Mushaf yang (Di)hilang(kan)

Mushaf yang (Di)hilang(kan)
Ilustrasi: bmbf.de

Dalam perkembangan agama, para pemeluk teguh sering bertikai soal otentisitas. Otentisitas, termasuk ontentisitas mushaf yang menjadi salah satu kriteria kebenaran sebuah pemahaman ajaran. Sering kali diabaikan di sini proses-proses sosial, politik, dan budaya yang mempengaruhi pemikiran dan perumusan (sistem) ajaran tersebut, suatu dimensi historis dari ajaran agama. ~ David S. Powers

Perkataan David S. Power di atas memang benar sekali. Kita sebagai pemeluk sebuah agama sering kali melupakan proses-proses dialogis agama yang kita peluk, dengan berbagai konteks yang melingkupi perjalanan kesempurnaan sebuah sistem dan panduan dari agama yang kita peluk itu.

Dalam melihat Alquran pun, kita juga demikian. Kita kadang (untuk tidak mengatakan sering kali) melupakan berbagai proses dialektik bagaimana kitab suci yang diturunkan pada Nabi Muhammad ini sampai pada kita.

Padahal, jika membuka lembar sejarah perjalanan Alquran, maka kita banyak menemukan proses-proses Alquran yang dibingkai dalam konteks politik, sosial, dan budaya, sehingga Alquran sampai pada tangan kita menjadi sebuah kitab suci yang seakan-akan sempurna perjalanannya.

Dalam tulisan ini, penulis ingin menyajikan bagaimana perjalanan dan proses-proses Alquran sampai pada kita menjadi sebuah mushaf yang utsmani. Padahal, jika membuka lembar sejarahnya, maka kita menemukan banyak di antaranya yang pernah ada di dunia ini.

Lalu pertanyaannya, ke manakah mushaf-mushaf selain yang utsmani itu? Dan apa saja isi yang non -utsmani itu? Apakah sama isinya dengan yang utsmani yang ada pada tangan kita sekarang?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, penulis akan mengajak pembaca untuk berwisata ke masa lalu, dengan menggunakan buku yang berjudul Kitab al-Mashâhif, yang ditulis oleh Ibnu Abi Dawud.

Judul buku itu Kitab al-Mashâhif. Artinya apa? Di dalam buku tersebut, penulisnya hendak menyampaikan pesan bahwa ada banyak, tidak hanya yang utsmani yang ada pada kita saat ini.

Setelah paragraf ini, maka rujukan tulisan ini adalah buku tersebut. Oleh karenanya, penulis tidak perlu menyebut nama buku itu lagi, karena penulis akan langsung menarasikan isi buku tersebut.

Ketika membaca tulisan ini, penulis menyarankan agar pembaca sambil menyeruput kopi yang agak pahit, karena kenyataan itu sering kali terasa pahit. Masih ingat mantan yang sudah ke KUA, kan?

Siapa Ibnu Abi Dawud itu? Dia bernama Abdullah bin Sulaiman bin Ats’ats bin Ishaq bin Basyir bin Saddad bin Amr bin Imran al-Azdi as-Sijastani. Tapi, dia lebih dikenal dengan nama Ibnu Abi Dawud.

Dalam mazhab fikih, dia pengikut mazhab Hanbali. Menurut pengakuannya, dia lahir di Sijastan pada tahun 230 H. Dan meninggal dunia pada tahun 316 H. Ketika meninggal, dia disalati oleh tiga ratus ribu orang dan proses salat janazahnya sebanyak delapan puluh kali.

Dalam dunia intelektual, dia dididik oleh orang tuanya sendiri, yang merupakan seorang ulama hadis besar di Basrah. Selain itu, dia juga belajar pada para ulama di masanya.

Sehingga, dari usia remaja, Ibnu Abi Dawud ini sudah menjelajahi Khurasan, Jibal, Persia, Basrah, Baghdad, Kufah, Makkah, Madinah, Syam atau Suriah. Mesir, Jaziran, Isfahan. Maka tidak mengherankan jika ketika dia meninggal dunia, pelayatnya sangat banyak sekali, karena dia adalah seorang ahli hadits yang hafal tiga puluh enam ribu hadits.

Kitab al-Mashâhif ini terdiri dari dua jilid. Jilid pertama terbagi dalam tiga juz, yaitu 1, 2, 3. Sedangkan jilid kedua terbagi menjadi dua juz, yaitu 4 dan 5.

