Nama Perempuan Itu, Ince(S)

Nama Perempuan Itu, Ince(S)
©Steller

Namanya Ince. Daun bibirnya yang penuh, menggurat garis lunak di atas dagunya yang hampir tepat setengah lingkaran. Seperti menyatakan dari kejauhan: hidup itu empuk. Karena itu, salahmu sendiri jika kau tak dapat tidur nyenyak.

Lalu, matanya menipis ketika bibir itu terbuka perlahan, seperti tawanya yang mengalun. Selesailah dunia! Dengan garis-garis wajah yang tertarik kuat dan wajar seperti itu, perempuan akan mengisi tatapan kosong setiap lelaki.

Namun, kisah perempuan itu bagai senja berawan pekat, mendung terus menggantung di langit-langit hidupnya. Parasnya yang tegar nan memesona itu sebenarnya menyembunyikan cerita hidup yang gersang.

***

“Nak, istirahat dulu. Jangan sampai kau kecapean dan kemudian memohon aku memijat tubuhmu. Jangan sampai pahat itu melukai tubuhmu,” suara seorang perempuan menegur anaknya yang dari tadi membantu suaminya membuat meja, pesanan orang.

Suaminya adalah seorang tukang yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Oyang Barang. Namun, upahnya tak seberapa karena pekerjaan itu sangat bergantung pada pemesannya. Jika lagi beruntung, pesanan yang datang melimpah. Jika pesanan sepi, ia akan menghabiskan waktunya mengolah kebun, tanah pemberian tetangga yang tak luas dan setiap tahun hasilnya tak cukup banyak untuk mengisi perut keluarga kecilnya bahkan selama sepertiga tahun saja.

“Ma, tak boleh marah-marah. Kan Mama bilang, marah itu tidak baik.” Anak itu berusaha memadamkan kecemasan ibunya, lalu tersenyum manis.

“Dasar keras kepala. Siapa yang menaruh batu-batu di dalam kepalamu? Dasar kepala batu. Sudahlah, terserah kamu. Namun, sebentar malam engkau harus belajar! Masa kau mau kalah terus dari Si Ishak, anak keluarga pegawai kantoran itu! Mesti ranking pertama di kelas.”

“Iyaa maaaa. Aman eee. Ishak itu kecil.” Anaknya menyahut cepat sambil menunjukkan jari kelingkingnya.

“Hmmm, tunggu ya di sini. Mama buatkan minuman untukmu berdua.” Perempuan itu berlalu.

“Seharusnya dari tadi. Hhhh, iya, iya.” Sang suami berusaha menggangu istrinya.

***

Senja September memerah di punggung Tanjung Gemuk. Langit mengencingi Adonara tak habis-habisnya. Gerimis sudah turun setengah jam lamanya dan tak juga membesar. Di selat Adonara Solor, laut baru saja mulai tenang setelah marah meletup-letup sepekan ini. Malam tumbuh perlahan dan merimbuni daerah itu.

“Ma, tubuhku ambruk, sakit sekali rasanya.” Anak itu mencoba menggoda ibunya.

“Jangan suruh-suruh aku. Suruhlah ayahmu. Toh, ia kan yang membiarkan engkau membantunya bekerja siang tadi. Lagian, kau pun keras kepala.” Perempuan itu kesal.

“Ayolah, ma… Jangan cemberut dan marah terus-menerus. Nanti kecantikan mama hilang. Tersenyumlah, mamaku sayang.” Anak itu mencoba melunakkan hati ibunya”.

“Iya… iya … mama mengalah. Tapi, janji ya, kau tak boleh nakal-nakal lagi. Apalagi melawan perintah mama.” Wanita itu tersenyum kecil. Matanya tampak lelah. Tapi, rasa sayang kepada anak itu seketika mengalahkan lelahnya. Ia pun gesit memijat-mijat tubuh anaknya.

“Aduhhh… mama, pelan-pelan. Bagian itu sakit sekali.” Anak itu menjerit ketika ibunya menekan dan meremas-remas lengannya.

“Tahanlah sejenak, nak. Ini yang terakhir… sudah…” Perlahan-lahan tangan perempuan itu bergerak meninggalkan lekuk-lekuk tubuh anaknya.

“Ma, maafkan aku yang nakal ini.” Anak itu berusaha mengalahkan kantuk yang sedang menyerangnya.

“Iya, iya… sudah dimaafkan kok.” Perempuan itu langsung menyambung.

“Leher mama jelek. Ada pulau besar.” Mata anak itu melekat erat pada leher ibunya.

Hhhmmm… tangan perempuan itu mengelus “pulau” di lehernya.

