Negara Berguru pada Analogi Tulisan

Kalau kedua hal ini gagal diperhatikan dan keliru diterapkan maka tulisan ideal yang kita kejar tidak akan dicapai. Walau dicapainya pun hasilnya tidak akan memuaskan kita. Maka betapa penting untuk meneliti setiap ide dan jalannya bernalar agar tulisan kita bagus dan berbobot.

Berikutnya adalah ketelitihan setelah menumpahkan ide. Bentuk ketelitian yang kedua ini beroperasi berdampingan dengan mengedit atau mengevaluasi. Kegiatan mengedit mengandaikan adanya keterlibatan ketelitian. Ketelitian menopang cara berkerja evaluasi. Kegiatan evaluasi berintensi untuk melihat secara teliti setiap bangunan kalimat, ketaksempurnaan huruf dan keteraturan ide.

Berkat penerangan cahaya ketelitian ini penulis bisa merombak setiap ketidakteraturan ide dan menambal huruf yang kurang. Dengan demikian kualitas karya tulis akan tercium. Di sini rasa kegembiraan akan datang memenuhi hatinya. Kegembiraan atas keberhasilan ini tidak akan dialami oleh penulis sendiri tetapi juga orang yang mengonsumsi karya kita untuk merasa nikmat dan menarik.

Kenikmatan, kegembiraan, kedamaian dan kesejahteraan di negara kita sampai saat ini belum terpuaskan dan belum dirasakan oleh semua orang. Di pelosok nusantara ini ada begitu banyak orang miskin dan masalah terjadi di mana-mana. Mengapa persoalan akut ini sampai saat ini belum mampu ditanggulangi oleh pemerintah?

Iya, masih ada oknum-oknum tertentu yang bermain rapi di balik kedok untuk mewujudkan cita-cita pribadi. Mereka mengabaikan visi dan misi negara dan kepentingan umum. Mereka giat mengeruhkan apa yang menjadi cita-cita bersama.

Dampaknya, mereka makin makmur dan sejahtera sedang masyarakat lainnya makin terpuruk ke dalam jurang kemiskinan dan penderitaan. Hal ini bukan kabar baru. Wajah negara seperti ini dari tahun ke tahun membingkai perjalan sejarah peradaban bersama.

Terbuka dan Rendah Hati terhadap Kritik

Mustahil seorang penulis hebat luput dari pantauan seorang kritikus. Pada permulaan penulisan, biasanya kita dicurahi berbagai kritikan pedas baik itu dari teman-teman, pembina maupun penulis senior yang bersedia membaca karya kita dan memberikan kritik konstruktif.

Manakala badai kritik pedas itu mengenai diri kita, kita terkadang menghindar jauh-jauh dengan serentetan alasan, misalnya sangat menyayat hati. Alasan seperti ini muncul paling pertama ketika penulis amatir kena tamparan kritik. Hal ini sangat lumrah bagi penulis pemula.

Baca juga:

Bersentuhan dengan kritik tajam, kita acapkali bersikap kerdil, menyerah, bahkan putus asa di tengah perjuangan. Namun ada sikap lain menerima kritikan dengan sukaria karena berorientasi untuk melejitkan kualitas tulisan.

Banyak juga penulis yang menerima kritikan dengan semangat menggebu-gebu. Orang yang ingin berkembang dalam dunia tulis-menulis akan membuka hati dan menada setiap kritikan. Itulah tipe orang yang mau berkembang sungguh-sungguh dalam dunia tulis menulis. Ia dapat dipastikan menjadi penulis profesional di kemudian hari.

Melahirkan tulisan yang bermutu adalah buah kemudian setelah terbuka dan rendah hati untuk mau dikoreksi dan dikritik terhadap karyanya. Dengan pembiasaan kerelaan ini penulis pemula akan makin berkembang dari hari ke hari.

Satu hal yang perlu disadari pemula adalah bahwa berbagai kritikan yang ditumpahkan kepadanya bukan bentuk ekspresi ketidaksukaan mereka terhadap karya tulis melainkan bentuk ekspresi dukungan terhadap usaha dan perjuangan sedang dirintis penulisnya. Mereka hanya mengoreksi kekurangan yang tampak dalam bangunana ide ataupun kalimat. Ini tujuannya untuk menghasilkan tulisan bernas dan bisa menjadi penulis hebat.

Demikian pun dengan pembagunan negara kita. Negara kita pun harus terbuka terhadap berbagai kritikan. Hal ini bertujuan agar negara bisa membawa kita ke pintu kesejahteraan dan kedamaian bagi segenap manusia.

Hemat penulis, negara kita belum menampakkan wajah yang penuh gembira. Saat ini negara kita Indonesia masih diselimuti kabut kesedihan. Pertanyaanya dari manakah datangnya kabut kesedihan ini mendadak menyerbu setiap orang? Tanpa ragu kita bisa menebak asalnya. Tidak lain dan tidak bukan penciptanya adalah para penjaga negara. Mereka pandai menciptakan berbagai kejahatan seperti korupsi dan lain-lain. Kejahatan seperti ini telah mempertebalkan kabut kesedihan.

Menurut penulis, peningkatan penebalan kabut kesedihan tersebut disebabkan oleh sikap pemerintah yang belum rendah hati dan kebal terhadap setiap kepungan kritikan dari berbagai arah. Tatkala mereka dihujani kritikan, mereka berusaha memayungi diri dengan berbagai aturan atau kebijakan yang baru.

Kekuatan payung mereka ditopang oleh keinginan pribadi yang tak tergoyahkan. Keinginan dan kepentingan pihak tertentu menjadi tembok yang tak dapat dirobohkan dengan kekuatan apa pun.

Halaman selanjutnya >>>
Sebastianus Iyai
Latest posts by Sebastianus Iyai (see all)