Merekalah yang Membawamu ke Puncak

Merekalah yang Membawamu ke Puncak
©Amazon

Jadi, menulislah dengan darah, sehingga akan kamu dapati bahwa darah adalah roh.

Begitu sabda Zarathustra dalam sebuah perjalanannya mencapai manusia unggul. Roh itu berkaitan dengan spirit dan jiwa. Tulisan yang ditulis dengan roh akan ditangkap juga dengan roh. Tulisan bukan perihal yang sepele. Di dalamnya ada roh yang berjalin-kelindan.

Jika perihal menulis, maka sudah tentu akarnya adalah membaca. Membaca dan menulis adalah pekerjaan yang tidak dapat dipisahkan. Satu memengaruhi yang lain, dan satu meniadakan yang lain. Penulis ulung lahir dari orang yang gila akan bacaan. Tulisan selalu dimulai dari bacaan; langkah tersebut paralel.

Jadi menulis dengan darah—kita dapati bahwa darah itu adalah roh—dimulai dari membaca dengan roh. Bacaan yang ditulis dengan roh dan kita membaca dengan roh adalah cara kita memandang bahwa bacaan bukan hanya ingin dipelajari melainkan juga diresapkan. Ketika kita membaca dengan roh, ia selalu menuntut kita untuk meresapinya. Ia tidak ingin kita berpaling darinya—bacaan yang kita baca dengan roh.

Roh itu perlu untuk kita dapat menangkap yang terdalam dari isi bacaan. Membaca bukan sekadar membaca. Ia adalah perjalanan roh. Ia berjalin-kelindan dengan tulisan yang juga ditulis dengan roh. Sebuah persekutuan antara roh.

Menangkap Tulisan dengan Roh Bukan Perkara Mudah

Aku sendiri pada bulan-bulan ini sedang sukar untuk menangkap tulisan yang ditulis dengan roh—bukannya aku tidak membaca dengan roh, melainkan pikiranku sedang dikacaukan oleh hal-hal eksternal, yaitu kondisi yang begitu runyam akibat pandemi.

Pandemi ini juga barangkali dinarasikan dengan roh. Sehingga ada pertempuran juga dari roh-roh tersebut, antara bacaan yang aku baca dengan roh-roh lain yang sering menganggu konsentrasi dan pikiranku terhadap bacaanku.

Belum lagi aku harus selalu berada di rumah, tidak bertemu dengan jiwa-jiwa temanku yang terkadang menjadi suntikan terhadap rohku. Kita hanya bertegur sapa melalui media sosial untuk menanyakan, bagaimana keadaanmu? Apa rutinitas harianmu? Sebuah pertanyaan formal yang bertujuan mengusir kebosanan, yakni dengan menanyakan rutinitas dan keadaan. Padahal mungkin temanku juga sama-sama bosan denganku sehingga menjawab pertanyaan formalku dengan kembali bertanya kepadaku.

Ah, sudahlah.  Tetapi pada intinya aku sangat merindukan pertukaran roh, yakni jiwa mereka yang sudah mendapat roh dari tulisan, dengan jiwaku yang mendapat roh dari tulisan yang kubaca. Ada hal yang membuat gairahku bertambah.

Menuju Gunung

KemudianZarathustra melanjutkan sabdanya. Namun kali ini dia bertanya dengan jiwanya. Jiwanya pun memberi jawab kepada Zarathustra, “Hidup ini sungguh berat, namun buat apa kamu berbangga di pagi hari dan tak melakukan perlawanan di malam hari?”

Ia yang ingin menuju puncak-puncak gunung tertinggi menertawakan tragedi, baik yang nyata maupun diangankan. Begitu kata Zarathusra kepada jiwanya.

Membaca dengan roh dan menuliskannya dengan roh adalah meresapi setiap bacaan sebagai bekal menuju puncak tertinggi. Orang yang ingin menuju puncak-puncak gunung tertinggi sering tertawa terhadap pengalaman hidupnya.

Ada pepatah bilang bahwa jatuh-bangun menuju puncak adalah bumbu hidup. Entah bumbu hidup itu seberapa takarannya sehingga menciptakan masakan yang lezat dan bergizi nantinya. Yang jelas membaca dengan roh dan menuliskannya adalah bumbu utamanya.

Roh dapat menuntun supaya percaya bahwa mereka adalah tujuan dari segala sesuatu. Tentu itu adalah tangga  menuju puncak-puncak gunung. Tidak tahu tangganya setinggi apa. Namun yang jelas, tangga itu cukup kuat untuk membawa kita sampai ke puncak gunung yang penuh dengan angin.

Saat di puncak angin jelas terasa lebih kencang, kita dapat tertawa sambil melihat ke bawah. Suatu kegiatan yang hanya dapat dilakukan ketika di puncak. Sangat mendatangkan sukacita bagi kita yang bisa sampai ke puncak. Tiupan angin ini akan menjatuhkan kita jika kita tidak selalu berhati-hati, namun keberuntungannya bahwa kaki kita sudah lumayan kuat karena perjalanan kita menuju titik ini.

Kemudian Zarathusra berkata lagi dalam sabdanya, “Aku telah belajar berjalan, sejak itu aku tak perlu didorong untuk bergerak, aku juga telah belajar terbang, dan sejak itu aku tidak perlu dilemparkan apabila ingin pergi ke suatu tempat. Kini aku cekatan. Kini aku terbang. Kini aku melihat diriku dibawah diriku.

Dia yang membaca dengan roh dan menulis dengan roh membangun tangganya menuju puncak gunung tinggi dan kakinya pun kuat untuk menjaga dia dari terpaan angin kencang.

Referensi

Zarathustra, Friedrich Nietzsche

Samuel Agus
Latest posts by Samuel Agus (see all)