Mitos dalam Demokrasi

Mitos dalam Demokrasi
Ilustrasi: astrasolar.com.br

Nalar WargaAdalah sebuah mitos dalam demokrasi bahwa pemilu merupakan mekanisme untuk memilih yang lebih bagus, lebih baik, lebih berkualitas, dan lain semacamnya. Faktanya, indikator-indikator tentang apa yang disebut bagus, baik, berkualitas, dan lain semacamnya itu tidak pernah sama dalam kepala setiap warga pemilih.

Ambil contoh, memisahkan kehidupan beragama dari praktik bernegara, bagus atau jelek? Ini bisa dipertajam dengan banyak subindikator:

Apakah kementerian agama diperlukan? Apakah perlu UU mengatur kehidupan beragama? Apakah pasal penodaan agama masih relevan dipertahankan? Apakah Presiden harus dari agama mayoritas? Bolehkah ateis menjadi penyelenggara negara? Dan seterusnya.

Contoh lain, peran negara dalam ekonomi. Apakah negara harus memproteksi sektor-sektor ekonomi? Apakah subsidi barang/jasa harus diperbanyak atau dikurangi atau kalau bisa dihilangkan?

Apakah negara harus menyediakan barang/jasa layaknya sebuah pabrik? Impor atau swasembada? Dan seterusnya.

Daftar indikator dan turunannya ini bisa terus ditambah atau sebaliknya dikurangi hingga tidak ada sama sekali, bergantung pada perspektif dan seberapa concern seorang warga pemilih terhadap etika politik penyelenggaraan negara.

Juga, seberapa jauh ia memandang seorang kontestan pemilu harus dievaluasi oleh indikator-indikator tersebut.

*Nanang Sunandar

___________________

Artikel Terkait: