Mimesis Empal Brewok

Mimesis Empal Brewok
©Pixabay

Empal brewok adalah mimesis. Kelamin berbulu sebagai model.

Denting piring dan sendok membalut semua kekalutan jiwanya. Makan adalah solusi. Sore setengah malam di Surabaya yang panas itu menuntun keroncong musik perutnya untuk singgah di sebuah warung makan sederhana di pojok tikungan.

Ditunjuknya lauk-pauk di etalase kaca yang sudah buram oleh uap-uap sayuran hangat. Diusapnya lapisan kaca itu. Tentu saja tak bisa. Ia menguap diri dari dalam. Seperti ingatannya yang tak mampu dirampas dari luar. Tentang peluang yang terbuang, tentang berbakti kepada Tuhan dan lainnya.

“Mbak, nasi rames saja,” katanya putus asa. Uap-uap panas itu membuatnya malas untuk melakukan ritual ala buffet, memilih-milih lauk sekehendak.

“Rames ayam, rames telor atau komplet, Mas?”

“Komplet,” jawabnya singkat.

“Pakai empal brewok atau pistol gombyok?” tanya penjual lagi.

Deg, terkejut si pembeli. Empal brewok? Pistol gombyok? Apa itu.

Kesadarannya dipacu untuk mengerti. Menarik-narik semua perbendaharaan kosakata, menggali kumpulan lema-lema, membongkar diksi-diksi yang pernah terserap, terpatri atau bahkan terngiang saja. Yang diingatnya dan sedikit dimengerti kehadirannya adalah empal brewok. Kata-kata ini lumrah di Surabaya bagi kebanyakan orang.

“Pedas, Mas?” tanya penjual manis.

Sepertinya pertanyaan itu tak didengarnya. Pikiran kalut memenuhi ruang kosong kesadarannya, tentang empal brewok dan satunya lagi, pistol gombyok.

Pembeli itu sudah sedikit menyisakan ruang kosong bagi empal brewok yang siap diolah menjadi pernyataan, pertanyaan ataupun fantasi saja. Sedang penjual nasi itu sibuk menyiapkan ide-ide pencerahan.

Memilih tempe bacem, menunjuk tahu goreng, telur mata sapi; yang penggorengnya susah payah agar kuning telurnya tak ambyar, empal daging; yang tak tahu kenyal seperti karet atau empuk, ataupun pepes ikan sungai, atau pilihan terakhir rames komplet baginya adalah sebagai idea atau ide.

Pembeli sadar, bahwa dunia ide hanya dapat diketahui melalui rasio dan tidak mungkin untuk dilihat atau disentuh dengan panca indra. Dunia ide hari pelanggan yang kelaparan itu tentunya tak diketahui; pedas? Sedang? Atau tanpa sambal?

Hingga akhirnya penjual nasi tadi yang harus bertanya: “Pedas, Mas?” sebagai pembongkar untuk mengorek dunia ide pelanggannya.

Selang tak lama, pembeli itu menyendok pelan-pelan nasi rames yang sudah tersaji rapi. Sepiring nasi dengan lauk lengkap. Bukan nasi rames telor atau nasi rames ayam, yang kadang harus ditambah cabe berbiji-biji agar imbang dengan dan nasinya yang menggunung itu, namun nasi rames komplet!

Makannya sangat pelan sekali, padahal kelaparan. Mungkin itu semua agar tampak rapi sesuai dunia idenya. Nasi dikeruk, beralih ke telur, bermanuver sedikit ke bumbu merahnya, dan hhhleppp……sambil menggigit pinggiran empal daging yang ternyata keras! Dasar empal brewok!

Pikirannya yang sudah keriting ditarik-tarik lagi oleh kehadiran empal brewok. Menurutnya, pasti si penjual membuat suatu citra mental dari bentuk ideal dan menggunakannya sebagai modal untuk membuat suatu produk yang lebih spesifik. Produk yang bisa disapu dengan pancaindra, nyata, siap disantap sebagaimana daging goreng biasa.

Kosakata empal brewok itu pernah pembeli dengar. Pernah ia pahami sebagai ujaran yang sudah sangat kuat di benak warga Jawa Timur, khususnya Surabaya. Konotasinya miring deras ke arah alat kelamin perempuan. Daging berambut yang bukan bulu.

Mimesis empal brewok warung rames sore yang panas itu sedikit membuka kesadarannya. Ya, mimesis, proses peniruan yang ada di dalam diri setiap jiwa. Mimesis menjadi proses terciptanya budaya yang diajarkan oleh penjual nasi rames itu.

Empal brewok adalah mimesis. Kelamin berbulu sebagai model.

“Kalau pistol gombyok apa, Mbak?”

Duh, pembeli itu penasaran. Ini bukanlah pertanyaan tolol. Karena suasana sudah kondusif oleh empal brewok. Pembeli sudah yakin telah membuka sebuah ruang pembelajaran tersendiri yang diciptakan dari tautan-tautan yang pernah diperolehnya.

“Ehmm, kalau itu ….?”
“Apa?”
“Anu, Mas….”
“Anu apa?”
“Mas, mau?”

Pembeli itu benar-benar ingin realitas yang bisa dilihat, diraba, dicium bahkan dimakan. Seperti empal brewok yang baru saja dilahapnya itu. Ia adalah benar-benar daging sapi yang diberi tambahan atribut brewok, tentunya nyata tanpa rambut.

Empal brewok bukanlah sesuatu yang dibuat untuk meniru realitas sehari-hari, tetapi untuk menggambarkan ide-ide manusia sedemikian rupa sehingga kesadaran pengamat itu bisa tercerahkan. Pembeli yang sudah kekenyangan dengan porsi nasi menggunung itu merasa tercuci pemikirannya. Aristoteles menyebut “penyucian” ini sebagai “catharis”.

Sesaat kemudian, pertanyaannya tentang pistol gombyok terjawab sudah. Tak seperti empal brewok yang berupa potongan daging sapi yang digoreng setelah dibumbui, namun pistol gombyok tak berupa gorengan daging seperti pistol atau sejenisnya. Pistol gombyok benar-benar tak dijual di warung itu. Tak ada dalam daftar menu!

Selang kemudian pembeli benar-benar telah mencuci “pistol gombyok” miliknya yang sesungguhnya.

“Enak, Mas?” tanya mbak penjual.
“Banget,” jawabnya yang sudah berkeringat.

Mbak penjual tersenyum manis bak seorang seniman yang berhasil menyediakan ide murni dari seni dan keindahan yang melintas liar dalam benak pembelinya.

Ide selalu melebihi karya seni itu sendiri. Ide pistol gombyok akan kehilangan kesatuan asli dan kemurniannya saat berhubungan dengan empal brewok yang bernapas.

Untuk membuat ide, penjual itu harus banyak melihat model pistol gombyok. Namun, karena pelanggannya banyak yang tak sesuai pistol gombyoknya, maka dengan bijaksana akan menggunakan ide yang sempurna dan terindah yang pernah ia miliki.

Pembeli lega, tak sedikit pun menyesal. Baginya, itu bukan tragedi, namun ia adalah puncak dari mimesis itu sendiri. Mungkin awam menyebutnya sebagai takdir.

Yudho Sasongko
Latest posts by Yudho Sasongko (see all)