Negara Kuasi ala Robert Jackson, Daulat tapi Sekarat!

Negara Kuasi ala Robert Jackson, Daulat tapi Sekarat!
©Pinterest

Deskripsi dan coretannya membuat ketercengangan tingkat dewa. Jackson menggambarkan negara-negara ini sebagai negara kuasi!

Tersebutlah Huma di Atas Bukit, judul lagu Godbless di tahun 70-an itu, seakan menjadi intro pembahasan kali ini. Lagu dengan aransemen ala Freedom of Raphsodia itu seolah mengajak arwah Robert H. Jackson untuk mengingatkan masa kecilnya yang dihabiskan dengan berlarian di antara paparan hijau nan segar khas alam hutan pedalaman.

Masa Chilhood dan Boyhood-nya yang begitu riang, semeriah saat Jackson muda yang berkecipuk air dingin segar di Spring Creek Township, Pennsylvania. Kelak Jackson muda akan melihat betapa terkekangnya negara-negara dunia ketiga.

Intuisi politik dan kepahaman perundangan yang tajam membawanya menjadi pengacara dan Hakim Agung Mahkamah Agung Amerika Serikat. Tajam menganalisis kelahiran dan kelangsungan hidup negara-negara Dunia Ketiga sejak akhir Perang Dunia Kedua.

Deskripsi dan coretannya membuat ketercengangan tingkat dewa. Jackson menggambarkan negara-negara ini sebagai negara kuasi!

Mau marah tiada daya, status negara kuasi (quasi-state) yang setara dengan boneka-boneka ala Puppet yang dikendalikan oleh benang-benang yang menjuntai dari jari-jari kekar tuannya.

Rata-rata negara dunia ketiga lebih banyak bersorak riang gembira bak anak kecil yang menyambut nasi matang setelah sekian jam kelaparan. Negara dunia ketiga cenderung cemerlang hanya karena dukungan dari tuan-tuan internasional. Redup dengan kemampuan dan upaya pemerintah dan rakyat mereka sendiri.

Itulah deskripsi negara kuasi (quasi-state) yang berciri khas menikmati campur tangan asing lebih. Konsepsi kedaulatan hakiki telah diubah oleh tuan-tuan internasional.

Yang menjadi pikiran Jackson, bagaimana negara kuasi tersebut dapat mengembangkan nilai politiknya. Serta bagaimana caranya punya kesempatan untuk jadi aktor internasional independen. Tidak selamanya jadi boneka entertainmen.

Salah satu usahanya adalah menjembatani nalar politik antara para politisi dan diplomat yang amburadul mengejawantahkan tentang kedaulatan ala negara kuasi (quasi-state). Mereka cenderung melebihi kekuasaan kolektif.

Jackson yang cenderung Libertarian-Westphalian itu memilih konsep ala Westfalen sebagai konsep kedaulatannya. Konsep di mana bangsa-bangsa berdaulat di wilayahnya sendiri tanpa campur tangan asing si tuan-tuan internasional dengan bonekanya itu.

Sebagai penganut konsep sistem Westfalen yang merujuk pada Perdamaian Westfalen yang ditandatangani pada 1648 itu, Jackson seolah kilas balik melihat kembali kejadian di tahun 1648.

Merasakan bagaimana sistem kedaulatan Westfalen lahir dari sebuah kengerian “kebiadaban agama” dalam sejarah Eropa yang bergelimang abad ke-17 itu.

Kedaulatan Wesfalen muncul setelah perang berkepanjangan selama 30 tahun. Perang yang menewaskan 7,5 juta lebih manusia. Kebiadaban dan keganasan berdalih agama dibangun oleh oknum penguasa Protestan dan Katolik. Mereka saling menghabisi satu sama lain. Hingga akhirnya selesai dengan sebuah perjanjian perdamaian di Westphalia, sebuah wilayah di Jerman bagian barat laut.

Apa yang dikehendaki Jakcson untuk masa sesudahnya tidaklah mudah untuk dipraktikkan. Seluruh sistem kedaulatan beserta nilai-nilai perdamaian Westphalian yang diusahakan untuk menancap kuat atau ditularkan kepada negara dunia ketiga ternyata sulit ditemukan hasilnya.

Deskripsi cita-cita dan semangat Westphalian sulit dipraktikkan oleh negera ketiga yang rata-rata bermental negara kuasi tersebut. Berdaulat tapi sekarat.

Ciri utama sistem Westphalian adalah otoritasnya didasarkan pada wilayah. Bukan pada identitas individu seperti suku, agama, permodalan, kekaisaran, kekhalifahan, ataupun kemonarkian yang nyatanya banyak ditemui praktiknya di negara dunia ketiga.

Dan sepertinya spirit Westphalian selanjutnya menjadi spirit nasionalisme negara-negara lainnya. Termasuk negara dunia ketiga yang secara psikologis telah digolongkan oleh Jackson sebagai negara yang bermental quasi-state.

Dalam spirit Westphalian, negara menjadi agen institusional utama dalam sistem hubungan antarnegara. Negara sebagai agen merdeka dan bukan sebagai negara kuasi (quasi-state).

Pelanggaran-pelanggaran spirit Wesphalian ini kerap terjadi di negara dunia ketiga. Ada sejumlah prinsip utama dalam Perdamaian Westfalen yang menjelaskan pentingnya perdamaian, di antaranya:

  1. Prinsip kedaulatan negara dan hak asasi penentuan nasib politik
  2. Prinsip kesetaraan hukum antarnegara
  3. Prinsip non-intervensi suatu negara terhadap urusan dalam negeri negara lainnya.

Pun, begitu dari prinsip di atas akan muncul pelanggarannya seperti dalam hal konvensi ketika para penguasa negara dunia ketiga mengadakan perjanjian-perjanjian beserta perundangannya, seperti perjanjian hak asasi manusia dan lainnya. Namun, perilaku mereka tidak bercermin dan tercermin seperti yang telah diundangkan.

Pelanggaran HAM terjadi di sana-sini. Legitimasi hukum menurun. Pemimpin kehilangan kepercayaan dari rakyatan alam paksaan, para penguasa negara yang lebih kuat membuat ancaman kepada penguasa negara yang lebih lemah. Negara dalam keadaan absen!

Ditambah lagi dengan pola imperialisme baru sebagai hasil dari permintaan domestik kebutuhan pasar, tuntutan lebih banyak sumber daya, dan lainnya. Ini koheren dengan pandangan Lenin.

Kadang pula negara yang bermental quasi-state ini mengontrol kedaulatan politik masyarakat dengan cara kekerasan. Imperialisme ekonomi dan budaya dijadikan proses atau kebijakan untuk membangun atau mempertahankan kekuasaan.

Negara berdaulat itu bukan dicirikan dengan monopoli domestik atas kekerasan dan keadilan. Memang negara penuh masalah, baik itu berbentuk quasi-state, souverifn-state, city-state, commonwealth, hingga liga-liga.

Karl Marx yang pernah membuat prediksi, suatu hari nanti, bila masyarakat komunis tercapai, negara akan terkompresi dan akhirnya menguap, hilang…..

Imagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion, too

Lagu Imagine dari John Lennon akhirnya menutup impian Jackson.

Referensi

Yudho Sasongko
Latest posts by Yudho Sasongko (see all)