Moral, Akal, dan Politik

Moral, Akal, dan Politik
©Readnlove

Moral menuntut kesopanan bersikap dalam sebuah struktur sosial.

Akhir-akhir ini kita menemukan isu hangat di berita-berita, baik melalui media televisi maupun media lainnya. Namun, yang tampak bukan hanya tentang nobar (nonton bareng) pengkhianatan G30S/PKI, tapi juga isu konflik transportasi online dan umum yang menjadi tren dan makin hangat.

Kedua kubu ini pernah menjadi panas dan mencapai puncaknya pada Kamis lalu. Itu terlihat pada jalan fly over yang berlokasi di Makassar di mana penulis menjadi seorang saksi mata pada hal tersebut. Bahkan, kasus ini menuai korban sehingga patut untuk kita berikan perhatian.

Moral lebih merujuk kepada bagaimana kita merespons atau sikap kita terhadap seseorang. Hal tersebut juga bisa kita sebut sebuah sosialisasi. Pada dasarnya, kita merupakan makhluk sosial.

Mikhail Bakunin, seorang revolusioner berkebangsaan Rusia, juga mengatakan hal serupa di dalam karyanya Tuhan dan Negara. Yang sosial merupakan salah satu sifat alami (kebinatangan) manusia selain dari yang privat. Sifat alami tersebut merupakan juga salah satu dari tiga prinsip dasar dalam pembangunan manusia.

Namun apakah yang tampil dari moralitas? Apakah hanya sosial saja? Tentu saja tidak.

Moral menuntut kesopanan bersikap dalam sebuah struktur sosial. Jika seseorang yang lebih tua berhadapan dengan kita, sebaiknya kita harus berbicara sopan dan santun.

Dalam kasus transportasi online dan transportasi umum, para pengendara dari kedua kubu tersebut bertengkar tentang permasalahan itu. Para pengendara transportasi umum menuntut agar memberhentikan transportasi online yang telah mengambil lapangan pekerjaan mereka. Namun itu tak berakhir baik karena kedua kubu sempat menghebohkan dunia maya bagian Makassar akhir-akhir ini.

Ada berbagai alasan mengapa transportasi online tetap bertahan, namun kebanyakan lebih merujuk kepada hal yang praktis ketimbang moral.

Baca juga:

Akal memang merujuk pada sesuatu yang lebih logis. Jika kita praktikkan, yang logis itu akan menghasilkan keuntungan. Oleh sebab itu, transportasi online tetap berjalan karena banyak yang mendukungnya.

Akal menghilangkan nilai dari moral sentimen yang telah sejarah bangun, sehingga yang terlihat hanya keuntungan belaka. Sedangkan pemegang moral hanya bisa melihatnya di sebelah mata karena mereka merasakan kerugian.

Di dalam tiga prinsip dasar dalam pembangunan manusia yang Bakunin ungkapkan juga termasuk pemberontakan. Pemberontakan dalam ulasan Bakunin berkaitan dengan pembebasan.

Jika kita melihat apa yang terjadi dari kedua kubu tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa salah satu dari kedua kubu itu berusaha membebaskan diri dari kekangan logika. Begitu juga sebaliknya, kubu lain malah ingin memperlihatkan bahwa dia berhak juga bersaing dalam tantangan global saat ini. Mereka berdua menuntut kebebasan.

Jika akhir-akhir ini gencar isu kebangkitan PKI atau Partai Komunis Indonesia, kita sebaiknya memakai dua hal tersebut (akal dan moral) dalam menganalisisnya. Ungkapan yang paling tren yang terpicu saat ini berasal dari ungkapan terkenal oleh salah satu pendiri partai komunis di seluruh dunia, Karl Marx, yaitu “agama merupakan candu masyarakat”.

Ungkapan tersebut secara moral, jika kita lihat dalam sejarah, akan membangkitkan sentimen sosial yang dapat memicu para kaum agamawan karena itu ada kaitannya dengan moral yang telah terbangun (lagi-lagi) dalam sejarah kita. Siapa sangka jika mereka marah?

Seperti juga telah saya bahas di atas bahwa moral juga memperlihatkan adanya struktur sosial yang menuntut kita agar menjaga kesopanan kita. Jika kita berkata tak baik terhadapnya, tentu akan marah. Namun, yang menariknya adalah akal kita menjadi kendor.

Akal kita menjadi kendor karena kita hanya menerima sepotong-sepotong saja, namun muatan moralnya lebih berat. Satu kalimat bisa menghancurkan semuanya hanya karena muatan tersebut. Namun, apa yang menjadi kendaraan penghancur itu? Mengapa bisa menjadi viral sampai saat ini?

Halaman selanjutnya >>>
Yepihodov