Namun Gugusan Awan Masih Beku

Namun Gugusan Awan Masih Beku
©Grid.ID

Namun Gugusan Awan Masih Beku

untuk Elya

Berapa musim salju telah terlewat
demi kulihat sekelebat senyum
darimu sebelum ajal mendekat?

Dunia kian rapuh dan jauh dari utuh
saat kehadiranmu tinggal menjadi kenang
padahal selalu selama ini kau membayangiku
di segenap langkah kaki ini mengarah.

Biarpun besar keinginan tersimpan
di balik perasaan agar tidak kau pergi
tapi tahu bila mustahil aku
meminta aliran air kembali ke hulu.

Maka tetaplah bergerak maju
dan kala telah tiba laut padamu,
ucapkan salamku kepada matahari
yang akan menguapkanmu ke langit
untuk kembali turun sebagai air mataku.

10 Februari 2023
02:21

Pelukan Matahari

untuk Tsui
(teman imajinasi yang susah aku lepaskan)

(1)

Kakak di ingatan,
dia tersenyum
sebagaimana bintang-bintang.

Suaranya lebih merdu
dari seruling bambu
dan mata kasihnya
seterang kilap kulit kerang
serta mutiara perak di dalamnya.

Saat dia melisankan kitab suci,
Jibril pembawa ayat
kepada rasul sendiri
tersenyum-senyum malu
karena takut kalah merdu
dan pendengar
pembawa gunungan besi dosa pun
akan teringankan bebannya
bak mengangkat sekarung kapas.

(2)

Lihat, bila dia tertawa,
telinga akan mencicipi kesegaran
semacam jeruk manis yang dipetik
di awal pagi setelah hujan
membasahinya semalam lalu.

Angin-angin akan meniupkan
wangi kembang kopi
dari kebun seberang
bila dia disergap sunyi
sampai untai rambutnya
berdansa sebagaimana
daun-daun berguguran.

Kakakku kini pergi sudah,
malaikat membawanya
pulang kelangit untuk menyatu
dengan matahari. Jadi setiap terbit,
cahayanya akan aku terima
sebagai pelukan hangat
saat hati di dalam dada
melebihi dingin Antartika.

25 Januari 2023
23:33

Puncak Kerinduan

Seorang duduk di sudut kamar gelap
pagi masih buta dan di tangannya
tasbih berputar tanpa ujung akhir

Dia bosan dengan keduniawian,
cinta manusia makin mempercepat
laju pembusukan jiwa di dalam tubuhnya

Maka dia ambil secawan racun
dia tenggak dengan pelan dan anggun
dan saat tiba menghadap Tuhannya

Dia tersenyum dengan pipi semerah tomat
saat melihat keagungan wajah penuh kilau-Nya
dia bersujud memohon seribu ampunan

“Mengapa engkau bunuh diri sedang Kuberikan
padamu nyawa cukup panjang untuk mengenang-Ku?”
manusia lugu itu bilang, “Aku rindu pada-Mu!”

10 Februari 2023
21:25

Altruis

Arham, berhenti mendekati teman-teman baru bernuansa badai kesedihan. Hatimu bukan samudra untuk menampung semua airmata mereka. Kau pula bukan bahtera sekokoh buatan Nuh di zaman yang jauh. Dan boleh jadi kau bakal terbunuh dan karam karena besarnya nafsu untuk membuat orang lain merasa lebih baik, merasa lebih berharga. Merasa lebih menjadi manusia … saat mereka betul-betul mengira dirinya hanya daun kering ditiup nasib buruk dan nirguna.

Beberapa di antara orang yang meluberkan perih darah ke telingamu bahkan tidak menjawab saat kau menyapa mereka terlebih dahulu, saat kau membutuhkan mereka, saat kau hanya ingin berteman. Tahu? Mereka sejatinya bukan teman, mereka hanya kenalan yang di waktu tertentu membutuhkanmu dan pergi tanpa permisi saat hatinya sudah mulai ringan.

Kubur dalam-dalam, Arham! Kubur dalam-dalam. Tapi jiwa kanakmu yang lebih terang dari matahari mencabik kegelapan pikiran dengan kuku-kukunya, dan berbisik di samping telinga kanan, “Bukankah dengan mengobati mereka yang terluka, kau juga merasa terobati, Arham?”

24 Desember 2023

Cara Terbebas

Terpenjara
di rumah Allah

8 Januari 2023
15:26

Grimis Deras Syukur

Bila badai selalu berlalu
Mengapa kehadiran-Mu
terus saja menghujaniku?

3 Januari 2023
22:43

Arham Wiratama
Latest posts by Arham Wiratama (see all)