Nostalgiaku bersama Sang Pujaan

Nostalgiaku bersama Sang Pujaan
©Frank SMS

Kubongkar rasa lama dan kubuka satu demi satu rasa yang tersimpan. Kutetapkan bahwa aku tidak hanya mengagumimu, sang pujaan; aku mencintaimu.

Jam menunjukkan pukul 11.00 PM. Mataku sama sekali enggan terpejam. Sedangkan bibirku sesekali tersenyum manis entah apa sebabnya. Tiba-tiba terdengar suara mama, “Ra, tidurlah. Sudah malam.”

Seketika aku beranjak mematikan lampu kamar. Berpura-pura untuk tidur, setidaknya membuat mama lega dengan pintanya. Setelah mama hilang dari balik pintu, aku kembali melanjutkan nostalgiaku bersama sang pujaan—kukenang-kenang hal lucu saat-saat menjadi pemuja rahasia.

Sejujurnya aku sangat malu menceritakan kejadian ini. Waktu itu aku sempat kesal dengannya. Bermula ketika aku mengikuti kegiatan berkemah bersama sang pujaan; kami sama-sama menjadi peserta.

Selama berhari-hari mengikuti kegiatan, pada malam terakhir, aku dan teman-teman lainnya menampilkan sebuah tarian. Waktu itu jarak dudukku dengan sang pujaan tak begitu jauh. Dia, sang pujaan, berusaha memberi semangat kepada kami—menyalami kami satu demi satu.

Tetapi tiba saatnya dia bersalaman denganku, ia bertingkah aneh; bukannya menyalami dengan sempurna, malah ia naikkan tangannya ke atas kepalanya. Jelas saja aku malau. Sebab aku sudah dengan sungguh-sungguh mengulurkan tanganku, berharap sentuh dengan tangannya.

Karena sikapnya itu, aku pun ikutan kesal. Kualihkan wajahku. Aku yakin dia justru mencuri senyum. Membuatku malu. Jika aku tahu bahwa aku akan dipermainkan, sudah dari awal tidak akan kuulurkan tanganku. Bikin kesal saja. Tetapi, makin kuingat momen itu, makin aku berharap supaya terulang lagi.

***

Lagi-lagi malam ini aku tidak dapat tidur. Hampir pukul 23.00 PM. Kepalaku terasa sakit sekali. Kuputuskan mengambil dan membuka diary. Memang sudah lama sekali aku tidak bercerita dan menuliskannya. Mari, kuajak kalian mengikuti ceritaku tentang sang pujaan.

Kepada engkau, dengan bodohnya kubiarkan diriku menyukaimu dalam diam. Aku tertunduk malu. Mengingat kamu yang entah kapan bisa kumiliki, aku yang hanya bisa mengungkapkan lewat secarik kertas. Hanya mampu menyimpan rasa di dalam buku saja. Aku tidak tahu sejak kapan aku merasa takut. Tetapi, ketakutanku tentu saja beralasan.

Baca juga:

Atensiku selalu terpecah hanya memikirknn hal ini tanpa jeda. Seakan duniaku akan terhenti jika memikirkannnya. Aku berubah. Aku ingin meminta lebih—lebih dari sekadar mengagumi. Rasa Maluku pada diary makin menjadi. Kurasa malam ini aku sangat memalukan. Kubongkar rasa lama dan kubuka satu demi satu rasa yang tersimpan. Kutetapkan bahwa aku tidak hanya mengagumimu—aku mencintaimu.

Mulai malam ini, aku tak ingin kau menganggapku bodoh. Biar kuberi kau tiga alasan mengapa aku dan banyak perempuan lainnya di sini mengagumimu. Pertama, bagiku, kamu terlalu indah. Kedua, perasaanku terlalu dalam. Ketiga, aku terlalu mencintaimu.

Mari ikut kembali denganku. Aku ingin mengajak sesiapa dalam nostalgiaku.

Lagi, di sekolah, aku memandangnya dari kejauhan. Tidak banyak yang bisa kuperbuat, hanya memandangnya dari kejauhan. Itu cukup, sudah sangat cukup walau sedikit grogi.

Untuk menghilangkan rasa gugup, aku harus bernyanyi. Bersenandung lirih dengan penuh penghayatan sembari memandangnya dari kejauhan. Mataku tak membiarkan ia menghilang dari pandangan. Pandanganku membuntutimu, tentu saja dengan penuh khayalan-khayalan. Aku hampir lupa diri.

“Berharap lagi,” tiba-tiba celetuk seorang kawan.

“Tidak. Apa salahnya bernyanyi?”

“Kau, kan, tahu, dia tidak mengenalmu. Harapanmu hanya akan sia-sia saja.”

Halaman selanjutnya >>>