Merumuskan Pahlawan

Merumuskan Pahlawan
©Schools Week

Apa itu pahlawan?

Dalam legenda tentang Roma yang termasyhur itu: di bukit tempat kota itu didirikan, Romulus membunuh saudara kandungnya Remus, sebelum tata dan tertib lahir.

Bagaimana seseorang (dibuat) menjadi pahlawan? Bagaimana masyarakat merumuskan standar bagi kita untuk menjadi pahlawan?

Erik Gottfried Christian Brandt, seorang anggota Parlemen Swedia dari Partai Demokrat pernah menominasikan Adolf Hitler untuk menerima Hadiah Nobel Perdamaian. Nominasi itu terjadi hanya tiga bulan sebelum invansi Nazi ke Polandia yang memicu Perang Dunia II.

Tanpa berpretensi menjawabi semua pertanyaan di atas, tulisan ini memiliki tujuan tiga arah antara lain: Pertama, membongkar proses merumuskan pahlawan yang kemudian dibuat menjadi mitos. Kedua, menggambarkan karakteristik dominan yang biasa digunakan oleh masyarakat untuk menetapkan standar ‘(tidak) menjadi pahlawan”. Ketiga, agensi politik yang memungkinkan setiap orang merumuskan caranya sendiri untuk menjadi pahlawan di berbagai bidang.

Membongkar Mitos Pahlawan

Sulit membicangkan sosok pahlawan terlepas dari pengisahan atau ceritera. Signifikansi kepahlawanan dibuat konkret justru di dalam dan melalui cerita. Itulah sebabnya, semua kita dibuat tercengang akan sosok seseorang yang dianggap pahlawan justru karena mendengar atau membaca kisah hidupnya.

Meskipun demikian, sebuah cerita yang dimulai dengan deskripsi “pada suatu hari” dan diakhiri dengan “dan mereka hidup bahagia selamanya” cenderung menghilangkan dimensi tentang waktu dan perubahannya, tentang sebab dan akibatnya, dan hubungannya dengan manusia.

Artinya, dalam kisah, kepahlawanan dianggap sebagai sesuatu yang sudah terberi, the given, karena kelas, status sosial, dan keistimewaan peran tertentu. Itulah sebabnya, orang yang menikmati kisah tersebut sulit tersentuh pada ketidakpastian hidup, kekecewaan, keyakinan, dan pelbagai dimensi lain yang menjadi kekuatan cerita.

Baca juga:

Dengan kata lain, hadirnya pahlawan dengan sendirinya menjadi mitos itu sendiri. Bagi Barthes, mitos adalah tanda-tanda yang memaksakan keyakinan kita untuk percaya sekaligus menciptakan persepsi kita tentang hal-hal yang palsu.

Dalam bahasa yang sederhana, mitos mengubah sejarah sebagai sebuah proses dialektik menjadi sebuah fakta alamiah (1973:129). Dalam banyak cara, mitos menjadikan pelbagai peristiwa yang kontigen, yang cair, yang abu-abu menjadi sesuatu yang final.

Sebagai misal mitos dalam foto majalah yang menggambarkan seorang tentara Negro Prancis memberi hormat kepada bendera Prancis. Bagi Barthes, foto ini menandakan bahwa Prancis adalah kerajaan besar, tanpa adanya diskriminasi warna kulit, dan bahwa semua orang dengan senang hati melayani kerajaan itu tanpa ada keinginan untuk bebas dari apa yang disebut sebagai kolonialisme.

Foto, dengan demikian, bersifat enlarging sekaligus limiting, memperluas serentak membatasi persepsi kita tentang sesuatu. Celakanya, mitos yang diciptakan dalam foto, beroperasi dalam berbagai hal dan ada di mana-mana.

Logika Binari

Satu hal lain yang membuat mitos tetap bertahan dalam sejarah hidup manusia adalah bagaimana pelbagai dimensi yang variatif sifatnya, dibuat menjadi biner. Konsep seperti kebaikan dan kejahatan adalah salah satu contohnya.

Dalam cerita dan film pasca-modern (terutama karena intervensi kepentingan Perang Dingin, Cold War), James Bond misalnya, digambarkan sebagai sosok pahlawan yang membela demokrasi melawan komunisme dan tentu saja dua term di atas juga diberi makna lain yang diidentifikasikan sebagai, masing-masing, hal yang baik dan jahat.

Tapi kemudian, muncul pertanyaan: kebaikan seperti apa yang sedang diperjuangkan? Mitos macam apa yang diasumsikan dapat ditemukan oleh pembaca melalui cerita tersebut?

Hal yang sama juga dapat kita temukan dalam kisah atau cerita anak-anak pada abad ke-19 yang tak terhitung jumlahnya itu. Kisah semcam ini membatasi anak dan perempuan dalam peran domestik yang sangat terbatas dan ini merupakan pesan ideologis.

Halaman selanjutnya >>>
Hans Hayon
Latest posts by Hans Hayon (see all)