Nuansa Eropa di Nol Kilometer Yogyakarta

Nuansa Eropa di Nol Kilometer Yogyakarta
Titik Nol Kilometer Yogyakarta (Foto : Outingjogja)

Yogyakarta, selain dikenal sebagai kota pendidikan, kuliner, seni, dan budaya, juga merupakan surga wisata bagi para pelancong. Nuansa Eropa, terutama, sangat terasa di Nol Kilometer Yogyakarta.

Yogyakarta adalah kota modern. Ia senantiasa mempertahankan lokalitasnya. Di setiap sudut kotanya, ia tawarkan nuansa eksotik dan unik. Tak ayal, pendatang yang pertama kali menginjakkan kaki di kota bersejarah ini akan terpikat oleh romantismenya. Dan salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi adalah Nol Kilometer-nya.

Di Nol Kilometer Yogyakarta, terdapat sejumlah bangunan besar bergaya Eropa peninggalan kolonial. Ia masih utuh sampai sekarang. Bangunan tampak klasik meski telah mengalami beberapa revitalisasi. Tetapi tidak menghilangkan sejarah yang tersimpan yang menjadi icon kawasan Nol Kilometer Yogyakarta. Di sekitarnya juga tampak bangunan tua lainnya yang membuat kita seperti berada di Eropa masa lalu.

Titik Nol Kilometer Yogyakarta tepat berada di antara Malioboro dan Keraton Yogyakarta. Diapit gedung bersejarah, seperti Bank Indonesia, Kantor Pos, Gedung BNI, Benteng Vredeburg, dan Monumen Serangan 1 Maret serta Istana Kepresidenan. Letaknya yang strategis membuat Titik Nol Kilometer Yogyakarta tidak pernah sepi pengunjung.

Saat malam hari tiba, tempat ini menjadi tempat favorit untuk nongkrong para wisatawan asing maupun domestik. Banyak pula yang memanfaatkan lokasi ini menjadi tempat berkumpul para komunitas-komunitas yang ada di Yogyakarta.

Titik Nol Kilometer menjadi jantung utama Yogyakarta. Pada masa penjajahan kolonial, lokasi ini menjadi saksi bisu sejarah perjalanan panjang; tidak hanya Yogyakarta, namun juga menjadi bagian penting dari sejarah Republik Indonesia. Oleh sebab itu, Ibukota Negara Republik Indonesia sempat berpusat di Yogyakarta sebelum pada akhirnya pindah kembali ke Jakarta. Gedung Agung atau Istana Kepresidenan yang berada di depan Museum Benteng Vredeburg, misalnya.

Gedung utama kompleks Istana yang dirancang oleh A Payen ini mulai dibangun pada Mei 1824, diprakarsai oleh Anthony Hendriks Smissaerat, Residen Yogyakarta ke-18 (1823-1825) yang menghendaki adanya istana yang berwibawa bagi residen-residen Belanda. Istana Yogyakarta atau Gedung Agung sama halnya dengan istana kepresidenan lainnya: sebagai kantor dan sekaligus menjadi tempat tinggal pemerintah Belanda. Selain itu, juga sebagai tempat menerima menginap tamu-tamu negara.

Selang beberapa tahun kemudian, bangunan megah ini pun sempat berpindah tangan ke pemerintahan Jepang sebelum akhirnya diambil alih oleh Indonesia dan dijadikan Istana kepresidenan. Hingga sekarang, jika presiden ada kunjungan kerja di Yogyakarta, maka Gedung Agung ini akan ditempati.

Kendati berada di lokasi destinasi wisata, demi keamanan dan keasrian lingkungan, gedung ini tidak dibuka untuk umum. Wisatawan hanya bisa melihat megahnya gedung Istana Kepresidenan dari kejauhan luar di balik jeruji besi.

Di depan istana Negara, terdapat benteng Vredeburg. Benteng yang pendiriannya terkait erat dengan berdirinya Kasultanan Yogyakarta pasca Perjanjian Giyanti 1755. Ketika bangunan dan kompleks Keraton telah berdiri sempurna kurang lebih pada tahun 1792, pemerintah kolonial Belanda melihat hal ini sebagai sebuah ancaman. Sehingga mereka mengusulkan kepada Sultan agar diizinkan membangun sebuah benteng di dekat Keraton.

Pembangunan tersebut dengan dalih agar Belanda dapat menjaga keamanan Keraton dan sekitarnya. Akan tetapi, di balik dalih tersebut, bermaksud untuk memudahkan mengontrol segala perkembangan yang terjadi di dalam Keraton.

Letak Benteng yang hanya satu jarak tembak meriam dari Keraton, dan lokasinya yang menghadap ke jalan utama menuju Keraton, menjadi indikasi bahwa fungsi Benteng dapat dimanfaatkan sebagai benteng strategi, intimidasi, penyerangan, dan blokade.

Benteng Vredeburg saat ini berfungsi sebagai sebuah museum kota dan menjadi tujuan wisata maupun bagi pelaksanaan agenda rutin kota seperti FKY. Di sudut barat daya Benteng Vredeburg, berdiri sebuah monomen yang didirikan untuk mengenang peristiwa Serangan Umum oleh pejuang Republik Indonesia terhadap pendudukan Belanda pada 1 Maret 1949.

Selain itu, di sisi selatan jalan, terdapat kantor Bank BNI. Pada zaman kolonial, gedung ini digunakan sebagai kantor De Javasche Bank. Lantai bawah gedung ini, pada zaman Jepang, digunakan sebagai kantor Radio Hoso Kyoku. Selanjutnya, pada awal kemerdekaan, digunakan sebagai Studio Siaran Radio Mataram yang dikenal dengan nama MAVRO.

Di sebelah timur Bank BNI, terdapat kantor Pos Besar Yogyakarta yang nyaris tidak berubah fungsi sejak zaman kolonial. Di sebelah timur gedung ini, berdiri kantor Perwakilan Bank Indonesia—dahulu dipergunakan sebagai kantor De Indische Bank.

Serentetan demi serentatan peristiwa di waktu masa lalu telah menciptakan Yogyakarta yang saat ini modern dengan romantisme kultural-historis yang begitu khas. Sehingga menjadi landmark kota yang sangat berkesan.

Selain dikelilingi bangunan-bangunan art deco yang megah dan bersejarah, di kawasan Nol Kilometer juga terdapat area hijau dengan pepohonan yang rindang serta bangku-bangku taman yang unik. Aneka macam instalasi karya seni yang dipasang di kawasan Nol Kilometer. Ini menjadikan suasana semakin romantis.

Dan baru-baru ini, pemerintah daerah juga telah memasang Internet Hotspot di beberapa titik dan sound system. Ia memutarkan lagu-lagu lawas dan kekinian untuk memanjakan pengunjung di Nol Kilometer Yogyakarta.

_____________

Baca juga:
    Latest posts by Ahmad Fathoni Fauzan (see all)