Nalar Karl Marx: Negara dan Kekuasaan

Artinya, bukannya negara yang membentuk masyarakat, tapi masyarakat yang membentuk negara. Dibentuk oleh cara produksi yang dominan dan hubungan-hubungan produksi yang ada di dalamnya. Bahwa negara merupakan ekspresi politik dari struktur kelas yang melekat dalam produksi fakta potensial.

Jadi bukan representasi kolektivitas sosial yang berdiri di atas semua kepentingan kelompok atau individu yang seolah terpelihara secara teratur dan di lindungi oleh negara, melainkan sebuah institusi panitia penyelenggara kepentingan-kepentingan kelas dominan atau fakta diminasi.

Marx tidak tinggal diam, ia memberikan tawaran yang solutif atas ketidakberesan pertentangan fundamental ini, yaitu dengan memilih jalan revolusi “bersatulah buruh seluruh dunia”, maka runtuhlah sistem kapitalisme itu.

Namun Marx tidak lengkap atas proyeksinya. Ia melupakan subjektivitas dominan akibat determinisme ortodoks tentang basis dan supra struktur. Yaitu konsepsi klasik yang mengatakan bahwa masyarakat sipil berada pada “momen” basis struktur. Padahal di sisi lain, ia berkaitan erat dengan dominasi langsung, yang diekspresikan oleh Negara.

Justru karena itulah masyarakat kapitalis modern memperbaiki diri untuk tetap menjaga kekuasaan mereka atas para pekerja atau buruh, yang kemudia memicu pendekatan-pendekatan berdasarkan ide, ideologi, dan budaya sebagai variabel kunci dalam menganalisis negara dan masyarakat. Hal ini tersaksikan lewat gelombang pemikiran Kiri baru yaitu Critical Marxisme.

Fokus perhatian para intelektual Kiri baru adalah Superstructure of Ideology yang menjadi bahan analisis untuk menjelaskan bagaimana mungkin sebuah kekuasaan di negara-negara industri maju mampu mempertahankan lingkaran kekuasaannya sekaligus memberi legitimasi pada fakta dominan.

Gagasan Marx tentang negara tidaklah pernah dikembangkan secara penuh—walaupun dia pernah merencanakan suatu volume dari Das Kapital yang berbicara tentang negara, namun sampai dengan ajalnya hal itu tak sempat tertuang dalam karya tulisnya—dan ini menjadi semacam kekosongan yang serius dalam diskursus Marxisme.

Baca juga:
Lalik Kongkar
Latest posts by Lalik Kongkar (see all)