Negara Harus Akhiri Kesabarannya

Negara Harus Akhiri Kesabarannya
©Polhukam

Tahun 2010, saya ditugasi mendampingi 2 orang perwakilan warga OAP suku Lani dari Mulia, Kab. Puncak Jaya. Kami pergi ke Kathmandu, Nepal; menghadiri konferensi internasional tentang kerja kemanusiaan di tengah masyarakat pribumi (Indigenous Peoples).

Konferensi ini diadakan oleh satu NGO yang menjalankan misi kemanusiaan di 60 negara, termasuk Indonesia.

Melepas lelah dari perjalanan jauh, saya ajak Dani (bukan nama sebenarnya), salah satu dari 2 warga yang kami bawa, menikmati kopi panas sambil menggigil di teras hotel. Di situ Dani bercerita tentang interaksi sehari-harinya dengan gerombolan OPM yang bermarkas di Tingginambut, distrik (kecamatan) tetangga Mulia, yang di masa itu dipimpin Goliath Tabuni.

Dani pelajar SMA di Mulia, dengan beasiswa Pemda. Setiap hari ia berjalan kaki selama 1 jam dari rumah ke sekolah. Setiap hari pula ia sepulang sekolah dihadang oleh gerombolan di pinggir hutan. Beragam perlakuan harus ia terima, sebagai “perwakilan NKRI”. Dipukuli, dirampok, dan tidak jarang ditelanjangi. Seragam sekolah yang dipakainya dianggap lambang NKRI.

Tapi Dani tidak pernah menyerah. Ia tetap sekolah, walaupun harus babak belur tiap hari. Pemda dan Gereja pun tidak pernah menyerah, selalu memberi seragam baru tiap kali Dani melapor seragamnya hilang.

Tidak perlu diherankan bila Gerombolan OPM menculik, memperkosa, membunuh Guru dan Tenaga Kesehatan, seperti yang sudah terjadi dalam 3 tahun terakhir. Segala yang menjadi bukti sumbangsih negara untuk Papua memang bagi mereka harus dihapuskan. Ini perang, tapi Konvensi Genewa tidak berlaku bagi teroris.

Goliath Tabuni sampai detik ini masih menjadi misteri. Pada 2015 sempat diisukan bertaubat dan jualan kayu kepada Bupati Puncak Jaya, Henock Ibo, setelah Pak Bupati memberinya sejumlah unit alat potong kayu dan BBM. Tapi isu itu segera ditampik oleh Anton Tabuni, Sekjen OPM.

Terbukti pada 2018 Goliath beraksi lagi. Membunuh 31 orang warga sipil dan tentara di tengah peringatan ultah OPM di Kabupaten Nduga. Pernyataan dari Menhan saat itu, Ryamizard Ryacudu, supaya ia “menyerah atau diselesaikan”, ia tertawakan. “Kalau mau tembak mati ya datang saja ke sini, tidak usah pakai tawar ini-itu,” jawabnya kepada Gatra.

Tahun itu juga markasnya di Tingginambut diserbu dan direbut TNI, namun ia sendiri berhasil kabur.

Pasca-perebutan Tingginambut hingga kini, dalam aksi-aksi OPM di Pegunungan Tengah, nama Goliath tidak pernah lagi muncul; diganti dengan nama-nama baru. Ini memberi pesan yang gamblang: OPM terus melakukan regenerasi.

Baca juga:

Sebby Sambom bahkan pada Maret 2021, alias bulan lalu, menjabarkan bahwa transaksi jual-beli Senpi antara Gerombolan dengan oknum aparat sudah menjadi tradisi sejak lama. “OPM butuh senjata, aparat butuh uang. Itu saja,” katanya. Berapa pun harga dipatok, mereka siap beli. Harga standar per pucuk menurut Sambom antara 250-300 juta, dan harga peluru per butir 100 ribu.

Perdagangan memang kunci keberlanjutan.

Jawabnya hanya satu: berantas. Stop kucing-kucingan. Sembunyi di hutan? Tidak usah dikejar. Bakar saja hutannya. Rekrut saja konsultan dari sembarang cukong di Kalimantan yang sudah pengalaman bakar hutan itu. Mau berapa ribu hektare pun bisa. Barang apa jadi. Tinggal komitmen saja, mau selesai atau mau kucing-kucingan.

Yang jelas pembangunan tidak bisa jalan selama masih ada gangguan.

Tidak usah gubris elite-elite cerewet yang dari zaman Edi Tansil sampai sekarang nyanyiannya hanya solusi damai damai damai. Mau akademisi kek, agama kek, senggama kek, apalagi cuma politikus; selama mereka tidak pernah merasakan rumahnya dibakar, yang keluar dari mulutnya cuma omong kosong.

Ingat ultimatum Tito Karnavian pada 2019 di depan semua tokoh itu: Kalau masih ada kejadian lagi di provinsi ini, maka negara akan tambahkan pasukan. Mau berapa puluh ribu pun jadi. Batasnya 100.000.

Itu ultimatum negara. Bukan pribadi Tito.

Nyatanya mereka manggut-manggut saja dengar ultimatum itu. Dan sekarang mereka semua sudah terbukti GAGAL TOTAL menjaga Tanah ini dengan cara damai yang dia jajakan.

Orang-orang gagal tidak usah didengar lagi. Penuhi ultimatum 2019. Rakyat di belakangmu. Elite buang saja ke septic tank.

    Fritz Haryadi
    Latest posts by Fritz Haryadi (see all)