Nalar Sufi Altruis-Sosialis

Nalar Sufi Altruis-Sosialis
©Jornal da Mealhada

Bagi sufi altruis-sosialis, politik adalah ruang pertarungan altruisme yang membela kepentingan publik.

Manusia adalah makhluk yang berkeinginan (homo volens). Sejak zaman dahulu kala, selalu cenderung mendahulukan ego ketimbang sesama.

Kemudian fenomena ini dikukuhkan oleh Adam Smith menjadi sebuah rumusan. Bahwa masyarakat akan makmur jika setiap orang bebas mengejar kepentingan-kepentingan secara individual.

Apa yang dirumuskan oleh Adam Smith di atas akan lengkap jika ditambahi dengan konsep altruisme. Akhirnya, konsep ini lahir bersamaan dengan meningkatnya tingkat kesadaran akan pentingnya ikhlas beramal dan berbakti.

Jauh sebelum definisi dan arti kata keren “altruisme” yang merupakan sikap tidak mementingkan diri sendiri terhadap kebutuhan orang lain ini dipopulerkan oleh sosiolog kenamaan Auguste Comte pada abad 19; kalau mau jujur, Yesus sudah memberikan perintah untuk saling mengasihi.

Namun, dalam perkembangannya, pihak gereja justru sering menonjolkan egoisme di tengah-tengah masyarakat. Menjamurnya bangunan megachurch pada abad 21 adalah salah satu bukti keegoan pihak gereja.

Begitu pun di dunia Islam. Mereka berlomba membuat semacam megachurch, yaitu megamosque atau masjid-masjid yang megah. Bak istana yang sebenarnya kurang bermanfaat bagi tipikal altruisme yang telah berabad-abad dibangun dan ditanam di sana, Madinah al Munawara.

Megachurch dan megamosque merupakan prinsip keagamaan yang utilitas ekstrem. Dibungkus dengan kedok ajaran agama. Mereka lebih memilih kemewahan ketimbang rasa kemanusiaan.

Lihat saja bagaimana kegagalan khotbah-khotbah energik yang menggema oleh suara Joel Osteen, sang pimpinan megachurch Lakewood, Houston, Texas, yang gagal menampung korban badai yang melanda saat itu. Gereja yang terkenal mega dan luas bak stasion itu menutup pintunya rapat-rapat dari para pengungsi korban badai.

Baca juga:

Begitu pun masjid-masjid besar di Indonesia. Sudah pasti didapati dalam keadaan dengan pintu-pintu terkunci jika di luar waktu salat yang lima waktu itu. Bukan hanya masjid besar, yang kecil dan setingkat musala juga begitu.

Mereka lupa tentang praktik altruisme saat terjadi persaudaraan Muhajirin-Anshor. Penggambaran jiwa altruismenya terlihat begitu jelas dan bernas.

Altruisme yang timbul pada persaudaraan yang memiliki konsekuensi perilaku berbagi yang tinggi yang diwujudkan dengan bagi-bagi harta benda. Mempersaudarakan satu dengan lainnya.

Kekuatan altruisme yang sosialis tersebut akan memunculkan sikap dan perilaku yang antipolitik renten. Politik renten adalah nalar politik yang dibangun oleh egoisme. Pembesar dan politisi lebih mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompoknya saja dibanding kepentingan umum atau rakyat.

Nalar renten yang mengisap darah rakyat akan menghilangkan ruang altruistik. Pembesar dan politisi tidak sedang berlomba-lomba dalam kebaikan. Namun, sebaliknya, cenderung membuat kesepakatan dalam tindak kejahatan kepada rakyat.

Bagi sufi altruis-sosialis, politik itu adalah ruang pertarungan altruisme yang membela kepentingan publik. Ruang perlombaan kebaikan; bukan sebaliknya, berburu renten yang bernalar politik bejat.

Sufi altruis-sosialis memandang politik sebagai wahana sosial yang penuh dengan cara-cara paling damai dan akomodatif. Kelembutan tasawufnya selalu mempercantik kekuatan altruis-sosialisnya. Sehingga semuanya tampak lebih ramah dan santun dan terus berupaya melakukan dekonstruksi budaya kekerasan.

