Misteri Gus Dur si Tukang Tidur

Misteri Gus Dur si Tukang Tidur
Ilustrasi: Gus Dur saat tertidur

Nalar Politik Salah satu kebiasaan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang dikenal luas adalah suka tidur. Tak tanggung, ia pun kerap dijuluki sebagai si tukang tidur karena kebiasaannya yang mudah terlelap di mana dan kapan saja.

Ya, mantan Presiden Republik Indonesia ini memang lazim menampakkan dengan kebiasaan tersebut. Baik saat tengah duduk di kursi tamu undangan pada suatu hajatan, di kendaraan, di sidang paripurna DPR, dan di banyak momentum penting lainnya, kebiasaan itu nyaris tak pernah ketinggalan. Ia memang tukang tidur.

Karena kebiasaannya ini, banyak orang yang kerap jengkel. Bahkan, seorang cendekia muslim bernama Jalaluddin Rahmat pernah menyampaikan kekesalannya tersebut pada sahabat Gus Dur, Ahmad Mustof Bisri alias Gus Mus.

“Gus Dur dianggap tidak sopan. Bagaimana tidak? Wong salah seorang pemimpin negara Islam Iran mau bicara dan berdialog, Gus Dur justru tidur. Ngorok lagi. Begitu Kang Jalal (Jalaluddin Rahmat) mengeluh,” ujar Gus Mus seperti dilansir Kompas.com, Kamis (7/9/2017).

“Kejengkelan Kang Jalal tentu mudah dipahami. Pemimpin tertinggi Iran itu idolanya,” lanjut pelantun puisi Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana? itu.

Seperti disebutkan di awal, kebiasaan tidur Gus Dur ini sering disaksikan juga oleh hampir seluruh rakyat Indonesia.

Misalnya, saat Gus Dur menghadiri sidang pleno di DPR. Gus Dur, yang saat itu menjabat sebagai Presiden RI ke-4, duduk di atas kursi dengan kepala tampak miring. Gus Dur tidur saat para anggota dewan sedang bicara silih berganti.

Meski demikian, kata Gus Mus, saat giliran berbicara, Gus Dur bangun dan bisa menjawab tangkas dan cerdas ketika ketika ditanya.

Hal itu pun pernah ditunjukkan pula saat Gus Dur tertidur di tengah pidato pemimpin Iran. Ia bangun setelah pidato usai, bahkan mengangkat tangan terlebih dahulu untuk meresponnya.

“Itu menunjukkan bahwa dirinya sangat memahami isi pidato pemimpin Iran itu,” terang Gus Mus kembali.

Sebuah Siasat

Belakangan, Jalaluddin yang sebelumnya jengkel dengan kebiasaan Gus Dur pun justru menjadikan sosok Gus Dur sebagai idolanya.

“Kang Jalal terpesona, terpana,” ungkap Gus Mus.

“Sesudah pengalaman itu, orang yang tidak disukainya itu berubah menjadi sahabatnya. Bahkan Kang Jalal mengagumi, menghormati, dan mencintainya,” sambungnya.

Karenanya, Gus Mus pun merasa tak ada yang aneh dari kebiasaan Gus Dur yang suka tidur itu. Baginya, ada siasat di balik kebiasaan tokoh Nahdlatul Ulama itu.

Manakala menerima undangan untuk diskusi, seminar, simposium, dialog, konferensi, dan sejenisnya, Gus Dur lebih dahulu mencari tahu tentang pembicaranya.

Ia lalu mempelajari pikiran-pikiran, perspektif, dan gagasan si pembicara melalui karya tulis maupun ceramah yang ditemukan. Dari bahan-bahan yang dipelajari tersebut, Gus Dur menangkap apa yang akan disampaikan si pembicara kelak.

“Paling-paling tak jauh dari itu juga,” kata Gus Mus menirukan pernyataan yang pernah disampaikan Gus Dur kepadanya.

___________________

Artikel Terkait: