Mimpi dari Pucuk Enau

Mimpi dari Pucuk Enau
©RimbaKita

Mimpi di pucuk enau adalah wujud bahagia yang digambarkan Tuhan dengan sangat sederhana.

Berhari-hari setelah membaca buku “Orang Miskin Dilarang Sekolah” karya Eko Prasetyo yang kupinjam dari salah satu kawanku, pandanganku tentang sekolah menjadi berbeda.

Aku masih kelas sebelas pada saat itu, namun pendidikan terasa tidak lagi menjadi prioritas utama. Kelulusan kupikir tidak begitu wajib lagi untuk dituntaskan.

Lagi pula apa pentingnya sih sekolah untukku? Orang desa yang hari-harinya hanya membantu Bapak memanjati pohon enau di kebun, menunggu niranya memenuhi dua wadah bambu yang tingginya kurang lebih satu meter.

Bahkan sampai saat ini entah berapa banyak pohon enau yang sudah kupanjat. Aku tidak tahu. Ya, kira-kira sudah tak terhitung jumlahnya.

Pernah saat Bapak tidak bisa berangkat menyadap nira. Kali pertama aku berangkat sendiri. Bangun pagi-pagi sekali, menyiapkan dua wadah bambu, juga hati penuh semangat.

Diiringi kokok ayam terakhir yang bangun pagi itu, aku berjalan menyusuri jalan berbatu dan sedikit lembab. Malam ini tidak hujan, hanya saja embun memenuhi hampir seluruh bagian kampung. Ini karena kampungku terletak di dataran tinggi dengan pepohonan yang saling berlomba mencapai puncak.

Sering kali, saat menunggui tetesan nira memenuhi wadah bambu, aku senang sekali berkhayal, menata detail mimpi-mimpi, sambil mendendangkan beberapa reff lagu grup band idolaku; Payung Teduh.

Aku tahu bahwa beberapa lagu memang tidak dapat mewakili semua perasaan pendengarnya. Meski begitu, lagu tetap menarik bagiku; dia mengisi ruang-ruang kosong dalam hidupku, mengiringi perasaan sedih dan bahagiaku setiap waktu.

Baca juga:

Di sisi lain, lagu sebenarnya sudah lama menjadi bagian dalam hidupku. Kesenian di desaku, Sambaliwali, yang telah menjadi ciri khas turun-temurun menjadi alasan besarnya. Sejak kecil yang kutahu, sering sekali musik-musik tradisional dimainkan dengan gembiranya oleh para penduduk.

Biasanya dilakukan serentak di hari-hari besar, atau acara kumpul-kumpul biasa. Belum lagi di desaku, terbentuk komunitas pemuda yang dikenal dengan Lantera—organisasi kepemudaan tempatku bernaung.

Tidak ada yang bisa memprediksi masa depan dengan valid. Besok masih hidup atau tidak, sehat atau sakit, atau bahkan bertemu dan berpisah dengan siapa, semuanya selalu menjadi rahasia yang sulit ditebak.

Seperti pula kisahku. Keinginan untuk melanjutkan pendidikan kembali muncul saat bertemu dengan orang-orang baru dalam hidupku.

Kedatangan kawan yang kuliah di Jogja membawa kabar bahagia, menyisakan keinginan besar untuk menginjakkan kaki di kota istimewa itu. Sebuah kota yang keindahannya hanya bisa kunikmati dengan sangat epik-nya di buku-buku paket sekolah, juga di balik beranda media sosial.

Kalau sudah begitu, yang paling pertama kuingat adalah mimpi-mimpi yang sempat kugantungkan pada setiap pucuk pohon enau. Yang padanya harapan besar selalu kuikatkan dengan erat. Mimpi ke Yogyakarta salah satunya.

Tidak bisa kubayangkan betapa menyenangkannya jika bisa berkunjung ke sana. Setidak-tidaknya meski hanya beberapa waktu. Atau jika mungkin Tuhan menawarkan takdir baik bagiku, melanjutkan pendidikan di sana. Sungguh tak dapat terbayangkan.

Hingga tiba masanya, ternyata Tuhan memang menakdirkannya. Aku berangkat ke Jogja untuk pertama kali di tahun 2020. Belum ada rencana apa pun saat itu, selain kesenangan yang luar biasa dapat tinggal di kota ini.

Setiap peristiwa pasti ada sebab-akibatnya. Aku meyakini itu, tidak bisa kuelakkan ia terjadi dalam kehidupanku selama ini. Dan aku percaya, mimpi di pucuk enau itu adalah wujud bahagia yang digambarkan Tuhan dengan sangat sederhana. Semoga saja selalu begitu.

Baca juga:
    Mardin
    Latest posts by Mardin (see all)