Negeri Lelucon

Negeri Lelucon
©Pixabay

Memberi tanya pada rasa dan aksara di zaman milenial
“Zaman ketertinggalan”
Dalam tempo satu dekade, masih kurang
Pantas dalam tempo sesingkat-singkatnya segalanya miris lantas minus
“Karena segelincir manusia selalu haus akan kekuasaan”
“Sebagian lelah-melolong mencari nama atas nama yang lain”

Di tengah kesibukan itu, yang lain lagi ditelantarkan
Seperti si miskin di negeri dimiskinkan, juga yatim-piatu dilupakan
Merantu di negeri tetangga sampai pulang ke palung tak bernyawa
Sementara laki-laki juga wanita-wanita makin giat menjajakkan diri
Mencari kebahagiaan dalam jalan duka yang unik lagi mulia

Ya, rupanya aku akan disebut gila
Ketika menggaungkan kebiasaan kaum elite era milenial
Sebab perihal kuasa adalah doa dan pahala para borjuis
Yang berdoa seperti ini, yang terkabul seperti itu
Yang berkata begini, berlaku begitu
Katanya, melacur adalah kepunyaan para pezina
“Padahal berzina ialah siapa yang menginginkan yang lain”

Ini hanya narasi singkat
Gambaran sebuah negeri miskin yang persisnya dimiskinkan
Semacam lelucon, penguasa negeri ini menetapkan bahwa “negeriku tertinggal”
Katanya, “Negeri Titipan Tuhan, Nanti Tuhan Tolong”
Lelucon keadilan di negeri ini sadis, bukan?

Tubuh miskinku meronta-ronta
Mengapa keadilan tak pernah pernah sampai di Negeriku
Sampai kapan keadilan didemokrasikan di Negeriku

Kau dan Kopi

Menyeduh kopi yang ditinggalkan bibirmu
Adalah, bukan aroma kopi yang dinikmati
Tapi, semerbak tubuhmu yang menawan
Sengaja kau lepaskan pada ampas paling pekat
Rupamu terbayang dari dalam silau kesepian
Aku sangat tergoda oleh aura tubuhmu

Ya, aku terjebak di sudut bayang, saat membayangimu
Bahagia ini ialah suatu peristiwa semu dalam angan-anganku
Yang bermetamorfosis dalam khayalan-khayalan
Yang terlintas di benakku
Misalnya;
Kau dan kopi adalah candu
Mengingatmu adalah caraku
Merawatmu dalam rindu paling murni

Doa Sebelum Mimpi

Di meja perjamuan, Ibu menyajikan kopi dalam secangkir rindu
Kemudian, ia berkata:
Perjamuan kopi adalah litani doa sebelum merebut mimpi

Aroma kopi ini serupa aroma kehidupan
Yang bertarung di antara resah dan damba
Tumpah kopi pada bibir cangkir ini
Menguraikan candu bagi segenap ingin yang bertengger di kepala
Atau kehendak yang bersemayam di hati
Candu bagi siapa yang berceloteh dengannya
Ia menikmati bahagia atau menelan sejumput gelisah yang menakutkan

Pada akhir ibadat sebelum mimpi itu dimulai, aku menyelesaikan pertanyaan;
Akankah di doa ibuku, mimpiku menjelma menjadi hidangan kebahagiaan?

*Yon Boni