Nikita Mirzani dan Buronan Cabul

Nikita Mirzani dan Buronan Cabul
©nikitamirzanimawardi_17

Pemerintah RI boleh terus sibuk dengan agenda pembangunan. Urusan Rizieq, cukuplah Nikita Mirzani yang menghadang.

Beberapa kali saya angkat para perempuan di jejaring FB. Kebanyakan adalah mereka yang bersuara merdeka, memorakporandakan batas-batas, bahkan tak jarang berpose seronok dalam posting mereka.

Mereka perempuan sehat. Saya bangga melihat mereka tenang bersodor kata labia mayora, genital, gatal, ngentot, kontol, memek, dan beberapa yang lain. Mereka tahu persis bahwa kontol tidak lebih rendah kedudukannya daripada penis, atau memek daripada vagina. Bahasa Betawi atau bahasa derah lain sama mulia dengan bahasa Latin.

Tak cuma membagikan posting mereka, saya undang para sahabat untuk follow. Beberapa berterima kasih via japri karena limpahan permintaan pertemanan.

Pada tingkat nasional, sosok seperti itu tertemukan dalam diri Nikita Mirzani. Perempuan satu ini memang terkenal bikin heboh. Ada saja yang dia ributkan. Tapi saya terus mengamati tingkah Nikita.

Sesekali dia tak ragu menunjuk sebuah nama, yang dengan siapa dia pernah bersetubuh. Di kanal Youtube, Nikita “berwebinar” tentang pengalaman-pengalaman unik soal senggama.

Batas-batas roboh. Kanalnya dipirsa khalayak ramai. Sesekali dia tampil cuma dengan kaos gombrong atau pantalon dan bercelana dalam tanpa rok atau celana. Segar.

Buat Nikita, bersetubuh tak lebih istimewa daripada berbincang, daripada berpegangantangan, daripada berpelukan. Pikir saya, iya juga ya.

Apa sih beda antara memasukkan penis ke dalam vagina dengan memasukkan jari telunjukmu ke lingkaran yang dibentuk ibu jari dan jari tengah lawan jenismu? Pengagungan atau pemuliaanmu terhadap aktivitas seksual dibentuk oleh persepsi. Begitu persepsi kita tanggalkan, semua sama.

Orang-orang seperti Nikita adalah manusia sehat, manusia yang menolak dikerangkeng oleh persepsi, manusia yang berani melihat segala sesuatu apa adanya.

Kalau buatmu seks adalah sesuatu yang agung, fine. Tapi kamu tak punya hak untuk memaksa Nikita mengapresiasinya dalam cara yang sama denganmu.

Kemarin subuh saya tulis sikap saya terhadap si buronan. Saya merasa tidak berada di posisi yang sama dengannya. Orang seperti itu tak seberharga satu menit dari waktu saya. Ngapain saya tanggapi?

Beberapa jam kemudian berseliweran memes atas judul berita di The Australian, “Porn Fugitive Returns to Launch Indonesian Moral Revolution”. Terjemahan bebasnya, “Buronan Cabul Pulang untuk Meluncurkan Revolusi Akhlak Indonesia”. Ada kontradiksi: Buronan Cabul tapi mengintroduksi revolusi akhlak.

Bukan sekadar satire yang mengundang tawa tipis, headline tersebut menterbahak-bahakkan realitas. Kalau memang benar Rizieq adalah buronan kasus percabulan—meski kemudian kasus tersebut dibatalkan, ada kemunafikan tertera; kemunafikan yang tidak sekadar menerbitkan jengkel tapi tawa terpingkal-pingkal dan berhamburan.

Rada siangan, beredar memes yang dipicu pernyataan Nikita Mirzani terhadap Rizieq dalam videonya di Instagram. Perempuan merdeka ini rupanya memajukan diri untuk menghadapi Rizieq.

Tersodorlah kepada kita ironi paling pahit: perempuan merdeka menghadapi buronan cabul—setidaknya itu sebutan The Australian. Kepolosan, keapaadaan, berhadapan dengan hipokrisi, kemunafikan.

Di situ saya tersentak. Alangkah cerdasnya Nikita. Dia seolah berkata kepada kita, orang yang tepat untuk berhadapan dengan Rizieq adalah Nikita Mirzani, bukan Sahat Siagian, apalagi Jokowi.

Nikita menyebut Rizieq “Tukang Obat”. Pilihan cerdas dan aman. Akan lebih bagus jika kemudian dia menggunakan ikon-ikon pornografi. Mengundang Rizieq untuk seranjang dengannya bukanlah penghinaan. Jauh, jauh dari itu. Kita lihat apakah Rizieq tak tersedak karenanya.

Dengan demikian, pemerintah RI boleh terus sibuk dengan agenda pembangunan. Urusan Rizieq, cukuplah Nikita Mirzani yang menghadang.

Sekaligus dengan itu, saya ajak kita semua memfollow akun @NikitaMirzani di Twitter. Beri dia semangat. Kalau ada yang bersedia nimbrung di sana, lebih bagus lagi.

Seorang ustaz telah mengancam Nikita. Jangan biarkan dia sendirian. Meski saya tahu Nikita tak gentar, ada baiknya kita bersorak menyemangatinya.

Gaklah. Gak perlu Jokowi bereaksi. Nikita adalah lawan setimpal. Rizieq pasti roboh tak berdaya.

Satu yang pasti, Nikita tidak pernah kabur dari dakwaan. Dia bahkan dengan tenang pernah mengalami hukuman penjara.

Pertarungan ironis: pesetia lawan pelarian.

*Sahat Siagian

    Warganet
    Latest posts by Warganet (see all)