Mimpinya tentang Perpisahan

Mimpinya tentang Perpisahan
┬ęThe Jakarta Post

Hari ini, awalan yang buruk
Ada seseorang di antara kita yang merebut
Saya masih sering menangis di Embung; perihal kehidupan
Ada pembiaran agar ini terjadi?

Pekan terakhir, saya berani membunuh kehilangan
Sungguh. Dia abadi yang tak akan punah

Hari ini. Saya akan selalu menangis sendiri
Hallo. Saya rindu bercerita. Dan kamu di mana untuk hari ini ?
Ini catatan. Perintahnya agar saya MENJAUH!
Ini kemacetan rindu yang diciptakan

Serius. Sekali lagi, DIA orang yang sangat abadi.
DIA akan memeluk orang lain untuk berisitirahat
Tidak lagi mampu menulis
Masih mampu untuk menangis
Air mata ini tak seberapa hebat kesalahan pesan
Jujurku merendahkan martabat seseorang
Itu katanya yang membaca

Saya tampak seperti serigala lapar yang memburuh kabar. Terlihat menjijikan seperti kumpulan barang tak berharga dalam tong sampah. Kesalahan yang menjadi senjata untuk membunuh. Saya harus tahu konsekuensi ini setelah dia terluka oleh apa yang saya sampaikan dengan spontan. Itu kejujuran yang tak mendapat respon positif. Itu penghinaan yang saya kasih?

Saya sendiri tidak berani buka suara. Teman-temannya sangat membantu untuk jalur komunikasi. Karena kali ini, katanya serius. Saya menghargai putusannya membunuh kata.

Mimpinya bukan kebalikan. Mimpinya membuktikan kebenaran. Sehabis bermimpi saya ditampar kata: dia siapa yang ada dalam mimpi itu? tanyanya

Saya harus jawab apa? dengan segala pikiran di hari ini. Saya sangat ingin dia menjawab telepon karena suaranya membayar rindu. Dia berhasil membunuh kehilangan dan itu padam seketika.

Baca juga:

Dia yang dilukiskan dengan kata dan penghayatan yang abstrak, meminta agar saya meniadakan semua itu. Saya yakin? itu seperti saya menanggalkan pakaian saya dan telanjang di tengah keramaian, namun dia memaksa.

Dia berhasil keluar dari segala macam penyiksaan yang saya bebankan selama ini. Ini langkah awalnya untuk melihat dunia yang luas dan komplit. Ini kesengsaraan yang harus dipikul sendiri. Semoga ya semoga, kedukaan yang selama ini dia temukan menjadikannya perempuan dewasa yang dia pelajari selama dalam penjara.

Saya adalah orang lain yang akan dia pandang. Dia begitu abadi yang selalu saya lukis setiap kehidupan dari kata selamat pagi dan selamat beristirahat.

I Love You More

DIA bukan awal dan akhir di hari ini. DIA tak ada habisnya yang selalu tumbuh.

Yovinianus Olin
Latest posts by Yovinianus Olin (see all)