Nasihat Ronggowarsito kepada Fredrich Yunadi

Nasihat Ronggowarsito kepada Fredrich Yunadi
Fredrich Yunadi (Foto: suratkabar.id)

Saya begitu miris apabila mengetahui pembelaan bung Fredrich Yunadi terhadap pak (ke)tua DPR RI hanya karena ingin jalan-jalan keluar negeri dan membeli tas branded Hermes.

Mengalami zaman gila serba repot dalam bertindak
Ikut gila tidak tahan
jika tidak ikut berbuat gila tidak memperoleh bagian hak milik
akhirnya menjadi kelaparan.

Atas dari kehendak Allah
seuntung-untungnya yang lupa diri
lebih beruntung yang ingat dan waspada.

Penggalan syair Ronggowarsito tersebut, penulis anggap cukup untuk menggambarkan bagaimana dinamika dan problematika kehidupan anak manusia dulu dan kini. Dalam bertindak, seseorang kadang dipaksa untuk turut ambil bagian, sehingga tidak sedikit yang gila karenanya akibat luput dari rasa awas dan penuh kewaspadaan.

Begitu pentingnya pesan itu hingga membawa penulis menyoroti kasus Fredrich Yunadi, seorang anak manusia yang memiliki profesi mulia, berkesempatan menjadi pengacara, profesi yang pernah penulis damba sekaligus iba.

Fredrich Yunadi adalah pengacara kawakan yang telah puluhan tahun malang melintang di dunia hukum. Namanya kian mencuat antero tanah air tatkala totalitasnya dalam membela pak (ke)tua di DPR RI yang membuat setiap masyarakat garuk-garuk kepala.

Sebagaimana yang dituturkan Ronggowarsito tentang kehidupan yang terus mengalami perputaran (Cokro manggilingan), begitu pulalah keadaan turut menyelimuti kehidupan pria kelahiran Jakarta 1 Februari 1950 itu. Bagaimana tidak, setelah upaya mati-matian yang diberikan (kepada klien), justru rompi tahanan yang didapatkan sebagai imbalan.

Entah Fredrich Yunadi pernah belajar ini atau tidak, yang jelas masih ada cara untuk menaklukan cokro manggilingan. Ki Ageng Suryomentaram berpesan, “Kuasai tiga dimensi waktu: masa lalu, masa kini, dan masa depan, jika roda perputaran nasib ingin kau taklukkan.”

Atau jangan-jangan menghabiskan sisa hidup di rutan (rumah tahanan) yang memang Fredi dambakan/inginkan/cita-citakan? Wajar saja bila pesan ini sedari dulu diabaikan.

Setelah melakukan penulusuran, ternyata sejarah kehidupan Ronggowarsito tidak lepas dari  pengaruh orang-orang di sekitarnya. Pujangga kraton Kartasura Surakarta ini pun mengamini itu.

Sebut saja Ki Tanujoyo, yang banyak mengajarinya logika orang miskin; Kiyai Kasan Basari, tempatnya menimba ilmu sufi; Sodipuro II, kakek sekaligus guru sastranya; Gusti Pangeran Haryo Buminoto, wadah peraduan dalam mengasah ilmu kanuragan.

Lantas, bagaimana dengan bung Fredrich Yunadi? Seberapa dekatkah kau dengan keluarga Hermes sehingga merasa penting mengoleksi tas yang dipublikasikan Thierry Hermes pada tahun 1837 itu?

Kalau pak (ke)tua DPR RI, begitu bodohnyakah kau sehingga menganggap perlu berguru pada bung Fredi tentang cara membuat bakpao? Dan bung Hilman Mattauch, dari mana kau dapat ilmu kanuraganmu sampai-sampai tidak ada luka yang berarti setelah kecelakaan yang kau alami?

Benarlah, keberadaan orang-orang di sekitar juga turut andil dalam mempengaruhi tingkah polah kita. Sikap penulis pun demikian: kadang gemetar, kadang tegar.

Tapi, tidak usah risau karenanya. Yang terpenting ialah memilih dan memilah orang yang layak disertakan dalam hidup keseharian. Buka akses seluas-luasnya untuk siapa pun yang patut ditempel. Tutup akses serapat-rapatnya untuk siapa saja yang tidak perlu menempel.

