Mistisisme Islam Profesor KH. Sahabuddin (Nur Muhammad)

Mistisisme Islam Profesor KH. Sahabuddin (Nur Muhammad)
©Dok. Pribadi

Mistisisme Islam Profesor KH. Sahabuddin (Nur Muhammad)

Saat ini kami mencoba membaca dan mengerti isi buku Nur Muhammad, “Pintu Menuju Allah telaah atas pemikiran Sufistik Syekh Yusuf al-Nabhani” adalah judul buku yang ditulis oleh almarhum profesor KH. Sahabuddin seorang mursyid tarekat Qadiriyah yang memiliki banyak jamaah sekaligus sebagai seorang akademisi, dosen agama di berbagai kampus agama.

Namun, kali ini kami belum bisa “meresensi” buku dengan baik dan benar, maka dari itu, kami akan hanya saja meringkas isinya. Buku ini merupakan hasil dari penelitian beliau selama menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga. Semula, disertasi ini berjudul, “Syekh Yusuf Ibn Ismail al-Nabhani (1265 H/ 1865 M – 1345 H/ 1945 M) Studi tentang Nur Muhammad.” Kemudian ketika menjadi buku tulisan tersebut diubah menjadi seperti kalimat diawal paragraf.

Buku ini dieditori oleh Drs. Muh Sybli dan kawan-kawan. Diterbitkan oleh PT. Logos Wacana Ilmu di Ciputat. Cetakan kedua Rabiul awal, 1423 H / Mei 2002. Tebal buku sampai 204 halaman. Kami membelinya dari sebuah toko shop di media sosial Tik Tok karena kami tidak mendapatkannya di toko buku seSulselbar dengan harga yang tidak sampai 50k.

Pada bagian abstraksi prof. Sahabuddin menulis bahwa karya ini berasal dari disertasi yang membahas konsepsi Nur Muhammad menurut Syekh Yusuf al-Nabhani. Permasalahan pokok yang dikaji adalah ciri pemikiran al-Nabhani dan mengapa ia berbeda dengan para penggagas Nur Muhammad lainnya seperti Al-Hallaj (224-309 H. /858-922 M.), Ibnu Arabi (560-638 H./ 1165-1240 M.), Al-Jili (767-811 H. /1365-1409 M.), dan al-Burhanpuri (w. 1030 H. / 1620 M.).

Adapun metode yang digunakan dalam studi ini adalah analisis-komparatif. Sedang langkah-langkah yang ditempuh yakni dengan mengumpulkan data kualitatif topik penelitian yang diteliti. Kemudian penulis menganalisis struktur fundamental pemikiran al-Nabhani tentang Nur Muhammad dan membandingkannya dengan pandangan para tokoh pengkaji Nur Muhammad lainnya.

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa, baik al-Hallaj, Ibnu Arabi, al-Jili, al-Burhanpuri maupun al-Nabhani sendiri sepakat bahwa Nur Muhammad mengandung pengertian: “Sempurna”. Sebab ia merupakan wadah tajalli (penampakan diri) Tuhan. Kesempurnaan tajalli Tuhan hanya ada pada insan kamil (manusia paripurna).

Ciri pemikiran al-Nabhani, antara lain: ada dua (2) ciptaan Tuhan paling awal, yaitu: Nur Muhammad dan al-Haba’. Dari Nur Muhammad diciptakan al-Qalam (pena), lauh al-mahfuz, al-arazy, malaikat, langit, bumi, dan segala isinya. Sedangkan al-Haba’ adalah yang pertama tercipta di alam ini dan melaluinya (al-Haba’) Nur Muhammad menampakkan diri pada alam semesta.

Bagi al-Nabhani, Nur Muhammad itu “tercipta”, dan tidak “melimpah” sebagaimana teori emanasi (al-Faid) Plotinus. Sebab, ia bukanlah kaifiyah, ia bukan zat terbentuk; ia hanya sebuah nama. Itulah sebabnya, al-Nabhani tidak menggunakan istilah al-Hulul, al-Lahut, al-Nasut, dan atau wihdat al-wujud dalam melabeli konsep Nur Muhammad yang digagasnya. Di samping itu, ia hendak menunjukkan bahwa konsep Nur Muhammad bersumber dari Islam bukan filsafat Yunani.

Baca juga:

Nur Muhammad bagi al-Nabhani memiliki dua (2) sifat, yakni qadim, dan sekaligus hudus (baharu). Ia qadim ketika bertemu dengan Tuhan dan hadist pada saat bertemu dengan manusia dan alam. Pertemuan Tuhan dengan manusia dan alam hanya dapat terjadi melalui Nur Muhammad. Aplikasinya pada manusia dan alam itu fana’ (lebur) dalam Nur Muhammad. Jika ia tidak pernah “bercampur”, “lebur” dan bersatu pada dengan Tuhan.

