Najis dan Azis yang Berpolitik Asyik

Najis dan Azis yang Berpolitik Asyik
Ilustrasi: FB Saidiman Ahmad

Najis dan Azis menghabiskan masa kecil bersama di Parakajoe. Kampung mereka dipenuhi pohon-pohon rindang dan cericit burung di dahan-dahannya. Setiap petang mereka bermain di kali kecil pinggiran kampung yang airnya mengalir dari hutan tempat mukim para kera.

Suatu hari mereka menyusuri kali mencari udang yang bersembunyi di balik batu-batu. Tapi mereka bergerak terlalu jauh dan terperangkap dalam gelap hutan. Seisi kampung mencari mereka semalaman. Pencarian berhenti ketika beduk subuh terdengar. Lalu orang-orang pulang ke rumah masing-masing. Lelah.

Ketika matahari sudah terang, Najis dan Azis berjalan gontai dari arah hulu kali menuju kampung. Tangan keduanya menenteng ember kecil berisi udang hasil tangkapan kemarin.

Najis dan Azis memang tumbuh bersama sebagai sahabat karib. Segalanya dilalui bersama.

Lalu tibalah hari yang sangat tidak mereka harapkan. Hari pengumuman lulus sekolah dasar. Itu juga adalah hari perpisahan mereka. Asiz berangkat ke Tanah Jawa, melanjutkan sekolah di sebuah Pondok Pesantren di Kediri. Sementara Najis memilih masuk sekolah menengah umum di kota yang tak jauh dari kampungnya.

Bertahun-tahun setelah itu, nasib mereka berjalan berbeda. Azis masuk STAI, sementara Najis langsung terjun berwirausaha sehabis tamat dari SMK jurusan otomotif. Perspektif mereka kini berbeda. Cara pandang mereka tidak lagi sama. Pengalaman pendidikan yang berbeda mengubah banyak hal.

Satu-satunya yang tidak berubah dari mereka adalah persahabatan. Walaupun terpisah jauh, mereka tetap melakukan korespondensi. Mulanya melalui surat, kartu pos, email, BBM, WA, sampai chatting melalui aplikasi Line. Mereka saling berkabar dan bercerita mengenai pengalaman sehari-hari, tapi tak jarang juga berisi debat sengit.

Tahun 2014, perdebatan mereka meruncing soal pilihan politik. Najis memilih Jokowi yang dinilai merakyat. Sementara Azis yang bergaya masyarakat urban memilih Prabowo.

Namun, betapapun sengitnya mereka berdebat, persahabatan tak pernah pudar. Sehabis Pilpres 2014, debat sengit politik itu juga berhenti dan digantikan dengan cerita-cerita seru seputar kehidupan yang mereka jalani.

Tentang usaha bengkel Najis yang kian berkembang dan mulai membuka cabang di kampung dan kota lain. Tentang Asiz yang mendapatkan beasiswa LPDP ke New Zealand. Tentang kota dan kampung mereka yang terus berbenah dan kian maju. Tentang cita-cita hidup mereka yang satu per satu tergapai. Tentang hidup yang menyenangkan.

Lalu tibalah hari pendaftaran Capres-Cawapres. Korespondensi di antara dua sahabat ini mendadak berhenti. Hening.

Pada sore ketika Jokowi mengumumkan Cawapresnya, kedua sahabat itu tak saling memberi kabar. Esok harinya juga demikian. Dua hari setelah itu pun tetap sunyi. Tiga hari. Empat hari.

Di hari kelima, di wall Facebook Najis terpampang foto dirinya membelakangi kamera. Di kaosnya bertuliskan huruf besar jelas. Di baris pertama berisi perkenalan diri: “Gue Najis”. Baris selanjutnya tentang pilihan presiden.

Apakah ini semacam tantangan debat dari Najis untuk sahabatnya Azis sebagaimana 2014 lalu? Entahlah. Yang pasti berhari-hari kemudian tak ada respons dari Azis, baik di FB maupun chat langsung.

Azis memang tidak memilih Jokowi di tahun 2014. Namun berbulan-bulan kemudian dia mulai memperhatikan dan menaruh apresiasi pada pembangunan masif yang dilakukan mantan wali kota Solo itu.

Dia mulai menaruh harapan. Tapi harapan itu mendadak hancur ketika Jokowi memilih Ma’ruf Amin sebagai Cawapres. Dia sendiri menginginkan Sri Mulyani atau setidaknya Mahfud MD untuk mendampingi Jokowi.

Dia menilai Jokowi ternyata tidak setegas yang dia bayangkan. Dia tak mampu melawan ambisi partai-partai pengusungnya. Patah hati itu terus berlangsung beberapa hari. Namun lambat laun muncul kesadaran bahwa politik memang berisi kompromi-kompromi. Tidak ada pilihan ideal.

Sehari setelah pembukaan Asian Games 2018 yang meriah, di wall FB pribadinya, Azis mengunggah fotonya berkaos putih membelakangi layar. Di punggung kaos itu tertera: “Gue Azis, Pilih Jokowi Juga.”

Kedua sahabat sejati itu tersenyum-senyum sendiri di depan layar HP-nya masing-masing.

Bersambung…

    Saidiman Ahmad

    Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) | Alumnus Crawford School of Public Policy, Australian National University
    Saidiman Ahmad

    Latest posts by Saidiman Ahmad (see all)