Nawal El Sadaawi Melawan Titik Nol

Nawal El Sadaawi Melawan Titik Nol
©Pinterest

Figur Firdaus, dengan segenap tragedinya, memenuhi tipe ideal El Sadaawi tentang ketertindasan dan kemalangan abadi bagi manusia yang kebetulan berjenis perempuan.

Perempuan yang duduk di lantai di depanku ini adalah wanita sejati. Suaranya memenuhi telingaku dengan kata-kata, dengan gema di sel penjara yang pintu dan jendelanya tertutup rapat. Suara itu pasti suara dia, suara Firdaus.

Berulang kali ia menolak permintaan wawancara oleh psikiater Nawal El Sadaawi. Firdaus sedang menunggu eksekusi hukuman mati karena membunuh seorang germo yang ingin menguasai hidupnya. Sehari sebelum eksekusi, barulah ia bersedia menerima tamunya, dan ia meminta sang tamu duduk di lantai bersamanya.

Ia menjadi pelacur di Kairo, setelah lari dari kungkungan dua pria. Pertama, dari Syeikh Mahmoud, seorang suami berwajah buruk dan berperilaku menjijikkan. Dia adalah paman dari istrinya paman Firdaus, berusia 60. Firdaus tak punya pilihan. Ketika ia mencuri dengar rencana penjodohan itu oleh si paman dan istrinya—yang tak menyukai dirinya, karena itu Firdaus dimasukkan ke pesantren agar keluar dari rumah—ia mencoba melarikan diri.

Di jalan, ia melihat sejumlah orang yang menyeramkan mendekatinya, membuatnya segera lari, kembali ke rumah pamannya; lalu perkawinan terjadi. Si paman tampaknya mendapat banyak uang dari “menjual” keponakannya (Firdaus tinggal bersama sang paman di Kairo setelah kedua orang tuanya yang sangat miskin meninggal di kampung).

Syeikh Mahmoud, yang berbadan dan bermulut bau, dengan lubang di keningnya, bukan hanya memuakkan, tapi gemar memukuli istri yang dia anggap asetnya. Firdaus melarikan diri,  dan mendapat tempat berlabuh yang baik: Bayoumi, pemilik warung kopi yang baik hati dan mengajaknya tinggal di rumahnya.

Tak lama kemudian Bayoumi membuka kedoknya. Ia marah ketika mendengar Firdaus ingin bekerja. Ia mengunci Firdaus di dalam rumah selama ia bekerja di warungnya. Selain sering memukul, Bayoumi suka mengundang teman-temannya dan membiarkan mereka rutin meniduri Firdaus.

Ia berhasil melarikan diri dari rumah Bayoumi berkat bantuan seorang tetangga. Ketika ia sedang beristirahat dan merenungi hidupnya di tepi Sungai Nil, seorang perempuan cantik berbusana mahal menyapa dan mengajaknya tinggal di rumahnya. Rumah Sharifa yang sangat ramah itu begitu mewah, membuat Firdaus bercita-cita ingin sekaya dia. Sharifa mengajarinya berdandan dengan layak, dan meyakinkan Firdaus bahwa ia cantik dan tegar.

Ia mendapatkan figur ibu pada Sharifa, seorang pelacur kelas atas yang segera menjual tubuh Firdaus kepada para pelanggan. Ia terkenal, dan segera berhasil mendapat banyak uang, berkat tamu-tamu kelas atas yang menjadi kliennya. Ia membeli rumah, perhiasan dan barang-barang mahal.

Ketika suatu hari Firdaus mendengar Sharifa bertengkar dengan Fawzy, seorang germo, memperebutkan dirinya sebagai komoditas bernilai tinggi, ia melarikan diri dan bekerja di sebuah kantor sebagai asisten (ia pelajar yang tekun dan mendapat penghargaan sebagai siswi berprestasi semasa di pesantren).

*

Kerja kantoran dijalaninya setelah ia menjual rumah dan semua barang berharga, atas saran seorang wartawan pelanggannya, yang sering menyatakan bahwa meskipun ia berduit, ia bukanlah perempuan terhormat. Si wartawan menyaraninya bekerja di tempat yang layak. Tapi segera ia merasa: kondisi kerja di kantor sebagai asisten lebih buruk daripada sebagai pelacur.

Ia jatuh cinta pada Ibrahim, yang menyambutnya; pemuda simpatik itu ternyata sudah bertunangan dengan putri pemilik perusahaan. Tak lama, nasib mengusirnya dari kerja kantoran, dan melemparnya kembali ke bisnis perkelaminan. Dan ia akhirnya tahu Ibrahim tak mencintainya. Setelah ia kembali ke profesi lama, Ibrahim kerap mengunjunginya sebagai pelanggan.

