Nasib Guru Kini

Nasib Guru Kini
©Shalaazz

Yang paling elementer dalam aspek pendidikan adalah guru. Terhitung sejak reformasi, persoalan krusial dalam ranah pendidikan Indonesia, salah satunya, adalah ketidakmenentuan nasib guru.

Masalah ini begitu mengakar dalam ranah pendidikan kita yang sampai hari ini masih belum jelas dalam memberikan kepastian terhadap nasib guru. Hampir di setiap daerah, permasalahan ini mencuat karena lemahnya perhatian pemerintah memberikan suatu yang layak bagi guru.

Kondisi guru di setiap pelosok-pelosok hampir pasti selalu berkutat dengan persoalan yang sebenarnya menjadi hak mereka sebagai guru. Misalnya, upah bagi guru, sama sekali sampai hari ini persoalan tersebut belum tertangani secara serius dan masif oleh pemerintah. Guru honorer bahkan harus menerima upah yang kurang dari jam kerja mereka dan sama sekali upah diterima setiap triwulan. Sementara kebutuhan primer sebagai manusia mesti terpenuhi dan harus difasilitasi.

Percepatan pembangunan pendidikan di setiap daerah sering kali malah mengabaikan nasib guru. Dengan persoalan tersebut, guru-guru yang ada di setiap daerah mengalami permasalahan yang sukar memajukan pendidikan.

Basis utama pendidikan adalah guru, namun tetap saja nasib guru masih luntang-lantung.

Persoalan pendidikan sering kali lebih berfokus pada aspek-aspek yang kurang elementer. Salah satunya, pemberlakuan sistem zonasi di tahun 2018 yang sama sekali belum menyumbangkan percepatan pembangunan pendidikan.

Dengan niat baik pemerintah, sistem zonasi diberlakukan dengan tujuan, salah satunya, meniadakan sekolah-sekolah favorit. Fokus perhatian kita dalam mengembangkan pendidikan hanya berdiri dalam domain yang sebetulnya masih belum menyentuh persoalan krusial dari pendidikan.

Baca juga:

Percepatan iklim pendidikan dengan memfasilitasi beragam fasilitas (gedung, buku pelajaran dan komputer) tanpa menyentuh nasib guru, sama sekali kita sedang kehilangan rem dalam pendidikan. Kita sedang mengutamakan gas yang akan lebih mudah mempercepat pendidikan, tetapi rem (guru) yang menjadi kontrol penuh di sekolah bagi setiap siswa-siswi, nasib mereka masih menggantung.

Di titik seperti ini sebetulnya kita sama sekali keliru memahami pendidikan. Ruang pendidikan, di satu sisi, menghadirkan beragam program peningkatan bagi kualitas pendidikan. Sementara, di sisi lain, kita kehilangan gagasan untuk membangun hal yang paling elementer dari pendidikan, yaitu guru.

Di masa Perang Dunai II, Amerika dengan kekuatan atom menghancurkan pusat arus utama masyarakat Jepang, Hiroshima dan Nagasaki. Jepang saat itu kolaps dan sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa untuk melakukan penataan kembali negara yang telah dihancurkan.

Saat itu, pemerintah Jepang menyadari, yang bisa mengembalikan semua adalah guru. Guru menjadi garda terdepan yang memberikan serta membangkitkan kembali negara Jepang.

Di sini sebetulnya pemerintah mesti melihat bagaimana guru harus lebih diintensifkan melalui jaminan nasib. Peningkatan nasib guru di setiap daerah merupakan strategi yang paling baik dalam mempercepat pendidikan menuju generasi unggul.

Jaminkan Nasib Guru

Membangun pendidikan yang berbasis mutu dan kualitas perlu dibangun juga nasib guru. Bagian ini sangat penting dalam mempercepat pendidikan. Artinya, keseimbangan antara pemenuhan fasilitas pendidikan dengan nasib guru mesti berjalan berimbang.

Dari sini sebetulnya kita sedang mempersiapkan pendidikan dalam rangka mempersiapkan generasi-generasi emas. Menjamin nasib guru dimulai dari upah serta memfasilitasi keberlangsungan mereka sebagai guru.

Di daerah-daerah, saat ini tengah menghadapi kekurangan guru di setiap sekolah-sekolah. Apalagi sekolah yang baru didirikan, guru-guru yang mengajar masih sangat terbatas. Sehingga proses belajar dan mengajar tidak berjalan efektif.

Hal seperti ini mesti diupayakan melalui distribusi guru ke setiap pelosok-pelosok agar proses pembelajaran dapat berjalan sebagaimana mestinya. Namun, perlu ada rentang waktu yang diberikan bagi guru-guru yang didistribusikan. Misalnya, mengajar dalam waktu 2 tahun. Sehingga nanti jika ada guru-guru dari daerah setempat dapat mengajar di sekolah tersebut.

Kedua, mendorong kualitas guru melalui beragam pelatihan yang dapat meningkatkan soft skill dan hard skill. Ujian Kompetensi Guru (UKG) merupakan suatu yang sangat membantu bagi masa depan guru dalam meningkatkan percepatan pendidikan.

Guru harus diberikan kemudahan. Misalnya, saat mengurus administrasi di dinas pendidikan dan kebudayaan daerah, sering kali permasalahan yang dihadapi oleh hampir semua guru, proses administrasi sering menjadi kendala yang membuat guru sulit untuk berpacu lebih aktif.

Dengan memperhatikan beberapa poin ini, kualitas pendidikan kita di Indonesia akan lebih giat untuk mengembangkan proses pendidikan yang berbasis mutu dan kualitas. Saya percaya masih ada beberapa strategi-strategi jitu yang dapat mengangkat kembali derajat guru sekaligus menjamin nasib guru.

Pak Nadiem Makarim harus betul-betul memperhatikan nasib guru, agar pendidikan yang kita harapkan benar-benar tumbuh. Selamat Hari Guru. Terima kasih jasamu.

Patrisius Jenila
Latest posts by Patrisius Jenila (see all)