuk menentukan cita-cita individual. Aforisme pencerahan oleh Kant – sapere aude – berani berpikir mandiri penting digaungkan kembali di era di mana informasi menguasi kita. Kita diarahkan oleh teknologi informasi komunikasi. Kita seperti budak teknologi.

Baca juga:

Individualisme menghadapi dengan kritis digitalisasi dan otomatisasi. Individu hidup dengan kemerdekaannya sendiri. Merdeka berarti menjadi diri yang sendiri. Diri yang tidak dibelenggu oleh teknologi informasi komunikasi. Jadi cogito ergo sum (Descartes) tetap penting untuk memaksimalkan premo ergo sum.

Apa pun peralihan itu, dari homo sapiens ke homo digitalis atau apa pun wacana antropologi manusia, tetap saja tujuan atau kemungkinan ultim tak pernah final direngkuh. Manusia terus-menerus mencari kebenaran.

\Nietzsche dalam Sabda Zarathrustra menyebut bahwa manusia adalah tali yang terentang di antara binatang dan Übermensch. Manusia itu jembatan, bukan tujuan, ia hanya awal saja dan bukan tujuan akhir segalanya. Kierkegaard juga menyebut bahwa manusia adalah sintesis antara ketakterbatasan dan keterbatasan, kefanaan dan keabadian, kebebasan dan keniscayaan.

Entah sebagai tali yang terentang atau sebagai sintesis, manusia tetap mahkluk yang paradoksal. Merefleksikan yang paradoksal tidak bisa tidak tanpa cogito ergo sum. Premo ergo sum adalah jalan baru di mana rasionalitas harus memikul beban yang lebih berat untuk sampai tujuan.

    Edy Soge
    Latest posts by Edy Soge (see all)