Merumuskan Pahlawan

Disebut demikian karena bagian terbesar dari sebuah buku yakni ia ditulis bukan oleh si penulis tetapi oleh dunia tempat di mana penulis itu hidup.

Akibatnya, penggambaran sosok pahlawan oleh penulis tertentu mustahil dipisahkan dari persepsi masyarakat tentang bagaimana seorang pahlawan mesti dipahami. Ini dapat kita temukan di mana-mana, ketika pahlawannya umumnya dilukiskan berkulit putih, laki-laki, muda, berasal dari Inggris, Amerika atau Eropa.

Karakteristik Dominan Seorang Pahlawan

Berikut ini terdapat beberapa ciri-ciri atau gambaran umum yang disematkan oleh masyarakat terhadap sosok pahlawan:

Pertama, dia meninggalkan tatanan daerahnya yang beradab untuk menjelajah ke hutan belantara untuk mengejar atau mencapai tujuannya.

Kedua, hutan belantara tersebut bisa berupa hutan dalam arti sebenarnya, atau sebagai negeri fantasi, planet lain, benua Afrika, atau bagian dari dunia non-Eropa lainnya. Bisa juga jalanan rata di London dan New York, pulau tropis, dan seterusnya.

Hutan belantara dan negeri asing tersebut digambarkan tidak memiliki ketertiban dan keamanan sebagaimana yang ada di daerahnya. Lalu, hal-hal yang berbahaya dan ajaib terjadi di sana.

Ketiga, pahlawan lalu menghadapi serangkaian kesulitan dan terancam bahaya lawan. Lawan ini termasuk naga atau mahkluk fantastis, binatang liar, penyihir, komunis, raksasa, bajak laut, mata-mata, dan alien.

Keempat, pahlawan mengatasi lawan-lawan ini karena ia kuat, berani, banyak akal, rasional, dan bertekad untuk berhasil (need for achievement). Meskipun menerima bantuan dari orang bijak atau makhluk baik hati lainnya, ia tetap menjadi sosok sentral dalam jalan cerita.

Baca juga:

Kelima, dia mencapai tujuannya yang mungkin berupa kekayaan emas, harta dengan signifikansi spiritual seperti Holy Grail, penyelamatan seorang bajik (biasanya perempuan), tawanan, atau penghancuran musuh yang mengancam keselamatan sebuah daerah.

Keenam, dia kembali ke daerahnya, mungkin sesekali mengatasi ancaman lain di jalan pulang, dan disambut penuh syukur oleh warganya.

Ketujuh, dia dihargai dengan pahala tertentu. Pahala itu misalnya berupa wanita yang berbudi luhur dan cantik.

Apa yang Harus Dilakukan?

Dari tujuh karakter di atas, kita dapat menemukan bahwa mitos pahlawan dibentuk dan didistribusikan melalui logika binari. Oleh karena itu, terdapat tiga hal yang perlu kita lakukan, antara lain:

Pertama, kita dapat mulai membongkar ideologi cerita pahlawan dengan memeriksa oposisi biner yang penting bagi formasi wacana tersebut. Disebut demikian karena kualitas yang dianggap berasal dari pahlawan dan miliknya lawan mengungkapkan banyak tentang apa yang telah dihargai dan apa yang telah dianggap sebagai inferior atau jahat dalam budaya Barat.

Kedua, ada banyak cara membaca pahlawan, dan ada banyak kekeliruan cara baca di sana.

Tulisan ini tentu saja bukan untuk memberikan jawaban mengenai cara paling tepat dalam mendefinisikan pahlawan, melainkan berusaha menantang (to challenge) definisi mapan kita tentang apa dan bagaimana menjadi pahlawan dalam cara pandang tradisional yang melihat bahwa ia selalu identik dengan “kebesaran” dan “kehebatan” sebagai model ideal dari perilaku spesies homo sapiens.

Ketiga, pahlawan adalah manusia biasa. Perspektif ini membawa implikasi agensi politik bahwa kita semua berpeluang menjadi pahlawan dalam berbagai bidang dan konteks kehidupan.

*Tulisan ini terinspirasi dari bukunya Margery Hourihan berjudul Deconstructing the Hero, Literary Theory and Children’s Literature terbitan Routledge (1997).

Hans Hayon
Latest posts by Hans Hayon (see all)