Mudahnya Berwirausaha Sesuai Syariat Islam

Mudahnya Berwirausaha Sesuai Syariat Islam
©OPOP Jatim

Wirausaha adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber-sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan darinya serta mengambil tindakan yang tepat guna memastikan kesuksesan.

Sedangkan kewirausahaan adalah kemampuan kretif dan inofatif yang dijadikan dasar dan sumber daya untuk mencari peluang kesuksesan. Kewirausahaan bukanlah ilmu ajaib yang mendatangkan uang dalam sekejap, melainkan sebuah ilmu, seni, dan keterampilan untuk mengelola semua keterbatasan sumber daya, informasi, dan dana yang ada guna mempertahankan hidup, mencari nafkah, atau meraih posisi puncak dalam karier.

Kewirausahaan menjadi topik yang menarik untuk dibahas, terutama karena eratnya hubungan sektor ini dengan perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Melihat perbandingan kondisi wirausaha di Indonesia dengan negara lain mampu menjelaskan lambatnya pertumbuhan ekonomi khususnya di Indonesia.

Kewirausahaan diharapkan mampu mendorong generasi muda untuk berperan aktif dalam kegiatan usaha produktif terutama menjadi wirausaha, sehingga jumlah wirausahawan di Indonesia dapat meningkat. Peningkatan ini diharapkan mampu mendorong ekonomi negara di waktu mendatang.

Dalam pengelolaan bisnis dibutuhkan manusia yang baik, di mana pengelolaan bisnis secara etika harus menggunakan landasan norma dan moralitas umum yang berlaku. Penilaian terhadap keberhasilan bisnis tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan prestasi ekonomi dan finansial saja, tetapi juga diukur dengan tolak ukur nilai moralitas dan nilai etika yang dilandasi nilai-nilai sosial dan ekonomi serta nilai agama. Adapun etika bisnis itu sendiri adalah aplikasi etika umum yang mengatur dan menilai perilaku bisnis yang berisi norma moralitas.

Islam adalah agama yang universal, yang mana seluruh aspek kehidupan manusia diatur sesuai ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. Aturan Allah tidak lain adalah dapat bermanfaat untuk manusia itu sendiri, misalnya dalam hal perdagangan; jika semua orang mukmin berdagang atas dasar aturan Allah, maka tidak akan ada yang dirugikan, baik dari pihak konsumen, produsen, maupun masyarakat umum lainnya.

Dalam berproduksi Allah melarang produsen mencampur barang haram dalam barang produksinya. Maka dalam berwirausaha seorang mukmin haruslah menghadirkan Allah dengan berlandaskan Alquran dan Assunnah agar keuntungan dunia dan akhirat dapat tercapai. Keuntungan materi bukanlah tujuan utama seorang wirausahawan muslim, begitu pula dengan karakternya yang senantiasa berlandaskan Quran dan Sunnah.

Jika keuntungan sudah menjadi tujuan utamanya dalam berbisnis, maka sering kali pelaku bisnis menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya itu. Dalam hal ini tidak akan ada yang bisa menjamin, tentunya juga akan berdampak terhadap kegiatan negatif yang akhirnya menjadi kebiasaan buruk dalam kehidupan sehari-harinya seperti berbohonhg, berkhianat, dan lainnya, na’udzubillah min dzalik.

Baca juga:

Islam membimbing manusia dalam berbisnis, karena hal ini merupakan salah satu aspek kehidupan yang tidak bisa dihindari. Dan justru dengan adanya aturan islam inilah, kemudian bisnis seseorang mencapai tujuan falah (kesuksesan dunia-akhirat) dan hayyatan thayyiban (kehidupan yang baik dan sejahtera).

Berbisnis secara syariat Islam senantiasa telah mempertimbangkan nilai-nilai yang menjamin kesuksesan dan keberhasilan sebuah bisnis, karena bisnis bagi umat islam adalah serangkaian ibadah.

Dalam bekerja sebagai ibadah, seseorang juga harus memiliki etos kerja tinggi dengan menjunjung akhlakul karimah pada setiap pekerjaannya. Dalam berbisnis, seseorang harus menanamkan sifat jujur karena kejujuran adalah akhlak yang paling utama untuk memperbaiki kinerja bisnis.

Dengan jujur, orang lain akan senang bekerja sama karena selalu memberikan barang sesuai dengan kriteria yang diminta dan tidak cacat atau lainnya. Selain jujur, sikap amanah, toleran, menepati janji dalam berbisnis juga harus diterapkan.

Konsep berwirausaha dalam islam dikenal dengan istilah tijarah (berdagang atau bertransaksi). Konsep berwirausaha dalam Islam yang mengacu pada konsep wirausaha Nabi Muhammad SAW yang perlu ditiru dan diterapkan umat muslim, sebagai berikut:

1. Shiddiq (Benar dan Jujur)

Shiddiq artinya adalah berkata benar dan jujur. Seorang wirausaha muslim harus mampu meniru sifat Rasulullah SAW yaitu berkata benar, bertindak benar atau diam saja (jika tidak mampu berkata dan bertindak benar).

2. Amanah (Dapat Dipercaya)

Amanah yaitu sifat kepercayaan. Baik dari sisi internal maupun eksternal, amanah dan bertanggung jawab merupakan kunci sukses dalam menjalankan wirausaha. Memiliki sifat amanah akan membentuk kredibilitas tinggi dan sikap penuh tanggung jawab.

Halaman selanjutnya >>>
Ayu Ashabuljannah