Mewaspadai Keterlibatan Perempuan dalam Terorisme lewat Analisis Gender

Mewaspadai Keterlibatan Perempuan dalam Terorisme lewat Analisis Gender
©Strife

Keterlibatan perempuan dalam aksi-aksi terorisme makin nyata. Kasus terakhir sejak 2019, yakni kasus Sibolga, Jolo, Surabaya, Makassar, dan terakhir di Mabes Polri Jakarta, menunjukkan makin intensnya keterlibatan perempuan sebagai pelaku teror.

Peneliti Rumah Kitab Lies Marcoes menegaskan itu melalui satu opininya di Kompas bertajuk “Peta Perempuan dalam Terorisme” (3/4). Ia kembali mengungkap peringatan dari pakar terorisme Sidney Jones tentang pentingnya mewaspadai keterlibatan perempuan dalam aksi teror.

“Sampai saat ini, kita masih menanti analisis para ahli terorisme untuk mengoperasionalkan analisis gender dalam membaca fenomena itu,” tulis Lies.

Ia berharap, dengan cara itu, analisisnya tidak terjerembab ke dikotomi klasik: lelaki tertarik jihad karena bisa meningkatkan maskulinitasnya, perempuan ikut-ikutan jihad karena naif dan kebawa-bawa tanpa agenda.

“Dua kasus terakhir, Makassar (28/3) dan Mabes Polri (31/3), tampaknya bukan kisah tentang perempuan yang diajak-ajak, kebawa-bawa, atau dibodohi. Mereka boleh jadi sebagai agen yang punya misi, agenda, dan tujuannya sendiri. Meski tujuannya boleh jadi demi suami, demi anak, demi kelompok atau keluarga, mereka melakukannya dengan misi.”

Ia kemudian mencontohkan kasus bom panci (2017). Sang pelaku, Dian Yuli Novita, meyakini aksinya akan membahagiakan ibunya kelak di akhirat setelah merasa gagal memberikan kebahagiaan di dunia dengan pekerjaannya yang tak membanggakan.

“Sebetulnya, kalau diamati, bahkan sejak 2003, keterlibatan perempuan dengan misinya sendiri terlibat teror dan kekerasan sudah cukup jelas. Kasus keberhasilan Nurdin M Top, arsitek bom Hotel JW Marriot, main petak umpet dengan petugas, tak lain karena keterlibatan perempuan di sekelilingnya.”

Secara kesejarahan, beber Lies, dapat diamati berubahnya tren kesertaan perempuan dalam gerakan radikal yang berujung dengan terorisme. Yang awalnya sekadar suporter, kini menjelma sebagai aktor.

“Tatkala pelaku jihad lelaki makin seret, perempuan hadir sebagai pahlawan baru yang dielukan keberaniannya. Bagi perempuan sendiri, kehadirannya menjadi berarti bagi hidupnya. Lahirnya NIIS (Negara Islam di Irak dan Suriah) pada 2013 mengubah pelaku atau pendukung jihadis dari individu lelaki ke perempuan dan keluarga.”

Adapun ideologisasi radikalismenya, simpul Lies, jelas terjadi bukan lagi di majelis-majelis (antar-lelaki) atau di tempat tidur (suami-istri), melainkan di meja makan suami-istri dan anak-anak.

Baca juga:

“Kasus bom panci menjelaskan itu. Demikian juga kasus bom Surabaya pada Mei 2018. Mereka digambarkan jarang bergaul atau menghadiri kajian. Proses ideologisasi terjadi di ruang privat di lingkup keluarga.”

Demikian halnya kasus bom di Jolo, Filipina, yang melibatkan pasangan Rullie dan Ulfah (Januari 2019) dan kasus Sibolga, Sumatra Utara, Som yang membawa anaknya meledakkan diri (Maret 2019).

“Namun, rupanya tak gampang membaca isu terorisme dengan analisis gender untuk memahami keterlibatan perempuan. Ini terlihat dari cara feminisasi dalam penyelesaian masalah, baik untuk bekas kombatan ataupun returnee (mereka yang kembali).”

Setidaknya, ada dua alasan mengapa keterlibatan perempuan dalam terorisme sulit dipahami. Pertama, dunia terorisme selama ini masih dipandang sebagai dunia maskulin, dunia yang “laki banget”. Kedua, butuh kacamata khusus yang dapat dipakai untuk membaca ranah privat dari dunia terorisme.

Karena itu, Lies menegaskan, analisis gender yang melihat relasi suami-istri, atau suami-istri dan anak, atau ruang publik dan ruang privat dalam fenomena pelaku teror bom sudah tak bisa ditawar. Temuan penelitian Rumah Kitab tentang fundamentalisme dan kekerasan berbasis gender (2020) menjelaskan hal itu.

“Analisis gender membantu menerang-jelaskan bahwa dalam struktur relasi lelaki dan perempuan yang begitu timpang, penghargaan kepada perempuan yang begitu rendah, sepanjang hidupnya dianggap sebagai sumber masalah dan fitnah, siapa pula yang tak ingin hidup sekali untuk berarti meski kemudian mati berkeping.”