Meutia di Kerkhoff Peutjut

Meutia di Kerkhoff Peutjut
©Christiaan Benjamin Nieuwenhuis 1901

Meutia yang Meutia

Tekun itu wahai yang meniti kitab dan adat
Harinya begitu berat, di antara para malaikat
Bertuntut, berasa, beramal, dan beradab
Semua itu kelindan, tiada jeda tuk sekadarnya
Menikmat legit kiwari manis

Suara berat itu menghenti langkahnya
Saat sampai di pintu Kerkhoff
Ditolehnya, tampak keriput yang bersinar
kesucian dan cemerlang perjuangan hidup
Sejati itu wantah yang menolak antah

Pinta dan restu yang tebal bersalut raut
Tiada pamrih, jangka, dan rekayasa angkara
Tugas hari ini bak panglima penata cinta
Mengulam kasam jadi redam yang berbindam

Kerkhof kuno itu, wahai Meutia
Serdadu membilang giris-giris yang nyata
Kini kau datang dengan muka berkelambu
Hitam-hitam buldan khas Atjeh Darusalam
Undak surga yang ketujuh itu milikmu

Ada yang sangat haru biru merindu
Harmen Rudolf Kohler yang Kutaraja itu
Menggali pusaranya sendiri
Dan meminang adatmu dengan darahnya
Pernah membara sampai terderita

Semua belasah, sebat, dan sesah tak manjur
Meutia di bentala Atjeh
Bersewaka kepada Tuhannya
Tak mau rupa wirawan tampan itu
Lebih baik pulang mendulang keranda

Bujut kelambu mukamu menyenyat adat
Lembutmu adalah peresih ayu dan syur
Kelak kelambu wajahmu Meutia
Dikoyak wirawan yang tak kalah jalang
Marsose-marsose anak negeri sendiri

Awak Kaphe Kutaraja

Meutia masih berdiri saja di pintu Kerkhoff
Pengampunannya begitu luas tanpa waswas
Tak tega berucap kaphe-kaphe Kutaraja
Karena dari tanah ke tanah, ikhlas sudah
Meutia tahu itu, Mautia paham itu

Adukan tangga yang terjulur di langit itu?
Meutia pilih puji-pujian yang sepenuh tangga
Tak manja bergelayut menuju Tuhannya
Memilih di sini saja memberi jampi ampunan
Dari kepala-kepala yang muncul menjerit itu
Kerkhof Peutjut dari lautan kepala para peminang

Muetia bersimpuh lugu di antara kepala-kepala
Menarik kelambu mukanya yang hitam elok itu
Menyekah darah nanah para kepala yang dulu kalah
Wahai wirawan, kenapa kau ini sampai begini
Andai wirawan bisa bicara, berteriaklah ia penuh duka

Kini tiada lagi seka yang tersisa, Meutia tak marah
Tersenyum walau tiada kelambu mukanya lagi
Raut mukanya menyinar sisa-sisa kepala itu
Masih banyak lagi yang akan diseka
Muetia tak manja berpinta pahala
Dari tangga-tangga langit yang menjulur itu
Biar di sini, memilih jampi-jampi ampunan
Inilah ajaran kasih berbulir rela
Tersungkur pun tak mengapa
Tak peduli padri kaum suci yang bergaji
Teruslah mengusap dengan kelambu muka itu

Cungap yang Terus

Berbau harumlah mulutnya yang kirana
Merapal selalu, cungap selalu, membilang aksara ritus
Meutia ingatlah selalu yang pernah tersabda
Mate Aneuk Meupat Jirat,
Gadoh Adat Pat Tamita
Jika anak berkalang, ada kubur yang dilihat
Jika adat hilang, ke mana mencarinya

Petuah Sultan jahit muka Meutia dengan kelambu
Yang kini habis untuk kepala-kepala itu
Tersisa cungap-cungap aksara ritus saja
Tak apalah, tak apalah, ya?
Selalu tersenyum di antara jedanya
Geligi yang seputih tulang kepala itu
Saling terantuk lembut membilang doa

Krueng Atjeh, Krueng Peureulak mengalirkan doanya
Menghilir dan mudik menyayangi Atjeh
Membangun sabil-sabil yang indah
Jangan kau khianati yang serumpun itu
Pun Muetia yang tahu jalan pulangnya
Dengarkan, wahai wirawan, yang terburu pulang
Membawa segenggang, dan segenggaman lagi

Meutia adalah Meutia
Bukan reka pita yang sarat pinta
Seperti yang tertulis di Barzanji itu
Yang tak pernah cupai ibadah
Mencencang halus setiap serapah kasar
Membulir paruh setiap serakah utuh
Memaafi setiap gelinjang khilaf
Meutia yang Meutia
Itu saja, sayang