“Ini bukan pulau, nak, melainkan bekas luka. Hmmm, lupakan itu, tidurlah! Kamu terlihat lelah. Malam sudah tidak sabar menghadiahkanmu mimpi yang indah.”

Tangan kiri perempuan itu mengelus-elus rambut anaknya dan tangan kanannya sibuk mengelus bekas luka di leher bagian kirinya. Tiba-tiba kedua pipinya basah kuyup oleh air mata. Ia menangis kecil. Ia mengunjungi pengalaman yang dialaminya beberapa tahun silam.

***

“Aku malu! Malu sekali! Aku marah! Marah sekali! Tega-teganya kalian berdua melempar lumpur ke wajah kami.” Suara seorang laki-laki paruh baya menggelegar sampai ke telinga semua orang yang berkumpul di rumahku malam itu. Aku hanya tertunduk menyembunyikan air mataku.

“Ince, putri semata wayangku dihamili oleh Rian, sepupunya sendiri. Anak anak ini tumbuh bersama di bawah atap rumah ini.” Suaranya mulai menjulang.

“Tapi, aku sangat mencintainya, Om.” Agak gemetar suara Rian.

“Aku belum memberikanmu kesempatan untuk berbicara, goblok! Itu bukan cinta. Itu aib besar yang harus dipikul keluarga ini. Bebannya besar dan berat sekali, tolol.” Patah-patah suara pria itu.

“Tapi, bapa… aku sangat mencintai, dan aku sungguh tidak ingin hal ini terjadi.” Aku memberanikan diri.

“Ince, kau sudah berani membantah bapa?” Laki-laki paruh baya itu kemudian berdiri, menarik tubuhku lalu menghujamkan kepalan tangan kanannya yang besar berulang-ulang pada leherku. Rian pun berusaha melepaskanku dari cengkeraman bapakku.

“Kau mau melawan saya?” Bapa malah menantang Rian.

“Hentikan tindakan konyol ini, pa. Amarah tidak mampu menyelesaikan masalah ini.” Ibuku pun terisak dalam kata-katanya itu. “Malu kalau didengar orang.”

“Apa kau bilang? Malu? Apakah kamu lupa? Kita sudah malu!” Bapa membalas nasihat ibu. “Seharusnya sekarang kau paham anak yang selama ini kau manja-manjakan itu telah menusuk jiwamu sendiri.” Suara bapa tertatih.

“Ince, Rian, tinggalkan rumah ini dan jangan pernah kembali lagi. Biarlah anak-anakku yang lain bertumbuh dengan subur. Keberadaan kalian hanya akan menggangu perkembangan mereka. Ingat, Nak, kalian berdua masih terlalu hijau untuk memahami hidup ini.” Gemetar setiap kata yang diucapkan bapa.

***

“Belum tidur, Ma?” Suara sang suami mengagetkan istrinya itu.

“Iya, Pa, belum mengantuk.” Perempuan itu berusaha menyembunyikan raut kenangan itu.

“Ma, tadi siang, Aldy tanya, kapan kita berlibur ke rumah nenek. Ia mendapat kisah dari temannya tentang neneknya yang masih bisa membaca tanpa bantuan kacamata. Aku juga bingung bagaimana menjawab pertanyaan anak kita ini.”

“Tidurlah, Pa. biar fit besok.” Perempuan itu berkata lirih.

***

Nama perempuan itu Ince. Suaminya bernama Rian, sepupunya sendiri. Anaknya bernama Aldy. Mereka belum menikah. Mereka diusir oleh keluarga besar beberapa tahun lalu.

Mereka selalu menghindar dari pertanyaan-pertannyaan anak mereka, seperti kapan kita mengunjungi kakek dan nenek? Dan pertanyaan seputar acara sambut barunya yang akan dihelat tahun depan jika ia naik kelas, ranking pertama apalagi.

Keterangan:
  • Oyang Barang, nama sebuah desa di Kecamatan Wotan Ulumado Adonara Barat, Kabupaten Flores Timur.
  • Tanjung Gemuk terletak di Kecamatan Wotan Ulumado Adonara, Kabupaten Flores Timur.

*Tentang judul cerpen ini: kata “Ince” yang diberi tambahan S menyiratkan esensi yang ambigu.

    Ivanno Collyn

    Biarawan SVD, tingkat II di Seminari Tinggi Ledalero. Tinggal di Nitapleat dan mahasiswa semester III pada STFK Ledalero. Anggota Komunitas Menulis di Koran dan Diskusi Filsafat (KMK Ledalero). Akun Fb: Ivanno Collyn
    Ivanno Collyn

    Latest posts by Ivanno Collyn (see all)