Mungkin, Hanya Aku yang Mencintainya

Mungkin, Hanya Aku yang Mencintainya
©Flare

Mungkin, Hanya Aku yang Mencintainya

Rara terbangun di tengah malam, tepat pukul 03.00. Ia masuk ke kamar mandi sebentar. Ketika keluar dari sana, ia menuju ke meja belajarnya. Ia sempat mengkhayal lalu menarik napas dalam-dalam. Kemudian ia menuju ke sebuah lemari kayu yang tampak terlihat tua. Ia mengambil sebuah buku berwarna merah muda, yang disampulnya tertulis DIARY, dan mulai menulis.

Dear Diary,

Hai, Riry, lama sekali aku tidak menulis sesuatu di sini. Namun, kali ini aku ingin menuliskan sesuatu di kamu, My Diary. Hampir setahun ini, aku memang lebih banyak curhat ke media sosial. Aku lebih suka pasang story, feed, reels, dan lain sebagainya, Ry.

Sebelum menulis tentang ini saja, aku harus menyakinkan diriku sendiri, apakah perasaanku kepadanya adalah benar? Apakah aku sungguh-sungguh mencintainya bukan sesuatu yang hanya dilandasi oleh nafsu atau emosi sesaatku ketika aku lagi sendiri (tanpa partner)? Apakah ia adalah My Twin Flame?

Twin flame atau kembaran jiwaku yang dalam bahasa Indonesianya artinya api kembar, atau  lebih tepatnya dengan sebutan kembaran jiwa. Seseorang yang benar-benar datang untuk mengisi hidup dengan koneksi cinta spiritual. Cinta dan spiritual adalah sesuatu yang tak bisa dipisahkan.

Kamu tahu, kan, Ry? Selama ini, aku adalah seorang perempuan yang berhubungan dengan laki-laki lain dalam koneksi karmik dan soulmate. Karmik merupakan hubungan karma, koneksinya penuh dengan drama. Mungkin juga bisa dibilang toksik, aku dan orang itu saling mencintai namun aku merasa cintaku padanya tidaklah sebesar cintanya padaku.

Yah, itu si RJ, Ry. Laki-laki yang dulu aku bilang manis itu. Laki-laki yang dulu aku bilang pintar itu. Laki-laki yang saleh itu ternyata salah. Hubungan kami selalu mengalami pasang-surut, terkadang komunikasi kami yang tidak nyambung, kami juga sering bertengkar karena hal-hal kecil.

Dan maaf, ujung-ujungnya aku tahu, RJ adalah laki-laki yang toksik. Toksik di sini maksudku karena selama pacaran, RJ hanya modal dengkul. Lebih dari itu, RJ adalah laki-laki mokondo. Ada hal-hal yang dilakukannya terkadang di luar batas, padahal aku adalah pribadi yang menjaga sesuatu sampai waktunya tiba, pernikahan.

Baca juga:

Aku juga pernah berhubungan dengan laki-laki yang kuanggap soulmateku, atau belahan jiwaku. Itu si HA, Ry. HA yang cakep, pintar, kaya namun ia adalah laki-laki yang terlalu menurut pada orang tuanya, terutama ibunya. Hingga, ujung-ujungnya kami harus berpisah karena ada hal-hal yang tidak kami sepakati bersama. Padahal, aku dan ia nyambung dalam banyak hal. HA yang seprofesi denganku juga mendorongku dan membantu dalam mengerjakan tugas-tugasku.

Kini, setelah aku berkenalan dengannya, sebut saja inisialnya AG, aku merasa AG adalah laki-laki yang berbeda yang selama ini aku kenal. Tak dimungkiri, aku selalu suka sama laki-laki yang tampan dan pintar, seperti laki-laki yang kukenal sebelumnya, ganteng, gagah, dan pintar. Namun, AG punya pemikiran yang sangat luas dan berbeda dengan mereka-mereka yang pernah kucintai.

Awal pertemuan kami pun sangat luar biasa, ketika aku hadir di suatu seminar bertema “Pemikiran Orientalis” di mana AG sebagai pembicara utama. Orientalisme adalah cara pandang barat terhadap timur. Aku pun sempat bertanya, bagaimana dengan cara pandang timur sendiri terhadap barat atau oksidentalisme? AG menjawabnya dengan bijak.

Setelah acara selesai, aku yang masih penasaran dengan orientalisme ini berkesempatan ngobrol dengan AG tentang materinya tadi. AG lalu menjelaskan lebih rinci dan panjang lebar tentang perspektif orientalis itu.

Ketika AG menjelaskan, aku merasa tidak berada dalam gedung pertemuan itu, Ry. Tapi, di suatu tempat yang mana hanya ada kami berdua dalam suatu ruangan khusus. Lalu, mengapa tiba-tiba hatiku berkata, dia adalah orang yang kucari selama ini? Seseorang yang bisa menjelaskan ilmu tanpa merasa diri yang paling benar.

Tak terasa kami ngobrol hampir dua jam sendiri. Jika temannya tidak memperingatkan ada acara yang lain, mungkin aku dan AG masih ngobrol lebih lama.

Setelah itu aku meminta nomor HP-nya, lebih tepatnya nomor WhatsApp (WA-nya), aku pun menghubunginya duluan. Aku yang baru saja kenal dengan AG, namun merasa sangat dekat dengannya.

Sejak pertemuan itu, walaupun tak saling bertemu, kami berhubungan melalui media sosial: WA, IG, FB. Kami kembali diskusi melanjutkan obrolan yang bukan hanya tentang orintalisme, tetapi semua hal. Mulai dari makanan, musik, tokoh, sampai pada tentang makna kehidupan yang mendalam.

Halaman selanjutnya >>>
Zuhriah
Latest posts by Zuhriah (see all)