Moralitas Kristiani versus Kenakalan Kaum Muda

Moralitas Kristiani versus Kenakalan Kaum Muda
©Pexels

Yesus Kristus adalah sumber moralitas kristiani. Yesuslah yang menguatkan, mendukung, memelihara, menegur, dan mengampuni kaum muda ketika mereka tidak menanggapi panggilan-Nya.

Kaum remaja merupakan generasi penerus bangsa yang unggul. Merekalah estafet masa depan bangsa. Perubahan positif akan bangsa di masa depan tergantung persiapan kaum remaja sekarang. Oleh karena itu, kaum remaja diharapkan mampu menjadi agen transformasi sekaligus generasi penerus yang unggul.

Semua harapan itu harus senantiasa dibarengi dengan bimbingan dan didikan yang lebih efisien dan tepat sasar. Hal ini sangat diperlukan karena akhir-akhir ini rasa-rasanya setiap bimbingan dan didikan dari lembaga formal seakan tak mampu mencegah kenakalan kaum muda yang makin menjadi-jadi yang menimbulkan pesimisme kolektif akan masa depan bangsa dan gereja yang lebih baik.

Hal tersebut di atas cukup beralasan. Lihatlah sekarang kenakalan di kalangan kaum remaja merupakan kenyataan yang tak dapat disangkal dan sudah seharusnya diberi perhatian lebih.

Dikatakan perlu diberi perhatian lebih, karena banyak dari kasus kenakalan itu telah menjurus kearah kriminalitas, mirip kriminalitas ala mafia. Kaum remaja melakukan tindakan di luar batas, menyimpang dari norma dan ketentuan hukum yang berlaku.

Surat-surat kabar dan media sosial pun seakan membuktikan itu, lewat berita-berita harian yang tidak terluput dari berita tentang kasus-kasus kriminal dan kenakalan. Sebut saja perkelahian (baik secara perorangan maupun berkelompok), pencabulan, pemerasan, pencurian, perampokan, kebut-kebutan di jalan, berpesta pora sambil mabuk-mabukan sampai pada pemerkosaan dan pembunuhan.

Belum lagi keterlibatan kaum remaja dengan ganja dan narkotika yang sangat membahayakan kehidupan dan masa depan mereka. Semuanya itu sangat menggelisahkan dan turut mengancam bangsa (Pos Kupang, 21/05/2017).

Dari uraian di atas, kita melihat adanya ketimpangan yang cukup pelik. Bahwa didikan  dari lembaga formal dan non-formal rupa-rupanya tidak berfaedah, karena kenakalan kaum remaja terus menjamur.

Hemat saya bahwa yang menjadi titik nadir dari pembentukan kaum muda adalah perawatan moralitas dasar kaum muda itu sendiri. Dalam konteks orang muda katolik, moralitas dasar hanya bisa dirawat dengan baik jika mereka memiliki kesadaran diri akan keberadaan mereka sebagai pengikut Yesus.

Lebih jauh lagi, kesadaran diri itu perlu diasah lewat merawat relasi pribadi dengan Yesus, Sang Guru. Untuk mengontrol itu, seperti yang dikatakan Paus Yohanes Paulus II, sangat dibutuhkan peran keluarga, khususnya orang tua dalam keluarga sebagai Gereja pertama (Sarlito, 2010).

Merawat Moralitas melalui Relasi Intim dengan Yesus

“Manusia tidak menciptakan moralitas semaunya, untuk memenuhi kebutuhan, keinginan, kecenderungan dan aspirasi mereka. Justru sebaliknya, moralitas yang mendefinisikan apa artinya manusia.” (Kohak)

Pernyataan Kohak di atas menunjukkan bahwa kualitas identitas seseorang sangat bergantung pada moralnya. Morallah yang mengangkat identitas dirinya sebagai manusia yang berbudi baik.

Lebih lanjut, menurut Psikologi Ervis Staus, moralitas adalah serangkaian aturan, kebiasaan atau prinsip yang mengatur perilaku manusia dalam hubungannya dengan sesama, suatu perilaku yang mencerminkan keluhuran manusia. Karena itu, moral menjadi salah satu elemen penting dari keberadaan manusia itu sendiri. Karena moral sebenarnya menjunjung tinggi kemanusiaan dan selalu berasal dari suara hati sebagai sumber moral itu sendiri (Sarlito, 2010).

