Natal: Show Must Go On

Natal: Show Must Go On
Malam Natal (Foto: Kompas)

Nalar Warga“Ada ambulans. Ada yang sakit dan dibawa ke Rumah Sakit,” celetuk teman sebelah samping dalam perayaan ritual natal, semalam di gereja kami.

Hilir mudik petugas keamanan menolong sebisa mungkin. Tidak ada petugas atau panitia kesehatan yang dipersiapkan karena semua perhatian tertuju pada kelancaran jalannya selebrasi untuk menangkap suatu makna agung inkarnasi dari mulai masa adven, latihan, persembahan, pakaian yang dikenakan, penggalangan dana, konsumsi, pernak-pernik natal, kegiatan social, kalender, dsb.

Sepertinya, kedatangan ambulan itu atas inisiatif keluarga si sakit yang sedang berbaring di antara hiruk pikuk berbagai kegiatan di gedung paroki itu, agar memperoleh pertolongan pertama oleh tenaga medis dengan peralatan dan obat yang tepat. Akhirnya, satu keluarga itu tidak mengikuti selebrasi secara tuntas. Dan, perayaan itu berlangsung terus seperti biasanya sesuai dengan persiapan sekian lama dengan gladi kotor dan gladi bersihnya.

Kejadian serupa sering terjadi ketika saya mengikuti kegiatan-kegiatan gereja. Beberapa waktu lalu, prosesi arak-arakan Maria dari gereja stasi ke gua Maria, seorang peserta mendadak pingsan.

Dikerubungi oleh orang-orang sekitarnya untuk menolong sebisa mungkin, tanpa adanya petugas/panitya kesehatan. Si sakit dipinggirkan agar tidak menghalangi peserta lain yang mengikuti perarakan itu. Prosesi itu berlangsung terus tanpa interupsi. Lancar, meriah.

Kegiatan kerja bakti di gua Maria di kesempatan lain juga berlangsung terus meskipun ada pesertanya kecelakaan (jatuh) di jalan menuju tempat kerja bakti. Beruntung ada peserta lain yang menolong dan membawanya ke RS dan akhirnya meninggal sebelum penanganan kesehatan. Kegiatan itu berhenti untuk berdoa sejenak dan kemudian berlanjut sesuai jadwal.

Saya pernah menolong orang tua yang pingsan sewaktu di gereja merayakan ekaristi. Ia sendirian. Karena tidak ada bed atau obat-obatan atau tenaga medis di paroki waktu itu, maka orang tua itu dinaikkan becak untuk dibawa ke panti tempat tinggalnya. Upacara di gereja itu tetap berlanjut tanpa ada interupsi.

Ketika ada kegiatan donor darah di paroki, ada ibu pingsan setelah melakukan donor. Untungnya ada bed sementara untuk donor yang bisa dipakai untuk istirahat sejenak sampai dia sadar. Akhirnya, ia dibawa pulang dengan becak. Kegiatan di paroki itu berlangsung terus.

Peristiwa-peristiwa semacam itu membuat saya memberanikan diri berbicara atau setidaknya memberitahu Romo agar memperoleh perhatian juga. Ketika diberi kesempatan menjadi salah satu anggota panitya hari paroki, saya memberanikan diri juga tentang perlunya sie kesehatan, tetapi ditanggapi bisa ditangani sie keamanan karena anggotanya ada yang bekerja di rumah sakit.

Jadi, ini tidak menjadi perhatian karena fokus panitya adalah bagaimana upacara berlangsung lancar dan meriah sesuai dengan tugas masing-masing.

Sewaktu hari berparoki yang jatuh pada hari Kelahiran Santa Maria (pesta) dialihkan pada hari Minggu, bacaan dan mazmur (serta doa-doa) yang sudah disiapkan untuk Hari Minggu, tetapi diganti begitu saja dengan tradisi sie liturgi paroki dengan menggunakan bacaan, mazmur, dan doa-doa pada Hari Raya Santa Maria dikandung tanpa noda (tiga bulan sesudahnya).

Ada kebingungan dalam menangkap makna dan pesan dari suatu peristiwa. Meskipun begitu, bagaimanapun juga ritual harus tetap berlangsung. Pertunjukan-pertunjukan tari, nyanyi, drama, dan doorprize harus tetap berlangsung. Harus lancer, meriah, dan enak ditonton.

Berbagai hiruk pikuk proyek sensus penduduk yang diselenggarakan Kaisar Agustus berlangsung terus di seluruh dunia. Orang-orang perantau kembali untuk urusan administrasi. Penginapan-penginapan ramai. Kegiatan-kegiatan di seputarnya harus berjalan sesuai dengan rencana. Tidak ada tempat bagi orang yang tersisihkan.

Hanya gembala sederhana yang menangkap maknanya. Dan, tentu saja orang majus. Bagaimanapun juga pertunjukan harus tetap berlangsung di dalam “the theatre church” untuk membedakan dengan apa yang ditegaskan Clifford Geertz, “The theatre state”. Selamat Natal : Show Must Go On.

*Daniel Setyo Wibowo

___________________

Artikel Terkait:

    Warganet

    Pengguna media sosial
    Warganet

    Latest posts by Warganet (see all)