Nubuat yang Palsu

Nubuat yang Palsu
©REC

Nubuat yang Palsu

Harapan tak kunjung datang
Hanya sunyi yang melambai
pada dedaunan yang gugur
Lembar UTS pun terisi nubuat palsu
Dari seorang nabi yang tertidur pulas semalam

Sayap yang unik

Tampak indah sepasang sayap
pada seorang Wanita dalam cerita ibu
sebelum aku ditidurkan oleh selimut mimpi.
Aku pun membentuk sayap
dari paku dan kawat pada kayu pemuda Nasaret
Lalu mencari bulu unggas yang terbuang
dalam genangan tinta para kurban.

Akhirnya kutempelkan bulu itu dengan sajak-sajak yang meleleh,
Bercampur dengan warana darah ku
lalu menempel pada kawat berdarah yang karatan.
Akhirnya kumiliki sayap seperti sosok Wanita itu
meski tampak berbeda.

Aku bukan Tamu

Angin politik menghembus, menghempas dedaunan muda  sejauh yang dia bisa hingga akhirnya dedaunan ditangkap oleh seng keadilan yang karatan.

Kapan kita gantikan seng yang baru saudara-ku?
Aku basah kuyup oleh air nubuat yang palsu yang merembes dari celah seng-seng toleransi yang terluka.
Aku memang diistirahatkan oleh ranjang tamu yang kau buat
tapi aku bukanlah tamu di rumah ini.

Aku bukanlah si malang

Biskuit kuletakan pada celah gabus yang rapuh di samping meja makan-ku.
Tak ada penutup padanya
Aku ingin angin yang menyantap biskuit itu
Aku kasihan pada angin yang tak kenal Lelah
Mengawasi dan menyampaikan kabar-ku
kepada waktu, dan pada detik di setiap zaman.

Aku bukanlah si malang
Aku hanya dilahirkan dalam kemalangan,
Ayah pergi meninggalkan ibu ketika aku dinubuatkan oleh dokter
dalam rahim ibu yang suci.
Akau pernah bertanya pada ibu ketika kumis-ku mulai setebal rambut,
“bu… ayah kemana? Ayah nanti Kembali gak sih…?”
Sebenarnya aku capeh bu…
Capeh menunggu lampuh merah
Capeh merayu para pengemudi seperti seorang pelacur
Capeh berjalan sendirian
Capeh menghirup asap kendaraan setiap detik-ku
Capeh mendengar kebisingan kendaraan dan teriakan toa para pejabat di jalan
dan capeh menggenggam surat kabar.

Ibu… aku capeh menjadi pedagang sampah negeri ini
Aku capeh menjadi penghuni tetap sumpah tokoh antagonis yang berwajah protagonis pada drama pemilu.
Angin beralih profesi sebagai pedagang makanan sampah yang instan di surat kabar

Aku duduk dibawah pohon sukun dan membaca surat kabar itu
Aku bertanya pada angin,
“apakah benar sumpah lelaki itu?”, tanya-ku sembari menatap  merek ayah pada barang jualan angin.
Beginilah sumpah ayah,
“aku bersumpah demi diri-ku sendiri, aku akan menafkahi anak-anak yang dilahirkan dalam kemalangan. Aku akan menjadi ayah mereka  dan mereka akan menjadi anak-ku.”
“Aku tidak akan menjadi anak malang lagi”, ungkap ku pada potongan poster ayah.

Biru langit

Katanya birunya langit itu luas
Namun yang kulihat itu birunya langit di negeri ini sempit
Birunya langit itu hanya ada pada bola mata keluarga presiden, bupati , dan para elit negara lainnya.
Aku bingung dengan negeri-ku ini
Bukankah birunya langit diciptakan Tuhan untuk semua orang
Dan pencipta itu hanya satu?
Hai anak-anak negeri
kita juga berhak memiliki birunya langit di negeri ini
Dan kita pun adalah Ciptaan Tuhan yang sama.
Kita lahir dari tanah yang satu
Kita dibesarkan oleh biru langit yang sama.

Bosan

Adalah membosankan cerita hari ini jika  diberi makan oleh manusia.
Ada seekor ulat kecil dan kurus berjalan pada tangkai-tangkai pengalaman yang lapuk
lalu  berbaring diatas daun-daun kertas yang hijau dari pohon  angsono
usai dikenyangkan oleh beberapa daunnya.

Fresh care

Fresh care kuoles pada telapak yang lusuh,
lalu kuhirup aromanya hingga menembus bulu-bulu demokrasi yang kaku
oleh karna lendir-lendir kepemimpinan kakek telah mengering dalam hidung-ku.
Apakah penyakit lama-ku kambuh lagi?
Saudara-ku negeri kita sedang pilek hari ini,
harap kita segera pergi ke dokter untuk periksa
sebab aku takut penyakit turunan  keluarga kita diderita
oleh anak-anak seta cucu dan cicit kita lagi.