Berbicara mengenai merawat moralitas kaum muda, khususnya kaum muda katolik, tidak terlepas dari memperhatikan secara serius masalah-masalah yang berpusat pada pembentukan suara hati dewasa yang kristiani. Dalam membina suara hati ala kristiani, kaum muda katolik sebenarnya harus lebih memperhatikan relasi personal dengan Yesus sebagai kebenaran sejati.

Relasi personal dengan Yesus Kristus mengantar kaum muda untuk makin akrab dengan komitmen dan kewajiban yang menyertai relasi itu sendiri, yakni berbuat kasih. Hal ini bertujuan untuk mencegah kaum muda katolik yang terjerumus ke dalam kenakalan remaja yang sangat memprihatinkan sekarang ini.

Akan tetapi, kaum muda sering cenderung menitikberatkan pada ‘relasi salah langkah’. Maksudnya adalah kaum muda sering melakukan hal-hal yang berkaitan dengan dosa, sehingga memutuskan relasi personal dengan Yesus Kristus.

Oleh karena itu, kaum muda perlu memasuki proses moral-spiritual sebagai umat kristiani. Sehingga kehidupan moral spiritual adalah proses pembukaan bertahap atas hakikat pribadi kita sebagai umat kristiani. Sungguh jelas bahwa kaum muda hendaknya lebih menekankan relasi yang intim dengan sang sumber hidup kristiani yang sejati.

Yesus Kristus adalah sumber moralitas kristiani. Yesuslah yang menguatkan, mendukung, memelihara, menegur, dan mengampuni kaum muda ketika mereka tidak menanggapi panggilan-Nya dengan berkata, “Mari ikutlah Aku.”

Baca juga:

Rahmat perjumpaan dari persahabatan yang senantiasa makin dalam inilah yang menyentuh kaum muda dan membimbingnya untuk memahami panggilan pribadinya atau kualitas sentral dan kemudian menanggapinya secara lebih penuh. Dengan demikian, kaum muda mampu menanggapi kebutuhan Gereja (Pius, 2014).

Mengalami proses pematangan moral, kaum muda pun turut berandil dalam perkembangan Gereja. Jadi, intimitas dalam relasi dengan Yesus sangat diperlukan.

Bila kita memusatkan perhatian pada pribadi dengan Yesus Kristus ini, maka komitmen yang relasional berkembang di tengah komunitas iman. Dalam komunitas ini, manusia hidup bersama orang lain, dipanggil pertama-tama lewat pembaptisan pun kemudian dikembang-suburkan melalui pemecahan roti dalam ekaristi.

Kaum muda berkembang makin matang, sikap moralnya pun makin terikat pada persahabatan dengan Yesus Kristus sebagai kepala Gereja (Emil, 2018). Dengan demikian, kaum muda yang sudah matang mampu mengikuti jejak Santo Paulus dan berani berkata seperti Santo Paulus; ‘hidupku yang sekarang bukan lagi milikku, Krituslah yang hidup dalam diriku.’ (Gal, 2:20).

Lebih jauh lagi, pembentukan sikap moral akan membantu kaum muda dapat secara bertahap untuk mewujud-nyatakan pilihannya menyangkut panggilan kerasulan yang nyata. Melalui pengalaman yang relasional dan personal dengan Yesus Kristus sebagai sahabat, maka tugas kerasulan akan diterima sebagai tanggung jawab.

Misalnya sharing kitab suci, katekese, rekoleksi, misdinar, lector, dan lain-lain. Hal ini pula membuat kaum muda bertumbuh menuju pemahaman yang sejati bahwa penderitaan, kekecewaan dan kesulitan hidup sungguh merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tanggapannya terhadap ajakan Yesus “Mari ikutlah Aku”.

Demi mengondisikan relasi personal dengan Yesus, di sini keluarga memiliki andil yang sangat penting. Suasana dalam kehidupan keluarga yang kurang harmonis dan pola-pola pendidikan yang kurang baik serta pengabaian sisi spiritual dalam proses pembinaan dapat menghambat perkembangan perilaku moral yang pada gilirannya dapat menimbulkan penyimpangan moral.

Oleh karena itu, internalisasi nilai moral yang bersandar pada relasi personal dengan yesus memberikan daya tangkas atau pencegahan secara dini bagi kemungkinan terjadinya perilaku amoral. Selain itu, pendidikan yang baik, komunikasi yang terbuka, dan latihan rohani akan membantu kaum muda merawat moralitas kristiani.

Latest posts by Rian Tap (see all)