***

Setelah Nabi Muhammad meninggal dunia, maka orang yang pertama kali mengumpulkan Alquran dalam bentuk di antara dua papan adalah Abu Bakar. Selain Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khatthab juga mengumpulkan.

Imam Ali ini sangat progresif untuk mengumpulkan Alquran. Ketika Nabi Muhammad wafat, beliau bersumpah tidak akan memakai jubah kecuali pada hari Jumat jika dia belum mengumpulkan Alquran. Setelah bersumpah, dia langsung mengerjakan keinginannya tersebut.

Saat ini, di tangan kita, kita hanya mengenal satu bentuk saja, yaitu ynag utsmani. Padahal ada banyak yang pernah ada. Yang mana saja yang pernah ada itu?

Selain ynag Utsman bin Affan, juga ada bentuk Umar bin Khatthab, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Mas’ud, dan Abdullah bin Abbas.

Kenapa sekarang bentuk-bentuk itu tidak ada? Karena disita oleh Utsman untuk penyeragaman bacaan, di mana pada masa kekhalifahannya, banyak umat Islam berbeda pendapat tentang bacaan Alquran, sehingga ada indikasi tumpahnya perpecahan akibat perbedaan bacaan tersebut (ingat Soeharto ketika melakukan seragamisasi? Nah, politik Utsman ini mirip).

Apakah bentuk-bentuk itu berbeda-beda? Mari kita lihat satu per satu isi tersebut.

Pertama, dalam bentuk Umar bin Khatthab, ayat terakhir dari suarah al-Fatihah berbunyi: shirotha man an’amta ‘alayhim ghairil maghdhubi ‘alayhim wa ghairidh dhâllīn.

Dalam sebuah kesempatan, Umar menjadi imam salat dan membaca ayat terakhir ini seperti itu. Dalam bentuk utsmani: shirothal ladzina an’amta ‘alayhim ghairil maghdhubi ‘alayhim wa ladh dhâllīn.

Dalam kesempatan yang lain, ketika menjadi imam salat Isya’ dan Subuh, Umar membaca surah Ali Imran: alīf lâm mīm, allahu lâ ilâha illaâ huwal hayyal qayyâm. Dalam bentuk utsmani: alīf lâm mīm, allahu lâ ilâha illaâ huwal hayyal qayyûm. Dalam bentuk Umar menggunakan kata qayyâm, sedangkan dalam mushaf Utsman menggunakan kata qayyûm.

Kedua, versi Ali bin Abi Thalib. Di dalamnya: âmanar rosûlu bimâ unzila ilaihi wa âmanal mu’minûn, yang artinya: (Muhammad) sang utusan itu telah kepada apa yang diturunkan kepadanya, demikian pula orang-orang mukmin beriman. Dalam bentuk utsmani, al-Baqarah ayat 285: âmanar rosûlu bimâ unzila ilaihi min robbihi wal mu’minûn, yang artinya: (Muhammad) sang utusan itu telah kepada apa yang diturunkan kepadanya, demikian pula orang-orang mukmin beriman.

Dalam versi Ali menggunakan kalimat wa âmanal mu’minûn, sedangkan dalam versiUtsman menggunakan kalimat min robbihi wal mu’minûn.

Ketiga, versi Ubay bin Ka’ab: falâ junâha ‘alaihi allâ yaththawwafa bihimâ, yang artinya: maka tidak ada dosa baginya tidak mengerjakan sa’i di antara keduanya. Dalam versi utsmani al-Baqarah ayat 158: falâ junâha ‘alaihi an yaththawwafa bihimâ, yang artinya: maka tidak ada dosa baginya  mengerjakan sa’i di antara keduanya.

Dan versi Abdullah bin Abbas senada dengan mushaf Ubay bin Ka’ab ini dalam ayat di atas. Dalam mushaf Ubay bin Ka’ab dan Abdullah bin Abbas menggunakan kalimat negatif, sedangkan dalam versi Utsman menggunakan kalimat positif.

Keempat, versi Abdullah bin Mas’ud: innallâha lâ yadllimu mitsqâla namlah, yang artinya: sesunggunya Allah tidak berbuat dhalim walau pun semut. Dalam mushaf utsmani, surah an-Nisa’ ayat 40: innallâha lâ yadllimu mitsqâla dzarroh, yang artinya: sesunggunya Allah tidak berbuat dhalim walau pun seberat atom (atau molekul). Dalam mushaf Abdullah bin Mas’ud menggunakan kata namlah, sedangkan dalam versi Utsman menggunakan kata dzarroh.