Mulai hari ini sampai 20 hari mendatang, bung Fredi harus membiasakan diri bercengkrama dengan penghuni rutan, gedung Merah Putih KPK. Sembari menunggu apakah ancaman maksimal 12 tahun penjara akan diberikan, maka saran saya, nasihat Ronggowarsito tidak ada salahnya untuk direnungkan. Semoga saja menjadi bekal atas apa pun konsekuensi yang diterima Fredi di hari mendatang.

Bagi Ronggowarsito, mencapai kualitas hidup yang mapan perlu suatu tindakan. Tidak cukup sampai di situ, laku manusia mesti memiliki tata urutan yang beraturan. Seseorang tidak dapat melompat jauh untuk menggapai sesuatu sebelum langkah demi langkah berikut dilalui.

Topo Jasmani, artinya jasmani diberikan space atau ruang untuk beristirahat sejenak. Sebab keinginan yang terus memaksa jasmani bekerja ekstra, secara otomatis mengurangi kualitas hidup.

Kalau tidak percaya, pergilah belanjakan uangmu yang milliaran itu membeli kerupuk. Lalu paksa mulut dan perutmu mengonsumsinya. Pasti mati, terkecuali dokter ….. yang menangani. Ingat, menahan bukan meniadakan.

Topo budi, sederhananya ialah menghindari akhlak tercela dengan mengedepankan akhlak terpuji. Untuk urusan ini, setiap orang tidak perlu belajar selama pikirannya jernih dan otaknya waras.

Hemat saya, bung Fredi telah masuk klasifikasi itu. Kalau tidak, bagaimana bisa dia jadi pengacara? Tapi sayang, dia masih gemar dengan sesumbar menyombongkan kekayaan. Sementara waktu, nasihat ini cukuplah jadi PR selama bung berada di rutan.

Topo howo nofsu, tugas ini terbilang cukup berat. Tidak hanya bagi bung Fredi, penulis juga mengakuinya.

Mengendalikan empat jenis nafsu: lawamah (perut), amarah (telinga), sufiah (mata), mutmainnah (hidung) tanpa kehati-hatian akan berdampak kesengsaraan. Nafsu yang kebablasan akan menggiring sesorang untuk berkorban pada orang lain sekaligus mencelakakan diri sendiri. Iya, saya pikir persis seperti apa yang bung Fredi alami.

Topo Roso Sejati, memusatkan perhatian hanya kepada Tuhan, kapan dan di mana pun. Passion yang dibawa selalu menyertakan Tuhan. Tidak serta merta hanya menuruti kehendak orang lain maupun diri pribadi.

Begitu pun dengan klien yang mengharap pembelaan. Semestinya bung Fredi tidak menjadikan kepopuleran sebagai ukuran. Kasihan dengan orang miskin kang, yang mungkin mengharapkanmu namun tidak mampu menaikkan popularitasmu.

Topo Sukmo, pada bagian ini, seseorang dituntut berusaha untuk menjernihkan hati dan  membersihkan batin. Dengannya, hidup harmonis akan terjalin.

Dalam berperkara, tidak mencari kalah-menang. Berbuat sesuatu, tidak berlaku zalim serta tidak diam jika dizalimi. Tentu Bung Fredi menyadari ini. Bahwa ia harus menyeimbangkan kedudukan sebagai hamba Tuhan sekaligus wakil-Nya di jagad semesta, terlebih dalam penegakan hukum.

Topo cahyo, merupakan upaya meminimalisir segala bentuk kilauan cahaya duniawi agar tidak menarik tingkah laku.

Tidak sulit menemukan banyak orang yang rela melakukan apapun hanya karena ingin memenuhi kemerlap harta dunia. Saya begitu miris apabila mengetahui pembelaan bung Fredi terhadap pak (ke)tua DPR RI hanya karena ingin jalan-jalan keluar negeri dan membeli tas branded Hermes tadi.

Topo urip, langkah terakhir ini menghendaki adanya ikhtiar, berpasrah diri pada Tuhan atas apa pun yang telah, sedang, dan akan diperbuat.

Demikianlah tulisan ini saya perbuat atas dasar kecintaanku pada pribadi dan profesimu, bung Fredi. Seandainya nasihat pujangga ini belum Anda baca, semoga (dibaca) menjadi perenungan selama berada di rutan. Toh andaikata telah selesai pemahamanmu di bidang ini, nasihat ini saya tujukan pada penegak hukum lainnya, agar lebih adil dalam mengganjar segala tindak tandukmu beberapa waktu lalu.

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Abu Bakar (see all)