Suatu malam germonya memaksanya melayani seorang pelanggan yang tak disukai Firdaus. Mereka bertengkar keras, sampai Firdaus membunuhnya. Tapi ia berhasil lolos dari tangan hukum berkat bantuan seorang pangeran Arab, yang menampungnya tinggal di rumahnya dan memberinya bayaran tinggi. Namun ketika mereka bertengkar, si pangeran menelepon polisi. Ia ditangkap, diadili, dan divonis hukuman gantung.

Kisah nyata itu difiksionalisasi dengan baik oleh El Sadaawi menjadi novel kecil yang membuat namanya mengglobal, Woman at Point Zero (1975; diterjemahkan dan diterbitkan oleh Yayasan Obor menjadi Perempuan di Titik Nol).

Novel itu diceritakan dari dua titik-pandang: El Sadaawi sendiri (tentu dalam versi fiksional) dan Firdaus. Ia menghimpun bahannya dari mewawancarai Firdaus di penjara, sebagai psikiater—ia dokter lulusan Universitas Kairo.

Dokter penjara yang bersimpati pada nasib Firdaus mengurus permohonan grasinya kepada presiden. Ia hanya perlu menandatangani surat-surat yang sudah disiapkan oleh si dokter, untuk meminta perubahan hukuman mati menjadi penjara seumur hidup. Firdaus menolak. Ia menegaskan ia tak takut mati. Ia justru gembira, katanya, karena akan pergi ke suatu tempat baru—yang berbeda dari tempat yang selama ini menyiksanya seumur hidup.

Bagi El Sadaawi, dengan penegasan itu Firdaus telah menang dan menjadi pionir tentang keberanian. Ia bukan hanya berhasil menjadi pengendali nasibnya sendiri—hal yang sepanjang hayat tak pernah ia dapatkan—dan membuktikan diri lebih berani dibanding para lelaki hipokrit yang selama ini sok pemberani dan sok kuasa dan gemar menguasai hidup Firdaus. Hal yang paling mereka takuti justru dihadapi dengan berani oleh Firdaus: kematian.

*

Figur Firdaus, dengan segenap tragedinya, memenuhi tipe ideal El Sadaawi tentang ketertindasan dan kemalangan abadi bagi manusia yang kebetulan berjenis perempuan—semula dalam konteks Mesir, kemudian semakin ia sadari universalitasnya. Ia sendiri mulai menyadari hal ini sejak usia enam tahun, ketika ia harus dikhitan (suatu praktik yang kemudian ditentangnya habis-habisan dengan berbagai cara, dan baru dihapuskan di Mesir pada tahun 2008; setelah 92 persen perempuan usia 15-49 mengalaminya).

Kesadarannya tentang rendahnya nilai perempuan makin ia rasakan empat tahun kemudian, ketika ia dipaksa menikah dengan seorang pria tua. Ia menolak. Ia bersyukur ibunya mendukung penolakannya. Tapi ia sempat mendengar wejangan dan kemarahan neneknya, yang terus membekas sepanjang hidupnya: “Nilai seorang laki-laki sama dengan 15 perempuan… perempuan cuma hama.”

Sejak saat itu, sejak ia berusia 10, kemarahan membakar dirinya. Semangat juang demi martabat dan harga diri perempuan seakan memenuhi seluruh pori-pori tubuhnya, tanpa ampun. “Biasanya, makin tua seseorang makin lunak,” katanya. “Untuk saya, makin bertambah usia, saya makin radikal, makin marah.” Ia merasa harus semakin agresif karena dunia pun dilihatnya makin agresif.

Mungkin ia mendapat inspirasi awal dari ayahnya, seorang pegawai kolonialis tapi menentang kekuasaan Inggris di Mesir dan Sudan, dan dibekukan kariernya selama 10 tahun sabagai hukuman. Ia anak kedua dari sembilan bersaudara; dengan ibu dari keluarga Ottoman yang kaya. Ia, dengan kulit gelap yang dibanggakannya, menyatakan keluarganya berdarah Turki.

Orang-orang yang mengunjunginya heran, katanya, mengapa ia tinggal di apartemen yang sangat sederhana, diukur dari kemashuran namanya di seluruh dunia. “Kalau Anda ingin berjuang, Anda tidak mungkin bisa melakukannya dengan hidup nyaman,” katanya.

Ia merasa rumahnya adalah seluruh dunia, dengan diterjemahkannya sebagian besar dari 55 bukunya ke dalam 40 bahasa.

