Mimpi Kecil Kita

Mimpi Kecil Kita
©WH

Sebuah mimpi kecil merambat dengan pasti dan tegar dari obrolan ke obrolan lalu memasuki kepala dan, pada suatu malam yang rintik-rintik, memenuhi dada sekumpulan budayawan, seniman, dan para aktivis seni. Di Café Pojok Indie, Boulevard Manado, mimpi kecil itu menjadi tema bersama.

Nama mimpi itu Gedung Kesenian atau, lebih spesifik lagi, gedung pertunjukan, tempat di mana para seniman bisa berproses sekaligus menampilkan hasilnya kepada publik.

Secara pribadi, aku bukan orang yang tertarik dengan gagasan semacam ini. Di dalam pikiranku, dunia telah berputar sedemikian rupa sehingga apa yang disebut gedung kesenian/pertunjukan tak lagi menjadi ideal.

Kreativitas seni selalu membutuhkan ruang tapi ruang bagi kreativitas seni tak harus selalu ruang tertentu. Keadaan tanpa gedung kesenian sebagai ruang tertentu justru merupakan tantangan bagi para seniman untuk melakukan perluasan ruang hingga mencapai area yang tak terpikirkan sebelumnya.

Dalam hal ini, keadaan tanpa ruang tertentu justru memungkinkan kita melakukan ekspansi ke ruang-ruang tak tentu. Membawa karya seni kita menjadi lebih dekat dengan publik non-kesenian. Tentu dengan segala tantangan dan kesulitannya sendiri yang tak jarang membuat miris.

Tapi ideal ini, aku sadar, tak harus menjadi negasi terhadap lahirnya mimpi sebagian seniman untuk memiliki gedung kesenian. Bahkan, dalam satu pikiran balik, mimpi mereka itu justru bisa menjadi petunjuk yang lebih pasti bagi arah idealku menuju ekspansi ruang kesenian yang tak tentu itu.

Dengan adanya sebuah gedung kesenian tertentu, para seniman akan sadar bahwa penguasaan ruang-ruang tak tentu akan menjadi tantangan menarik bagi kreativitas. Itu alasan pertama kenapa aku berada dalam barisan mereka yang memimpikan gedung kesenian.

Alasan yang kedua, seperti yang telah aku ungkapkan dalam, katakanlah, refleksi akhir tahun di Café Pojok Indie pada Senin malam, 20 Desember 2021 lalu, kita membutuhkan sebuah tema bersama untuk bergerak sebagai suatu komunitas seni.

Baca juga:

Para seniman di Sulawesi Utara dan Manado secara khusus masih tetap hidup dan berkarya. Tapi sebagai suatu komunitas, mereka tak lagi memiliki “gerak” yang layak diperhitungkan.

Dalam kerangka urusan publik, ini melemahkan para seniman sebagai individu. Menjadi seniman berarti menjadi individu yang paling lemah secara politis. Kita sudah lemah secara ekonomi, dan kini kita juga harus menjadi lemah secara politis. Keadaan seperti ini bukan sebentuk kelemahan tapi lebih merupakan kutukan.

Karena itu, sebagai sebuah komunitas, kita harus bergerak. Kita yang dimaksud terutama adalah para seniman dan aktivis seni, satu spesies dalam masyarakat seni yang sadar pada kaitan tak terelakkan antara kesenian dengan politik sebagai urusan publik. Sedangkan untuk bergerak, kita membutuhkan tema bersama.

Mimpi untuk memiliki sebuah atau lebih gedung kesenian, pada hemat saya, menjadi menarik untuk diperjuangkan karena mimpi itu bisa menjadi tema bersama para seniman dan aktivis seni untuk menggerakkan komunitas kesenian secara lebih luas. Setidaknya, untuk menghadirkan diri kita di ruang publik.

Adapun kehadiran kita sebagai sebuah gerakan dengan satu tema yang menjadi isu untuk dikampanyekan akan memperkuat posisi tawar para seniman dan aktivis seni di hadapan kekuasaan negara yang makin kehilangan perhatian atas kesenian dan segala masalahnya.

Seekor lebah akan diabaikan. Tapi saat jutaan lebah menyerbu, bahkan orang yang paling berani sekalipun akan lari terbirit-birit.

Artinya, apa yang indah bagi saya dari mimpi memiliki gedung kesenian adalah kemungkinan bagi kita, masyarakat kesenian, untuk memiliki hari ketika kita bersama-sama memperjuangkan satu mimpi yang sama.

Hari ini kita menuntut gedung kesenian, besok akan ada tuntutan lain. Begitu seterusnya hingga kita telah menjadi satu masyarakat yang mewujud sebagai jutaan lebah.

Baca juga:

Kenapa itu perlu? Karena kita harus percaya bahwa tak akan ada peradaban manusia yang bisa berdiri teguh dengan kebanggaan yang utuh tanpa kesenian dan tak akan ada kesenian sebagai pilar peradaban tanpa ada orang yang mau bergerak bersama untuk mewujudkannya.

Hari ini, hanya ada satu kata: bergerak!

Amato Assagaf
Latest posts by Amato Assagaf (see all)