Negara dan Idealisme Pemerintah

Negara dan Idealisme Pemerintah
©LSF Cogito

Negara dan Idealisme Pemerintah

Ketaatan terhadap hukum moral merupakan kepentingan nomor satu setiap individu. Karena semua orang mendapat keuntungan dari pelestarian kerja sama sosial. Namun ketaatan itu menuntut pengorbanan setiap orang. Meskipun hanya pengorbanan yang bersifat sementara, yang diimbangi oleh keuntungan yang lebih besar.

Bagaimanapun, untuk memahami hal ini, dibutuhkan pengetahuan khusus yang mendalam mengenai hubungan antara berbagai hal. Dituntut kemauan kuat untuk menyelaraskan tindakan seseorang dengan sudut pandang ini. Mereka yang tidak memiliki persepsi, atau memiliki persepsi namun tidak memiliki kemampuan kuat yang dibutuhkan untuk menerapkan persepsi itu, tidak akan mampu menyesuaikan diri dengan hukum moral secara sukarela.

Situasi ini tidak berbeda dari situasi yang mewajibkan ketaatan individu terhadap aturan-aturan tentang kebersihan yang harus ditaati demi kepentingan kesehatannya sendiri. Seseorang dapat membiarkan dirinya takluk pada perbuatan sia-sia yang tidak sehat, seperti kegemaran akan narkotika. Entah karena ia tidak tahu akibatnya. Atau karena ia menganggap narkotika tidak terlalu merugikan dibandingkan dengan penolakan terhadap kesenangan sesaat itu. Atau karena ia tidak memiliki kemauan kuat yang diperlukan untuk menyelaraskan perilakunya dengan pengetahuannya.

Ada orang yang menganggap bahwa masyarakat boleh mengambil tindakan-tindakan pemaksaan untuk mengembalikan orang-orang seperti itu ke jalan yang benar. Dan memperbaiki siapa saja yang karena kelalaiannya membahayakan hidup dan kesehatannya sendiri.

Mereka menganjurkan agar pecandu alkohol dan narkoba dipaksa meninggalkan kebiasaan buruk mereka, dan diwajibkan untuk melindungi kesehatan mereka. Pertanyaan apakah paksaan benar-benar menjawab tujuan dalam kasus seperti itu akan kita tunda untuk dibahas kemudian. Apa yang menjadi perhatian kita di sini adalah sesuatu yang sangat berbeda. Yaitu pertanyaan apakah orang yang tindakannya membahayakan eksistensi masyarakat harus dipaksa menahan diri untuk tidak melakukannya.

Para pecandu alkohol dan narkotika hanya merugikan diri mereka sendiri melalui perbuatannya. Orang yang melanggar aturan-aturan moral yang mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat tidak hanya merugikan dirinya sendiri, tapi semua orang. Hidup dalam masyarakat akan sangat mustahil jika orang-orang yang menginginkan kelangsungannya. Dan orang-orang yang perilakunya sesuai dengan tuntutan itu harus mengurungkan penggunaan kekerasan dan pemaksaan terhadap mereka yang siap merusak masyarakat dengan perilaku mereka.

Sejumlah kecil individu antisosial, yaitu orang-orang yang tidak mau atau tidak mampu membuat pengorbanan sementara yang dituntut masyarakat dari mereka, bisa membuat seluruh hubungan sosial menjadi mustahil. Tanpa tekanan dan pemaksaan terhadap musuh-musuh masyarakat, tidak akan ada kehidupan dalam masyarakat.

Baca juga:

Kita menyebut perangkat sosial untuk melakukan tekanan dan pemaksaan yang menyebabkan orang-orang mematuhi aturan hidup dalam masyarakat sebagai negara. Aturan-aturan yang melandasi jalannya negara sebagai hukum. Organ-organ yang dibebani tanggung jawab untuk mengatur aparat penegakan hukum sebagai pemerintah. Tentu saja ada mahzab yang percaya bahwa seseorang dapat dengan aman melepaskan diri dari setiap bentuk paksaan. Mendasarkan masyarakat sepenuhnya atas ketaatan sukarela kepada aturan-aturan moral.

Kaum anarkis menganggap negara, hukum, dan pemerintah sebagai lembaga yang tidak berguna dalam tatanan sosial yang benar-benar melayani kepentingan semua orang. Bukan hanya kepentingan khusus beberapa orang yang memiliki hak istimewa.

Hanya karena tatanan sosial pada saat ini didasarkan pada kepemilikan pribadi atas alat produksi, diperlukan tekanan dan pemaksaan untuk melindunginya. Jika hak milik pribadi dihapus, maka semua orang, tanpa kecuali, secara spontan akan mematuhi aturan-aturan yang dituntut oleh kerja sama sosial. Telah dijelaskan bahwa doktrin ini keliru, sejauh menyangkut karakter kepemilikan pribadi atas alat produksi.

Bahkan, di luar itu sekalipun, doktrin itu sama sekali tidak dapat dipertahankan. Kelompok anarkis, dengan cukup tepat, tidak menyangkal bahwa setiap bentuk kerja sama manusia dalam masyarakat yang didasarkan atas pembagian kerja. Menuntut ketaatan terhadap beberapa aturan perilaku, yang tidak selalu menyenangkan bagi setiap individu. Karena aturan itu memaksanya melakukan pengorbanan.

Hanya sementara, memang. Namun semua pengorbanan itu, setidaknya pada saat itu, menyakitkan.

Tapi kaum anarkis melakukan kesalahan karena menganggap bahwa setiap orang, tanpa kecuali, akan bersedia mematuhi aturan-aturan ini secara sukarela. Ada penderita dispepsia (maag) yang tetap saja tidak bisa hidup tanpa kenikmatan hidangan lezat. Meskipun mereka tahu betul bahwa memanjakan diri dengan makanan tertentu dalam waktu singkat akan menyebabkan mereka sakit parah, bahkan nyaris tidak tertahankan

Menelusuri hubungan timbal balik dalam kehidupan di masyarakat tidak semudah melacak dampak fisiologis dari makanan, atau konsekuensi yang langsung mengikutinya, dan, di atas semuanya, sangat nyata, bagi pelakunya. Oleh karena itu, dapatkah diasumsikan, tanpa terjebak ke dalam kekonyolan, bahwa, terlepas dari semua hal ini, setiap individu dalam sebuah masyarakat anarkis memiliki kemampuan melihat ke depan yang lebih besar dan kemauan yang lebih kuat dari seorang penderita dispepsia yang rakus?

Dalam sebuah masyarakat anarkis, dapatkah sepenuhnya diabaikan kemungkinan bahwa seseorang, karena kecerobohannya, membuang korek api yang menyala dan memicu kebakaran, atau, dalam luapan kemarahan, kecemburuan, atau balas dendam, melukai sesamanya? Anarkisme tidak memahami sifat asli manusia.

Halaman selanjutnya >>>
Lalik Kongkar
Latest posts by Lalik Kongkar (see all)