NKRI Harga Mati, Untuk Siapa?!

NKRI Harga Mati, Untuk Siapa?!
©PWMU

NKRI Harga Mati, Untuk Siapa?!

Sesuatu yang mengganjal di otak harus diutarakan. Meskipun ini hanya tulisan pendek, paling tidak ini adalah soal kualitas, bukan tentang kuantitas.

Kita pada umumnya sebagai manusia yang berdedikasi dan berintegritas. Kita bukan manusia bodoh yang buta tentang kebenaran hanya karena fanatisme dan obsesi kekuasaan. Apalagi menghamba pada jargon-jargon manipulatif.

Kita semua bangga pada NKRI. Semuanya bangga pada Indonesia. Mungkin ada yang sampai cinta pada NKRI. Sampai-sampai bikin diksi “NKRI HARGA MATI!!”

Sekilas itu adalah jargon yang bagus dan terlihat nasionalis. Tapi banyak juga bajingan-bajingan yang menggunakan jargon itu untuk kepentingan dan ambisi kelompok mereka sendiri. Saya singkat saja menjadi jargon “NKRIHM” agar simpel menyebutnya.

Sejauh ini jargon tersebut muncul pada nyanyian sholawatan sebagai lirik lagu. Tak jarang juga menjadi mars dan lagu di kalangan aparat militer. Asal muasal dan pencetus jargon ini adalah seorang kiai karismatik dan cukup dihormati di kalangan para ulama yaitu almarhum K.H. Muslim Rifai Imampuro, yang sering akrab disapa Mbah Liem.

Beliau juga pendiri Pondok Pesantren Pancasila Sakti di Klaten. Saya hormat kepada beliau karena patriotisme dan nasionalisme beliau terhadap bangsa ini, bahkan saya juga sering ziarah ke makam beliau disaat waktu renggang. Tetapi kembali lagi bahwa saya adalah manusia yang dididik menjadi seorang yang kritis terhadap sesuatu.

Saya adalah seorang yang mungkin dari sedikit orang yang paling berat mengucapkan diksi dan jargon NKRI HARGA MATI, berat rasanya. Bahkan mungkin lebih berat dari puasa sehari tanpa sahur.

Baca juga:

Melihat keadaan Indonesia saat ini sangat paradoks dengan jargon tersebut. NKRIHM itu bukan hanya sekadar mempertahankan unsur teologis tetapi juga unsur-unsur humanisme, egalitarianisme, anti-feodal, dan lain-lain.

Selama ini bagi kalangan fanatis religius jargon NKRIHM dibuat menjadi alat untuk gebuk Islam kanan, Islam kiri, Islam garis keras, Islam garis bujur vertikal horizontal dan sebagainya yang tidak sepaham pada mereka yang moderat. Propaganda penguasa juga membuat jargon tersebut untuk melindungi kepentingan politis sepihak dan menjadikan Islam garis “ini itu” sebagai musuh bersama.

Lebih mudahnya bahwa jargon NKRIHM dibuat untuk melindungi oligarki para penguasa yang saat ini menjabat di kabinet maupun parlemen, fokus jargon NKRIHM hanya untuk menyerang target kelompok masyarakat yang kritis terhadap kebijakan penguasa. Mengagitasi publik bahwa Islam yang mempunyai garis aliran tertentu harus dimusuhi bersama dan opini serta propaganda yang dibangun adalah bahwa keberadaan mereka mengancam ideologi Pancasila serta keutuhan bangsa.

Intinya bahwa Islam aliran tertentu yang tak sejalan dengan pemerintah akan ditentang dan dijadikan The Common Enemy akibat tindakan kritis mereka terhadap pemerintah lalu dibuat isu bahwa mereka akan mendirikan khilafah atau mendirikan negara Islam.

Sedangkan oligarki yang jelas-jelas menghancurkan keutuhan bangsa justru malah di-diamkan dan bahkan dilindungi oleh jargon tersebut. Oligarki merusak lingkungan, mengancam keberadaan flora dan fauna, menghabisi habitat satwa hutan, mengusir penduduk lokal dan masyarakat adat serta menimbulkan bencana alam yang berdampak pada keberlangsungan hidup manusia. Jadi lebih berbahaya mana antara oligarki dan Islam garis “ini itu” yang kritis terhadap pemerintah?

Lagi pula di negara ini apa yang harga mati? Definisi NKRI Harga Mati yang konkret dan rasional itu seperti apa? Jika negara ini harga mati, maka seharusnya harga-harga kebutuhan pokok seperti BBM dan sembako tidak naik. Bukankah lebih cocoknya NKRI Harga Naik?.

Jika memang benar kalau NKRI itu harga mati, seharusnya fasilitas pendidikan dan kesehatan dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat, bukan malah dipersulit. Jargon NKRIHM itu juga terkesan memaksa rakyat untuk wilayah-wilayah yang ingin merdeka seperti Papua dan Aceh, menyatakan referendum justru dianggap separatis.

Berikan ruang dan pendapat di wilayah-wilayah pada masyarakat yang ingin referendum dan merdeka, tindakan mereka bukan tanpa sebab. Tidak adanya keadilan dan kesejahteraan adalah penyebab beberapa wilayah ingin melepas diri dan merdeka, sering kali pilihan mereka untuk merdeka dianggap makar terhadap negara. Upaya penguasa untuk mempertahankan wilayah yang ingin merdeka memaksa masyarakat harus berhadapan dengan aparat militer.

Halaman selanjutnya >>>
Farouq Syahrul Huda
Latest posts by Farouq Syahrul Huda (see all)