Mulut Sukmawati dan Ketidaktahuannya

Mulut Sukmawati dan Ketidaktahuannya
©Liputan6

Publik kembali dihebohkan dengan pernyataan dari Sukmawati, anak dari seorang pahlawan nasional, bapak pendiri bangsa, dan juga presiden pertama RI Soekarno. Ia menggetarkan nalar dan hati hampir seluruh masyarakat Indonesia. Kata-kata yang keluar dari mulut Sukmawati dinilai sangat tendesius dan tidak rasional dalam logika umat (Islam) dalam hal ini.

Beliau dengan arogan melalui pidatonya mengutarakan pertanyaan kepada para hadirin disebuah acara diskusi: “Yang berjuang di abad 20 itu nabi yang mulia Muhammad atau Ir. Soekarno untuk kemerdekaan?”

Narasi yang dibuatnya ini ternyata berujung dan mendapat tanggapan sekaligus kecaman dari sebagian kalangan masyarakat karena dinilai negatif dan melecehkan. Sukmawati mencoba membandingkan Soekarno dan Nabi Muhammad Saw pada abad 20.

Mungkin Sukmawati tidak memahami bahwa semangat perjuangan Nabi Muhammad Saw akan selalu menjadi inspirasi, motivasi, dan dan memiliki energi abadi. Serta perjuangan beliau Muhammad akan selalu relevan dalam setiap perjuangan umat tanpa batasan ruang dan waktu. Termasuk perjuangan para pendiri negara bangsa Indonesia saat itu.

Faktanya, setiap pertemuan umat (Islam) di dunia dalam berbagai kegiatan, baik itu resmi maupun tidak resmi, kegiatan itu ilmiah maupun tidak ilmiah, tetap saja selalu ada kalimat yang akan selalu tersampaikan kepada sang Nabi Besar Muhammad Saw atas perjuangannya mengantarkan umat manusia dari zaman kegelapan menuju zaman pencerahan.

Ini yang membuat Sukmawati lupa diri dan lupa segalanya tentang siapa Nabi Muhammad Saw, entah itu di abad 19, 20, dan sekarang abad 21. Nabi yang mulia Muhammad tetap dan akan terus menjadi spirit perjuangan umat dan bangsa-bangsa.

Spirit Perjuangan Bangsa Abad 20

Perlu kita ketahui dan sadari bahwa perjuangan bangsa Indonesia untuk keluar dari penjajahan kolonial adalah sebuah proses yang panjang. Tapi apakah kita pernah bertanya, dari mana spirit perjuangan itu?

Sebelum kita menjawab pertanyaan di atas, saya ingin me-review kembali awal perjuangan bangsa setelah Islam masuk dan berkembang di Indonesia.

Sejarah masuknya Islam di Indonesia, yaitu melalui berbagai macam cara. Di antaranya adalah melalui perdagangan, perkawinan yang dimotori oleh para saudagar-saudagar Arab.

Proses penyebaran Islam dilakukan dengan pendidikan (pesantren), tasawuf, dakwah, kesenian, dan budaya. Dengan kehadiran mereka, maka tertarik pula kalangan putra-putri pilihan bangsa Indonesia untuk mendalami dan mempelajari Islam. Sampai mereka menjadi ulama besar dan aktif mendakwahkan ajaran agama Islam kepada rakyat Indonesia. Dari perjuangan itulah Islam sampai sekarang tumbuh dan berkembang di Indonesia.

Beti Yanuri Posha (2015) dalam tulisannya “Perkembangan Islam di Indonesia Pasca Kemerdekaan” menjelaskan bahwa perjuangan Islam tersebut tidak hanya sampai sebatas itu. Akan tetapi, perjuangan melawan penjajah pun nyawa menjadi taruhannya. Sehingga pada saat itu peranan Islam terhadap kemerdekaan mendapat andil yang sangat besar bagi bangsa Indonesia.

Sehingga kita bisa menjadikan peristiwa sejarah masuknya Islam di Indonesia sebagai spirit awal perjuangan bangsa Indonesia di abad 20. Ini yang harus dipahami betul oleh ibu Sukmawati sebagai anak dari pendiri bangsa ini.

Sukmawati Lupa Fakta Sejarah

Dulu Soekarno, ayahnya Sukmawati, Presiden pertama RI, dengan semangat berapi-api mengatakan jangan sekali-kali kita melupakan sejarah yang secara umum kita kenal dengan istilah “jasmerah”. Dengan sangat gampangnya Sukmawati melupakan kalimat itu sekaligus melupakan akar dan fakta dari sejarah Indonesia dalam hal meraih kemerdekaan.

Dalam riwayat hidup Soekarno, ada juga sosok yang sangat berperan penting di balik berbagai macam pemikiran dan perjuangannya tentang Indonesia merdeka, yakni seorang guru HOS Tjokroaminoto. Kesan Soekarno terhadap HOS Tjokroaminoto tidak pernah main-main.

“Dialah orang yang mengubah seluruh kehidupan saya,” tulis Soekarno dalam autobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat.

Tjokroaminoto adalah pendiri sekaligus ketua pertama organisasi Sarekat Islam. Ia juga adalah salah satu pelopor pergerakan di Indonesia dan sebagai guru para pemimpin-pemimpin besar di Indonesia. Berangkat dari pemikirannya pula yang melahirkan berbagai macam ideologi bangsa Indonesia pada saat itu.

Di Surabaya, Soekarno mulai mengikuti gerakan Islam dan lebih mengenal Islam melalui ceramah-ceramah pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Perkenalannya dengan KH Ahmad Dahlan kompilasi yang disajikan berceramah di dekat rumah Tjokroaminoto. Soekarno menuturkan, ia saat itu berhasil terpukau dengan ceramah-ceramah KH Ahmad Dahlan. Setelah itu, setiap Dahlan berceramah, ia selalu ikut.

Baca juga:

Kesadarannya Soekarno tentang Islam kemudian berkembang dengan kesadaran terhadap sikap antikolonialisme. Dan pergerakan Islam HOS Tjokroaminoto banyak memengaruhi Soekarno pada masa-masa itu.

Semangat perjuangan dan pemikiran para tokoh Islam di Indonesia, jika ditarik ulur, tentu muaranya sudah pasti dari proses masuk Islam di Indonesia. Sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas, bahwa ada peran ulama di situ. Di mana tugas utama ulama dari dulu sampai sekarang untuk berdakwah menyampaikan ajaran Islam seperti yang dilakukan Nabi Muhammad Saw di jazirah Arab.

Dalam konteks Pancasila sebagai dasar negara Indonesia merdeka juga terinspirasi konsep Piagam Madinah. Layaknya Piagam Madinah, Pancasila merupakan konsensus kebangsaan yang disepakati para pendiri bangsa (founding fathers) Indonesia.

Para pendiri bangsa di sini terdiri dari para ulama dan aktivis Islam. Mereka paham agama dan fikih siyasah sehingga negara berdasarkan Pancasila tidak menyalahi syariat Islam. Justru syariat dan nilai-nilai Islam menjadi jiwa bagi Pancasila. Ketuhanan, keadilan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial merupakan nilai-universal Islam yang terkandung dalam Pancasila.

Terakhir, saya pribadi tidak akan meminta Sukmawati untuk banyak-banyak meminta maaf, lebih banyak mawas diri, banyak bertobat, dan lain sebagainya. Tetapi yang ibu harus lakukan adalah banyak-banyak memahami fakta sejarah.