Dalam versi Abdullah bin Mas’ud ini, banyak bacaan yang berbeda dengan versi mushaf utsmani. Bacaan yang berbeda versi dengan mushaf utsmani itu ialah berada dalam surah al-Baqarah, awal surah Ali Imran, an-Nisa’, al-Maidah, al-An’am, al-A’raf, al-Anfal, at-Taubah, Yunus, Hud, Yusuf, ar-Ra’du, Ibrahim, al-Hijr, an-Nahl, al-Isra’, al-Kahfi, Maryam, Thaha, al-Anbiya’, al-Hajj, an-Nur, al-Furqan, as-Syu’ara’, an-Naml, dan masih banyak yang lainnya.

Selain mushaf-mushaf di atas, ada banyak versi lain, yang di dalam juga banyak berbeda versi bacaan dengan versi utsmani. Ada mushaf Abdullah bin Zubair, mushaf Abdullah bin Amr, mushaf Aisyah, istri Nabi Muhammad, dan versi Hafsah dan Ummu salamah, yang keduanya juga istri Nabi Muhammad.

Yang disebut di atas ini merupakan mushaf-mushaf para sahabat. Selain itu, juga ada versi para tabi’in, seperti versi Ubaid bin Umair al-Laitsi, Atha’ bin Rabah, Ikrimah, Mujahid bin Jabr, Said bin Jubair, Aswad bin Yazid dan Alqamah bin Qais, Muhammad bin Abi Musa, Hathan bin Abdullah ar-Raqasyi, Shalih bin Kaisan, Thalhah bin Musrif, dan Sulaiman bin Mahran.

***

Dalam masyarakat Indonesia, biasanya istri yang dipoligami itu tidak akur dengan madunya. Namun, ada yang menarik dari mushaf-mushaf tiga istri Nabi Muhammad di atas.

Mushaf-mushaf mereka ini senada, tidak berbeda satu sama lain dalam ayat berikut: hâfidlû ‘alas shalawâti was shalâtil wusthâ wa shalâtil ‘ashri wa qûmû lillâhi qânitīn, yang artinya: peliharah semua shalat, shalat wusthâ dan shalat Ashar dan laksanakanlah karena Allah dengan khusu’.

Dalam versi utsmani, surah al-Baqarah ayat 238: hâfidlû ‘alas shalawâti was shalâtil wusthâ wa qûmû lillâhi qânitīn, tanpa menyebut kata wa shalâtil ‘ashri. Hanya saja dalam versi Ummu Salamah tidak menyebut kalimat wa qûmû lillâhi qânitīn.

Jika ada pembaca tulisan ini tidak sepakat dengan apa ditulis di atas, boleh membantahnya dengan sebuah tulisan santainya di media. Atau bisa juga merujuk sendiri pada buku Kitab al-Mashâhif di atas jika butuh pdf-nya, bisa japri penulis di inbox.

Kenapa perlu merujuk pada Kitab al-Mashâhif? Karena buku ini sangat luar biasa memberikan informasi yang bagus untuk kajian akademik dan pemikiran Islam. Kitab al-Mashâhif ini berbicara kajian dan pemikiran yang saat ini hampir dianggap sebuah ketabuan dan bahkan bisa dianggap sebagai kemurtadan, kesesatan, dan kekafiran.

Misalnya, Kitab al-Mashâhif ini mengungkap ada ayat Alquran yang dikurangi dan ditambahi hurufnya oleh seorang gubernur yang bernama Hajjaj bin Yusuf dan juga ada seorang Kristen yang menulis mushaf untuk mencari nafkah keluarganya.

Setelah membaca tulisan ini, penulis berharap kita ini tidak lagi menuduh kitab suci orang lain sebagai kitab yang telah diubah-ubah, kitab suci palsu atau kitab suci karangan manusia. Karena kitab suci kita (yang pembaca muslim) juga mengalami sentuhan-sentuhan tangan, sosial, budaya, dan politik sebagaimana disampaikan di atas.

___________________

Artikel Terkait:

    Abd Walid

    Alumnus Madrasah Diniyyah Ulya (MDU) Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan | S1 Jurusan Studi Agama-Agama, Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Latest posts by Abd Walid (see all)