Merumuskan Arah Gerak dan Partisipasi Mahasiswa

Merumuskan Arah Gerak dan Partisipasi Mahasiswa
Ilustrasi: kwikku.com

Berorganisasi wajib hukumnya bagi seluruh mahasiswa. Ini mengingat arah gerak mahasiswa yang tidak hanya duduk manis mendegarkan khotbah dosen kemudian pulang, tidur cepat, dan bangun pagi berangkat kuliah. Begitu seterusnya sampai wisuda.

Secara administratif, mahasiswa merupakan pelajar yang terdaftar di perguruan tinggi. Selain sebagai mahasiswa, arah gerak serta tanggung jawab besarnya dalam kehidupan sosial, politik, dan budaya, kesemuanya perlu jadi pertimbangkan secara baik.

Sedangkan anak muda zaman sekarang begitu bangga menjadi mahasiswa. Menyandang status kemahasiswaan tanpa mengoreksi apa makna dari status itu sendiri, yang sejatinya justru menjadi tantangan dalam perbaikan.

Betapa tidak, sebagai kaum intelektual yang mempunyai arah gerak besar dalam masyarakat, mereka harus mampu mengambil bagian dalam suatu perubahan dan pembangunan, baik dalam skala nasional maupun lokal. Sejarah Indonesia sendiri telah membuktikan betapa pentingnya arah gerak mahasiswa yang selalu mengambil peran dalam setiap perubahan besar.

Dalam merebut kemerdekaan, misalnya, bagaimana peran dari pelajar Stovia yang tergabung dalam organisasi Boedi Oetomo mampu membangun semangat nasionalisme. Setelah kemerdekaan, mahasiswa kembali menunjukkan taringnya dengan menumbangkan dua rezim sekaligus, yakni Orde Lama Soekarno dan Orde Baru Soeharto yang sangat terkenal akan keotoriterannya itu.

Artinya, peran mahasiswa memang tidak bisa kita ragukan lagi. Sampai saat ini, mahasiswa masih menjadi pemberontak yang membuat penguasa sedikit berpikir ketika harus bertindak atau mengambil kebijakan publik. Apalagi para mahasiswa tersebut kritis dan tergabung dalam suatu organisasi tertentu.

Tanpa organisasi, mahasiswa hanya akan menjadi domba-domba tersesat yang tidak tahu ke mana arah tujuan hidupnya. Organisasi mahasiswa merupakan salah satu wadah yang dapat mengembangkan arah geraknya dalam mengkritisi banyak hal. Karena belajar tidak selalu di dalam ruangan yang melibatkan dosen.

Mengkritisi suatu sistem, misalnya, hal yang seperti itu tidak pernah kita dapatkan di kampus, di bilik-bilik tembok yang terbatasi oleh ruang dan waktu. Ide dan gagasan tentang suatu perubahan (idealisme) hanya bisa tumbuh dan berkembang dalam sebuah organisasi.

Selain sebagai wadah yang mampu kita kembangkan dalam mengkritisi banyak hal, organisasi mahasiswa juga dapat menjadi media perjuangan dalam mewujudkan cita-cita masyarakat Indonesia, yakni kesejahteraan secara ekonomi, adil secara sosial, demokrasi secara politik, dan partisipatif dalam budaya.

Peran Organisasi

Di kehidupan kampus sendiri, ada banyak macam organisasi. Umumnya terbagi dua, yakni organisasi intra dan ekstra kampus. Tapi, apa pun bentuk dan jenisnya, organisasi mahasiswa tetap tidak boleh lepas dari peran dan fungsi mahasiswa sendiri.

Baca juga:

Organisasi yang berada di luar kampus salah satunya adalah organisasi daerah. Elemen ini merupakan wadah perjuangan mahasiswa yang tidak memiliki keterikatan penuh dengan kampus di mana keanggotaannya berasal dari masing-masing daerah, baik di lingkup kabupaten/kota, provinsi, maupun kepulauan.

Dari segi perannya, tentu organisasi mahasiswa daerah sangat perlu. Ia harus berkiprah mengingat tugas dan fungsinya sebagai wadah pemersatu antara satu dan yang lain dengan latar belakang daerah yang sama.

Pada dasarnya, organisasi daerah mempunyai nilai lebih tersendiri dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas. Salah satu keunggulannya, karena tidak perlu susah payah lagi mencari anggota ketika memiliki latar belakang daerah yang sama. Mereka secara otomatis sudah bisa tergabung dalam organisasi ini.

Hanya perlu untuk meramu saja berbagai macam formulasi untuk mengikat agar para calon anggota mau berkomitmen penuh dalam menjalankan roda organisasi tersebut. Dan ikatan yang terbentuk tidak hanya sebatas ikatan keluarga dan latar belakang daerah yang sama saja tentunya, namun menjadikan ikatan yang lebih strategis, yakni ikatan idealisme (ideologi).

Kenyatannya sekarang, organisasi daerah kurang banyak mahasiswa minati. Ketimbang dengan organisasi lainnya, intra maupun ekstra kampus, organisasi daerah memang kurang bergengsi. Hal itu tidak lepas dari persoalan internal organisasi yang mulai gagap dalam menghadapi zaman.

Melihat perkembangan zaman makin maju, maka selayaknya jika organisasi daerah harus memberikan tawaran-tawaran baru untuk menyikapi zaman serta memformulasikan obat-obat baru yang lebih ampuh. Apalagi, dalam era teknologi ini, kita sudah terjaring dalam satu sistem dunia yang besar di mana satu persoalan selalu berkaitan dengan persoalan lainnya.

Halaman selanjutnya >>>

Latest posts by Peserta Lomba (see all)