Baca juga:

Sufi altruis-sosialis tak perlu gentar dengan redaksi-redaksi seperti: siapa pun yang minum dari cawan kekuasaan, ia pasti terjatuh dari keikhlasan seorang hamba. Itu adalah sebuah pesimistis yang tak perlu terjadi.

Tarekat-tarekat sufi yang sering kali berpraktik altruis-sosialis, misal: Qadiriyah, Tijaniyah, Naqsyabandiyah, Rifa’iyah, dan Sanusiyah, mampu bersaing. Mereka kuat dalam perjuangan politik di negara-negara Afrika Utara.

Mereka berjuang melawan imperialisme Eropa. Sedang yang di Asia Tengah, gigih berjuang melawan kekuasan Rusia kala itu.

Dengan sentuhan moderat, akan tercoraklah sufisme yang lebih aplikatif dalam menghubungkan kesalihan yang bersifat pribadi dengan kenyataan-kenyataan sosial-politik. Hingga ia menjadi kekuatan yang besar dan sulit dipatahkan.

Kelebihan gerakan politik sufi altruis-sosialis adalah dominan di sinkretisme yang tampak banyak mempraktikkan kesalihan. Sehingga ia akan tampak bukan sebagai ancaman bagi kekuasaan politik yang sedang merajai.

Nalar sufi altruis-sosialis, yang juga asketis, memiliki keterlibatan lumayan besar dalam percaturan politik. Ini bukanlah sebuah bentuk ambivalensi. Sufi tidak tabu untuk berpolitik. Sebab politik juga perlu sentuhan kelembutan dan akhlak.

Kelebihan sufi altruis-sosialis lainnya adalah antianarkis. Sangat menentang dalih penegakan agama dengan kekerasan.

Tidak bisa dikatakan bahwa dia adalah seseorang seorang sufi altruis-sosialis jika terlalu asyik menyendiri beribadah dan tidak peduli dengan orang-orang lemah dan miskin yang hidup di sekitarnya.

Para sufi altruis-sosialis tidak mendefiniskan Tuhan sebagai persona yang ganas dan kejam (syadid al-‘iqab, al-muntaqim). Melainkan, Tuhan yang ramah dan toleran (ar-rahman ar-rahim).

Baca juga:

Mereka juga tidak memandang kitab suci sebagai pasal-pasal hukum yang mengancam dan menakutkan. Namun, lebih bijak, sebagai tamsil-tamsil kehidupan yang mencerahkan dan menggembirakan. Mereka tak berhenti di syariat, melainkan terus bergerak ke atas: mengejar makrifat dan hakikat.

Mereka selalu memandang politik sebagai jalan strategis yang seharusnya dicapai dengan tenang tanpa kebencian. Sebab, tidak ada ruang di hati mereka yang berisi kebencian kepada orang lain. Yang tertanam dalam jiwa mereka adalah perasaan cinta yang amat dalam kepada Tuhan.

Nalar-nalar politis altruisme yang membawa semangat dunia sufisme yang terkenal laku tirakatnya itu akan mengontrol semua sendi-sendi yang berbau hura-hura dan pemborosan. Menghapus protokoler-protokoler yang tak perlu serta menghabiskan anggaran negara itu.

Dengan tirakat, biaya protokoler-protokoler kenegaraan yang sebenarnya hanya terlihat sebagai pesta pora dapat ditekan untuk hal yang lebih bermanfaat bagi rakyat.

Namun, kenyataannya, di masa kekinian, kelompok yang mempunyai nalar politik sufi altruis-sosialis ini kerap dimanfaatkan oleh penguasa. Itu dijadikan sebagai bagian dari dukungan politik.

Karena kelembutan hatinya, justru terkadang menjadi bumerang bagi dirinya. Terbukti, hingga detik ini, mereka tak tahan lama di pentas politik, di belahan dunia mana pun.

Bahkan, lebih jauh lagi, mereka tersisih dan akhirnya kembali menempati pos-pos asalnya, mihrab peribadatan. Ternyata, politik itu perlu licik dan culas.

    Yudho Sasongko

    Latest posts by Yudho Sasongko (see all)