Negara Berguru pada Analogi Tulisan

Negara Berguru pada Analogi Tulisan
©LPMP Jatim

Titik fokus utama penulis dari analogi tulisan ini ialah bagaimana strategi dalam menulis bisa menjadi bahan pelajaran untuk negara dalam merancang visi dan menjalankan misi kedaulatan rakyat. Sikap  teliti,  rendah hati, dan aktivitas mengedit merupakan keutamaan-keutamaan seorang penulis yang bisa dipasangkan kepada para elite politik atau figur penyelenggara kekuasaan negara.

Para penjaga pintu negara perlu teliti, belajar mengedit, dan rendah hati. Dengan demikian, penataannya bakal terlihat menarik, berisi, dan atmosfer damai serta kesejahteraan bisa dirasakan semua orang.

Tanpa itu, penulis menduga negara akan gagal memperoleh trofi kedamaian dan kesejahteraan. Untuk itu, penulis menyarankan agar pemerintah perlu berguru pada metode meneliti, mengedit, dan rendah hati agar negara bebas dan bersih dari berbagai kesalahan dan kejahatan.

Mengedit

Ide cemerlang, susunan kalimat yang runtut, dan kelengkapan huruf tidak terbangun sekali jalan. Dalam proses merangkai ide, pasti seorang penulis menjumpai kekeliruan. Kekeliruan entah dalam bentuk kecacatan huruf, ide ataupun bangunan kalimat. Seorang penulis hebat dan profesional sekalipun, ia pasti keliru dalam hal ini. Perjumpaan dengan ketaksempurnaan tulisan ini, mengedit adalah piranti untuk menyempurnakan kecacatan itu.

Penampakan wajah negara kita saat ini sangat menyedihkan. Mengapa? Karena separuh pemerintah rajin menciptakan berbagai masalah.

Pantauan penulis, masalah yang berderet di negara kita ini disebabkan karena kekuatan keegoisan berhasil meruntuhkan daya hati nurani dan visi-misi negara. Ia mendominasi serta menumpulkan ketajaman kepekaan kita.

Dengan demikian, semua pengambilan tindakan, kebijikan ataupun keputusan dipandu dan diterangi oleh cahaya keegoisan. Mereka tidak memperhitungkan kedamaian dan kesejahteraan umum. Akibatnya, untuk mereka sendiri makin makmur dan sejahtera sedang yang lainnya masuk dalam lubang kemiskinan dan penderitaan.

Potret macam ini bukan baru pertama kali tertampak. Wajah negara yang cacat ini sudah setua negara kita. Ia sudah menyertai dan membingkai perkembangan negara sendiri.

Baca juga:

Mencegah persoalan ini, berbagai pihak berjuang dan mengusahakan kedamaian dan kesejahteraan negara serta memulihkan kecacatan ini. Namun berbagai usaha itu sampai saat ini belum mendapatkan buahnya. Malahan api masalah, penderitaan dan kemiskinan makin melebar.

Bertatapan dengan aneka persoalan kompleks ini, muncul sebuah pertanyaan; bagaimana kita bisa memutuskan mata rantai persoalan ini? Di sini penulis hendak menawarkan solusi alternatif yang bisa pemerintah (kita) terapkan untuk menata ulang negara kita yang tentunya mengalami krisis dalam sejarahnya. Piranti yang kita gunakan untuk merapikan wajah negara ialah strategi mengedit.

Mengedit, dalam konteks menulis bertujuan untuk merapikan dan menata ulang bangunan kalimat, diksi dan ide yang cacat. Strategi mengedit dalam konteks negara yaitu menata ulang semua kebijakan yang hanya dapat menggemukkan kantong pribadi dan membawah pandemi penderitaan bagi orang lain.

Arti mengedit sangat berdekatan dengan mengevaluasi kembali. Mengevaluasi berarti melihat kembali sejauh mana perkembangan pelaksanaan sejumlah kebijakan itu sudah terlaksana baik atau masih mengalami kemandekan karena kebijakan publik dirintangi oleh garis keegoisan sendiri.

Kalau mau jujur, wacana tentang pelaksaan kebijakan dan visi-misi negara masih gagal. Kebijakan yang dirumuskan bersama tampaknya diinstrumentalisasi untuk mewujudkan hasrat dan keinginan pribadi semata. Akibatnya, pemerintah lebih damai dan sejahtera sedang masyarakat terjerumus ke dalam jurang kemiskinan dan penderitaan. Tak salah kalau negara kita digenangi dengan berbagai persoalan seperti banyak orang miskin dan penderitaan bertumpukkan di mana-mana.

Justru potret wajah negara kita yang beraura kesedihan demikian ini menuntut pemerintah untuk mengenakan jubah starategi mengedit atau mengevaluasi supaya wajah negara kita bisa mencecap kedamain dan kesejahteraan secara merata dan negara kita bisa beranjak ke taraf yang lebih berkualitas.

Teliti

Dalam dunia tulis-menulis, salah satu tugas terpenting untuk membuahkan sebuah karya ilmiah yang baik dan berkualitas adalah sikap teliti. Sikap ketelitian, hemat penulis, terjadi sebelum dan sesudah membahasakan ide.

Ketelitian sebelum menuangkan ide, misalnya, teliti memilah kata mana yang pantas dituliskan. Selain itu, teliti cara bekerja logika, apakah cara berlogika seperti ini tepat atau kurang tepat.

Halaman selanjutnya >>>
Sebastianus Iyai
Latest posts by Sebastianus Iyai (see all)