Minke Dukung Syariat Islam?

Minke Dukung Syariat Islam?
©Bumi Manusia

Fragmen paling menarik dari film Bumi Manusia bagi Amin Mudzakkir adalah ketika Minke menulis soal hukum kolonial vs hukum islam.

Ia menyorot bagaimana tokoh utama dalam film besutan Hanung Bramantyo tersebut berusaha mempertahankan pernikahannya dengan Annelis yang dianggap tidak sah oleh pengadilan kolonial. Ia mengupayakannya melalui penggunaan keputusan agama sebagai bukti tandingan.

“Minke berharap, dengan mengangkat isu tersebut, umat akan marah, sehingga pernikahannya bisa diselamatkan.”

Dan, sebagaimana digambarkan sang sutradara, umat memang marah. Mereka berdemontrasi sambil menyeru allahu akbar.

“Namun para hakim Eropa bergeming. Bagi mereka, hukum islam hanya berlaku internal yang tidak bisa dijadikan dalil di hadapan pengadilan kolonial.”

Berdasarkan fragmen di film yang diangkat dari novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer itu, Amin pun mempertanyakan apakah Minke bisa disebut sebagai pendukung syariat islam atau tidak.

“Saya kira iya. Tapi cukup jelas motivasi dan tujuannya sangat pragmatis. Minke melirik islam karena dianggap bisa mempertahankan pernikahannya, bukan karena alasan lain.”

Sebagai seorang lelaki Jawa abangan, meski belum menikah, Minke memang tampak tidak merasa berdosa ketika bercinta dengan kekasihnya, Annelis. Dan perasaan semacam ini, kata Amin, adalah perasaan yang juga sangat mungkin akan dirasakan para santri untuk pertama kalinya.

“Bukankah itu yang terjadi di balik fenomena merebaknya aspirasi syariat akhir-akhir ini di ruang publik kita? Tidak semua pendukungnya pro-khilafah atau negara islam. Umumnya mereka ikut-ikutan. Di antara mereka terdapat para pemuda dan pemudi hijrah yang merasa harus melakukan penebusan dosa atas perbuatan masa lalunya yang kelam.”

Di sisi lain, lanjut Amin, fragmen tersebut juga mengajarkan satu hal: bahwa apirasi syariat yang merupakan bagian dari islam politik itu adalah satu contending forces. Ini sah dalam pembentukan nasionalisme Indonesia.

“Di awal abad ke-20, ia adalah ideologi anti-kolonial yang efektif dalam memobilisasi massa.”

Namun yang menjadi masalah, mengapa sekarang aspirasi syariat islam menjadi terlihat menakutkan, terutama bagi kaum minoritas? Apakah ini merupakan kegagalan para pendukungnya dalam mengubah semangat anti-kolonial mereka ke dalam energi yang lebih positif bagi masyarakat multikultural?

“Yang pasti, menurut saya, sosok Minke yang canggung dalam film Bumi Manusia besutan Hanung mewakili secara baik posisi aspirasi syariat islam di masa sekarang.” [fb]