Negara Berguru pada Analogi Tulisan

Benteng yang mereka bangun membuat setiap lemparan kritik pantul kembali. Akibat buruknya kemiskinan masih mencolok dan terasa terus abadi. Kedamaian dan kesejahteraan belum merata dihirup oleh semua orang. Sedang mereka yang tetap kebal kritik tetap merasakan hidup makmur dan tentram.

Pemerintah sebagai nakoda negara perlu renda hati menerima setiap serangan kritik. Kritikan yang ditodong kepadanya bukan bentuk membualkan rasa ketidaksukaan para pengkritik. Namun pemberian kritik hendak meluruskan tindakan yang bertentangan dengan ketentuan visi dan misi negara.

Dengan demikian setiap pengambilan tindakan dan kebijakan selalu digerakkan oleh kesejahtraan bersama bukan kepentingan egositis. Dengan demikian semua orang bisa menghirup hawa segar dan sejuk keadilan sosial.

Sebuah tulisan sempurna lahir karena ia melewati pengujian yang ketat. Pengujian itu berupa ketelitihan dalam pemilihan kata, membangun banguanan ide dan terbuka menerima setiap kritikan yang diberikan. Kalau sudah melewati ujian itu dengan tekun dan rendah hati maka hasil pun sangat memuaskan, tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga semua orang yang mengonsumsi tulisan kita.

Agar kedamain dan kesejahteraan bisa dirasakan oleh semua orang di negara ini, pemerintah harus mengenakan jubah kerendahan haati agar bisa menerima setiap kritikan pedas. Jika memimpin negara tanpa dibalut kerendahan hati, maka situasi kemiskinan dan penderitaan akan menjadi masalah hebat yang tak pernah dipecahkan hingga tuntas. Kuncinya adalah pemerintah menakhodai negara ini dengan modal kerendahan hari.

Baca juga:
Sebastianus Iyai
Latest posts by Sebastianus Iyai (see all)