Al-Nabhani juga melihat adanya; (a) hubungan antara Tuhan dengan Nur Muhammad dalam QS. Al Fath / 48:8-9 dan QS. Al-Taubah / 9:62. Allah dan Rasul-Nya disebut dalam dhamir mufrad /huwa, dan bukan mutsana / huma, dalam kalimat syahadat, adzan dan iqamat keduanya disebut secara “bergandengan”. (b) hubungan Nur Muhammad dan Muhammad SAW keduanya ciptaan Allah, dan hanya saja Nur Muhammad bersumber dari Nur Allah,dan nabi Muhammad SAW, dari Nur Dzat semata. (c) hubungan Nur Muhammad dengan manusia beriman (hubungan kejadian). (d) hubungan Nur Muhammad dengan alam semesta, Nur Muhammad sebagai esensi segala ciptaan, maka alam semesta tidak akan ada tanpa Nur Muhammad.

Daftar Isi Buku ini

Buku yang kata pengantarnya ditulis oleh Dr. H. Alwi Shihab ini terdiri dari lima bab. Mulai dari bab I yang merupakan pendahuluan berisi tentang latar belakang studi, pokok permasalahan, tujuan dan signifikansi penelitian, metodologi penelitian, studi pustaka, dan garis besar isi.

Tema di Bab II adalah pemikiran Syekh Yusuf al-Nabhani tentang Nur Muhammad. Di sini berisi tentang; (A). Riwayat hidup mencakup latar sejarah kelahiran, pertumbuhan intelektual, proses belajar, masa berkiprah. Kemudian ada (B). Rumusan tentang Nur Muhammad yang membahas pengertian tentang Nur Muhammad menurut bahasa (etimologi), menurut istilah (terminologi).

Lalu ada (C). Pandangan tentang Nur Muhammad sebelum al-Nabhani, dan pandangan Nur Muhammad sesudah al Nabhani. Nur Muhammad menurut pandangan al-Nabhani itu sendiri yang merupakan pengaruh dari guru/ syekh/ mursyid, dan tentang Nur Muhammad. Selanjutnya, (D). Pemikiran al-Nabhani dalam perbandingan dengan; al-Hallaj, Ibn’ Arabi, al-Jill, dan al-Burhanpuri.

Selanjutnya, bab III. Pandangan Syekh Yusuf Al-Nabhani tentang berbagai hubungan Nur Muhammad dengan; Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, Manusia beriman, alam semesta. Bab VI dengan tema Nur Muhammad pintu menuju Allah berisi pengertian menuju Allah, Nur Muhammad dan pintu Allah, dan pertemuan (liqa’) Allah dengan Manusia. Terakhir, bab V. Penutup, kesimpulan dan saran-saran. Kemudian ada daftar pustaka, indeks, dan riwayat penulis.

Kesimpulan Prof. Sahabuddin:

Kami langsung ke kesimpulan saja, jika Nur Muhammad digambarkan dalam berbagai nama, namun bagi al-Nabhani bermakna satu. Perbedaan penamaan tersebut disebabkan oleh sudut mana memandangnya. Apabila dikaitkan dengan alam semesta, ia adalah asas penciptaan (awal penciptaan). Sebagai sumber ilmu pengetahuan, maka ia adalah akal yang pertama, sebagai wadah tajalli yang paling sempurna, maka ia adalah Muhammadiyah.

Baik al-Hallaj, Ibnu Arabi, al-Jili, al-Burhanpuri maupun al-Nabhani memberikan pengertian, bahwa kata Nur Muhammad mengandung arti sempurna. Kesempurnaan itu karena sebagai tempat penampakan Diri Tuhan. Meskipun alam juga merupakan tempat penampakan Diri Tuhan, tetapi penampakan itu tidak sempurna. Pada Insan kamil-lah Tuhan menampakkan diri-Nya secara sempurna. Penampakan itu bukan hanya penampakan fisik, dan psikis manusia, tetapi juga berseminya sifat-sifat Tuhan dalam diri insan kamil.

Baca juga:

Kekurangan dan kelebihan buku

Bagi kami yang awan pada bahasa Arab, kami agak susah mengerti jika ada penjelasan dalam kata dalam bahasa Arab. Kemudian, kami juga melihat penulisan profesor yang begitu serius, dan beberapa ejaan dulu. Mungkin jika ini mau dibuat lebih “gaul” ada beberapa bahasa yang bisa digunakan agar lebih “pop”.

Satu lagi, karena buku ini juga banyak membandingkan pengertian Nur Muhammad dari tokoh –tokoh sufi yang lain, mungkin sebaiknya juga membaca tulisan para sufi tersebut.

Bagi para penyusun disertasi, mata kuliah konsentrasi pemikiran Islam buku ini memberikan gambaran penyajian disertasi yang baik dan benar. Kepada penikmat kajian sufi, buku ini sangat direkomendasikan dengan padatnya isi perbandingan konsep Nur Muhammad dari berbagai tokoh. Setidaknya, ini akan menggugah batin, spiritual kita.

Dan menurut teman kami yang sudah mengkaji buku ini, Alpi, seorang anak muda yang dekat dengan dunia tasawuf mengatakan bahwa, “Prof. Sahabuddin berusaha untuk mendamaikan teologi sunni dan sufi (dalam buku ini)”. Wah, ini terlalu sayang untuk dilewatkan.

Zuhriah