Kos-kosan

Deretan kamar kos-kosan anak negeri  tampak megah dijadikan
Hanya ada gambar dewa-ku di tembok dalam kos-kos itu,
Di luar tembok kuwarnai merah dan putih untuk mendapat simpati orang-orang
Tampak statis penghuninya usai disistemkan oleh kedok toleransi
Aku adalah tuan kos yang tinggal di atas kos-kosan itu
Aku menghirup udara yang segar di atas bersama keluarga-ku
lalu kubuang embusannya kebawah dengan pelan hingga tak berbunyi
Akhirnya aku dianggap dewa
oleh anak-anak kos yang telah kusistemkan dalam kamar toleransi agama
dan mereka telah mempelacurkan diri untuk-ku demi membayar uang kos.

Kunjungan

Konon tekad disembuhkan oleh perjumpaan.
kami mengunjungi saudara yang tertatih sembari mengajarkan langkah dalam candaan.
Mengunjungi adalah candaan yang menyembuhkan kaki yang terluka.
Kaki-ku sedang terluka,
Namun sudah disembuhkan tawa saudara ku yang hilang.

Negara-ku  lupa cara berbisnis

Dosen bernubuat tentang bisnis
Katanya banyak orang lupa cara berbisnis
Negara lupa cara berbisnis;
pelajar dicetak dalam kertas ijasah
dan tubuh wanita-wanita diiklankan di televisi jalanan.
Rok mini adalah  pakaian resmi bertamu para wanita
dan harga adalah sapaan yang paling sopan para lelaki
dalam etiket  bisnis malam hari.
Inilah negara kita ,
dia lupa cara berbisnis dari bung Karno.

Pekerjaan Nyamuk

Kertas dan buku-buku putih bersih tergeletak berhamburan di atas meja
Lampu kamar-ku tertidur dan nyamuk-nyamuk pun mulai bekerja.
Segerombolan tinta yang meleh dari atas meja diisap habis oleh nyamuk
lalu dibawa masuk dalam diri-ku.
Aku pun bersendawa:
“Perintah saja pemula-pemula itu, kita kan seniornya dan dia juga bukan saudara sedarah kita”
Nyamuk-nyamuk pun bertebrangan karena mendengar perintah-ku itu 

Malam yang gelap

Tuhan tidak ada.
Itu hanya sebuah patung tak berarti di samping pembaringan-ku,
yang terus kubalikan membelakangi wajahku.
Benarkah tuhan tidak ada ?
Atau aku yang tidak ada pada Tuhan ?
Hari ini malam yang sangat gelap,
sehingga aku harus terantuk dan jatuh,
ketika hendak pulang ke rumah.
Aku tak punya penolong,
hanya ada selembar kertas yang siap menerima
diriku yang terjatuh
dan hanya ada sebuah pena yang kugunakan
Untuk diri-ku yang merayap pulang.
Aku sangat kotor malam ini.
Aku telanjang malam ini.
Tak ada air untuk membersihkan tubuh-ku ini.
Sungguh malam ini adalah malam yang gelap,
dan akupun adalah gelap.
Aku terus menyalahkan gelap
yang menggelapkan-ku.
Pada hal akulah yang menggelapkan malam
dengan gelap pada diriku.
Malam yang gelap menjadi korban
dari gelapnya diriku ini.

Maaf Sahabat

Mulutku tak berhasrat lagi untuk menyapamu.
Aku tau hari ini ulang tahunmu,
Akan tetapi aku sakit karana ditikam oleh rokok janji yang mencandu.
Fatima aku tak ingin bertemu dengan-mu,
Sebab aku telah bercinta pada istri sahabat kita.
Aku takut Fatima…
Handuk yang diberikan orang tua kita untuk melahap debu pada wajah sudah kubakar.
Aku sekarang telanjang.
Beri aku pakaian sekali lagi,
Aku yakin Fatima…
Tuhan-mu akan mengaminkan kesempatan yang kau berikan kepada-ku untuk menyulam handuk yang baru dari benang maaf-mu.

Bunuh Aku

Berangkali aku adalah Zeus,
Untuk itu aku tak takut pada maut.
Namun aku masih haus,
Untuk itu aku datang pada-mu.
Hadapilah dan bunuhlah aku.

Aku tak takut pada siapapun,
Karena itu aku ingin membunuh dewa-mu,
Untuk terpuaskan dahaga-ku.

Seks

Senyuman tulus berganti wajah,
Engkau tampak tak terbalut.
Keheningan telah dibunuh dan
Suara desahan-mu terbingkai pada Kumpulan bilik bambu di desa.

Petrus Paulus Brilian Lobang Tang
Latest posts by Petrus Paulus Brilian Lobang Tang (see all)