Ia tak henti menulis. Ia terus meneriakkan hal yang sama selama 80 tahun penuh: perempuan harus menggenggam nasibnya sendiri; mereka harus berdaulat; nilai diri mereka tak kurang setetes pun dibanding laki-laki. Ia tahu budaya patriarki membelit seluruh dunia, tanpa kecuali—dengan belitan yang sangat kokoh. Karena itu ia harus, ia wajib, berteriak tanpa putus. Jika ia berkata-kata dengan datar, suaranya tidak akan terdengar.

Mendapat banyak penghargaan untuk perjuangan panjangnya, termasuk sebagai salah satu dari 100 tokoh paling berpengaruh di dunia versi majalah Time, ia tak bisa dilunakkan, tidak bisa dibujuk, tak mempan diancam. Ketika ia diungsikan ke Amerika karena diancam bunuh oleh kelompok radikal Islam Mesir, ia tetap menulis dan tak mengurangi kelantangan suaranya dari tempat pengungsian.

*

Kata-kata, menurutnya, bukan diungkapkan demi menyenangkan hati, bukan untuk menyembunyikan luka-luka di tubuh kita, atau untuk menutupi saat-saat memalukan dalam hidup kita. “Kata-kata mungkin memang menyakitkan, memberi kita rasa sakit,” katanya. “Tapi perkataan juga mampu mendorong kita untuk mempertanyakan apa yang sudah kita terima selama ribuan tahun.”

Ia mendirikan dan menjadi ketua Asosiasi Solidaritas Perempuan Arab, dan pendiri Asosiasi Arab untuk Hak-hak Asasi Manusia. Media menjulukinya “Simone de Beauvoir Arab”. Tentu saja ini karena perempuan Prancis yang menjadi ikon feminisme internasional itu—yang takluk pada misoginisme pacarnya, Jean Paul Satre—lahir lebih dulu. Seandainya mereka sezaman, lebih tepat disebut De Beauvoir adalah “Nawal El Sadaawi Eropa”. Medan juang dan risiko besar yang tiap menit dihadapi El Sadaawi jauh lebih berat di negeri seterbelakang Mesir.

Seberat apa pun risiko itu, ia tak pernah surut mengungkapkan kebenaran. Sebab ia percaya: Tidak ada yang lebih berbahaya daripada kebenaran di sebuah dunia yang penuh dusta. Ia menetapkan hati untuk menghadirkan bahaya itu.

“Ketika suami kedua saya meminta saya memilih antara dirinya dan tulisan saya,” katanya, “saya menjawab: saya memilih tulisan saya. Lalu kami berpisah.” Yang ia maksud adalah Sherif Hatata, penulis mashur Mesir, yang menjadi suaminya selama 46 tahun (hingga 2010) dan memberinya seorang anak (suami pertama Ahmed Helmi juga memberinya seorang anak).

“Bila kau hidup di sebuah dunia yang sangat tak adil, kau harus jadi pembangkang,” katanya. Inilah yang pernah harus dibayarnya dengan penjara selama tiga bulan, selain dengan cercaan dan ancaman pembunuhan.

Ia punya definisi sendiri tentang kecantikan: “Bagi saya, ‘cantik’ berarti alamiah, kreatif, jujur—untuk menyatakan kebenaran.” Menurutnya, yang paling menyusahkan bagi seorang perempuan ialah jika ia cantik dan pintar. “Kalau kau cantik dan bodoh, hidupmu mudah,” katanya. Ini ia katakan dalam konteks hubungan dengan pria. Laki-laki suka pada kecantikan perempuan, tapi emoh pada kepintarannya, yang membuatnya mampu menyanggah. Perempuan ideal adalah perempuan cantik yang bodoh.

Ia terus menulis karena baginya memori, kenangan, tak pernah lengkap. Selalu ada bagian-bagiannya yang dihapus oleh waktu. Menulis adalah cara untuk melacak bagian-bagian yang hilang itu, katanya, untuk mengembalikannya ke tempat semula, untuk membuatnya lebih utuh.

“Semua orang akan mati, Firdaus,” katanya. “Aku akan mati, kau pun akan mati. Yang terpenting adalah bagaimana kau menjalani hidup ini, hingga tiba saat matimu.”

Empat puluh enam tahun kemudian ia membuktikan ucapannya. Ia memejamkan matanya untuk terakhir kali, di Kairo, 21 Maret 2021.

Tapi siapa pun yang membaca ucapannya pada Firdaus tahu: Nawal El Sadaawi telah memenuhi hari-harinya yang sangat panjang, hingga Minggu itu, dengan sepenuh-penuhnya. Ia tak sudi membiarkan sehari pun berlalu tanpa menggemakan suara Firdaus.

    Hamid Basyaib
    Latest posts by Hamid Basyaib (see all)