Mewujudkan Generasi Berbasis Literasi

Mewujudkan Generasi Berbasis Literasi
©Pexels

Generasi berbasis literasi akan menemukan bakatnya tersendiri dalam mengartikan makna kehidupan.

Jika melihat fenomena generasi milenial sekarang, sangat bagus untuk upaya melatih literasi dan mengembangkan potensi literasinya bagi yang sudah memiliki skill. Dalam fase sekarang, canggihnya basis teknologi membuat generasi muda makin instan untuk belajar, mencari informasi, serta mengasah daya literasi dengan belajar berbagai hal-hal.

Kunci utama untuk mempelajari literasi adalah kemauan serta tekad kuat yang muncul dalam diri generasi. Antara lain: jika mempunyai niat yang sungguh-sungguh dan melewati segala proses, daya literasi akan tercapai.

Sebenarnya upaya untuk belajar tidaklah berat. Asalkan bisa melawan kemalasan yang kelamaan akan menjadi kejumudan. Antara lain: kalau proses kemalasan sudah benar-benar takluk, kecintaan dalam belajar akan kita dapatkan. Kenikmatan belajar sangat terasa jika kita benar-benar menekuninya.

Salah satu upaya untuk belajar berliterasi adalah kekuatan dalam membaca dan memahami isi buku. Budaya membaca harusnya tetap pemuda kedepankan agar pola pikirnya bercakrawala luas serta dapat memahami juga dalam menjawab persoalan yang terjadi di dunia kemasyarakatan.

Jangan hanya jadi pemuda yang sibuk dengan mengutamakan hal yang tidak mencerminkan masa depan. Tentunya generasi berbasis literasi akan menemukan bakatnya tersendiri dalam mengartikan makna kehidupan yang tertuang dalam tulisan.

Kecanggihan teknologi, jika tidak kita manfaatkan secara baik, akan berdampak tidak bagus juga. Yang kita dapatkan hanyalah membuang-buang waktu; sia-sia. Tetapi jika kita manfaatkan dengan baik, ini akan mendatangkan keuntungan tersendiri.

Terlepas daripada itu, mengutip UNESCO, Indonesia masih mendapatkan urutan kedua paling bawah soal literasi dunia. Artinya, minat bacanya masih sangat rendah dan memprihatinkan, hanya 0,001 persen. Sangat miris, bukan?

Kita perlu refleksikan bersama dan meningkatkan budaya membaca agar melek dalam hal literasi. Dalam konteks ini, upaya untuk menumbuhkan budaya literasi adalah kesadaran terhadap diri sendiri.

Baca juga:

Selain daripada itu, menulis diari, baik di handphone maupun buku catatan kecil. Apa yang kita alami setiap hari, tulislah dalam catatan tersebut. Selebihnya, kalau mampu membuat sebuah komunitas literasi untuk meningkatkan pemahaman dalam membaca serta berdiskusi terkait bacaan yang telah kita pelajari.

Apa yang kita bayangkan setelah kita melihat persentase literasi Indonesia? Dalam konteks ini, perlu kesadaran bersama untuk meningkatkan budaya literasi yang baik sehingga peringkatnya di kemudian hari dapat meningkat sedikit demi sedikit. Jangan hanya kita jadikan sebagai alat tontonan saja setelah melihat fakta yang terjadi.

Apalagi jika kita melihat fakta yang terjadi di Aceh saat ini. Pemuda sudah menghabiskan waktunya berjam-jam sampai berhari-hari mengakses game, seakan-akan lupa terhadap peran kepemudaan di masa yang akan datang. Kalau kita biarkan begitu saja, takutnya menjadi problem berlarut-larut.

Sejatinya, literasi merupakan suatu upaya untuk mencerdaskan masyarakat. Literasi tidak terbentuk begitu saja tanpa usaha dan proses secara terus-menerus, tetapi perlu membentuk kebiasan (habits) setiap harinya agar generasi literasi dapat terbentuk.

Pentingnya berliterasi supaya pemuda dan masyarakat umum dapat mengikuti perkembangan zaman, yang dituntuk untuk mahir berliterasi sehingga tidak terjadinya primitif. Literasi ini sangat penting untuk kita terapkan dalam kehidupan setiap generasi, khususnya generasi milenial yang sedang mencari skill-nya dalam menuntut ilmu pengetahuan.

Aset terbesar yang harus pemuda miliki adalah pengembangan diri, karena itulah modal terbesar. Jika itu tidak bisa pemuda peroleh, alangkah lebih baik beternak diri saja karena tidak ada manfaatnya dalam melewati tahapan-tahapan dan waktu yang terbuang begitu saja ketika melewati masa kepemudaan.

Selain daripada itu, alangkah lebih baiknya memperbaiki setiap masa yang telah berlalu dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat serta menjadi modal untuk masa tua nanti. Kalau bukan sekarang mengukir prestasi, kapan lagi akan memperolehnya? Sehingga di masa tua nanti kita tidak ada kenyamanan dan ketenteraman dalam menjalin kehidupan sebagai akibat bermalas-malasan di masa muda.

Dalam hal ini, mari kita bersama bergandengan tangan untuk memperbaiki diri dengan berliterasi setiap hari. Agar kita semua dapat merasakan manisnya berliterasi serta terwujudnya masyarakat yang kreatif dan berinovasi.

Halaman selanjutnya >>>
Abdan Syakura
Latest posts by Abdan Syakura (see all)