Obat Herbal pun Beracun

Nalar Warga – Siapa bilang obat-obatan resep dokter tidak alamiah? Semuah bahan obat, obat herbal maupun yang konvensional (resep dokter), diambil dari alam, alamiah. Tidak ada yang diambil dari akhirat.

Benar juga kalau ada yang dibilang obat-obatan resep dokter adalah bahan kimia. Karena semua benda di dunia ini ya memang bahan kimia. Air itu H2O!

Yang jadi anggapan umum: pengobatan ‘alami’ dengan ramuan tumbuhan herbal, dan lain-lain sepenuhnya aman, khasiat hebat, tidak seperti obat konvensional. Anggapan semacam ini tidak hanya berlaku di negara-negara berkembang. Di Amerika pun terjadi hal yang serupa.

Di tahun 2015, konsumen Amerika menghabiskan US$21,2 miliar untuk ‘makanan suplemen’, termasuk US$ 5,1 miliar untuk produk-produk herbal dan tumbuh-tumbuhan.

Banyak yang tak menyadari bahwa banyak (hampir semua) makanan suplemen/obat-obat herbal di pasaran tidak mencantumkan label peringatan efek samping! Sangat penting untuk diketahui semua orang, bahwa semua bahan obat selalu punya efek samping, efek yang tidak diharapkan.

Yang lebih gawat lagi adalah propaganda bahwa obat-obat dari ramuan tumbuh-tumbuhan tidak mempunyai efek samping ini tampaknya berhasil. Keadaan ini sangat perlu disesalkan. Karena semua obat (termasuk obat komplementer dan alternatif) punya efek samping.

Perintis farmakologi, bernama Paracelsus (1493-1591), dengan sangat bijaksana menulis: “semua obat merupakan racun; yang penting adalah dosisnya.”

Survei di US: kebanyakan orang Amerika tidak tahu bahwa klaim dari hampir semua obat-obatan herbal yang ada di pasaran tidak didukung bukti-bukti ilmiah.

Salah satu perbedaan mendasar antara pengobatan konvensional dengan obat-obat alternatif (termasuk herbal) adalah pada sistem pengujian efek samping. Aturannya: obat konvensional harus diuji sebelum dipasarkan, kemudian dipantau ketat setelahnya. Obat-obat alternatif tidak harus!

Di Amerika, obat-obatan alternatif dan herbal yang ada di pasaran tidak menjalani uji pada tingkatan apa pun! Di Indonesia? You know-lah.

Jadi, statistik manfaat obat-obatan alternatif tidak menjanjikan apa-apa. Lha wong memang tidak tersedia data hasil penelitian dari tingkat apa pun. Data statistik tidak akan memberikan gambaran yang sesungguhnya kalau berdasar pengalaman pribadi hanya dari satu atau dua praktisi obat herbal.

Sebenarnya ada kesamaan antara obat konvensional dan herbal. Keduanya diambil dari alam; keduanya memiliki efek yang diinginkan dan yang tidak.

Sebagian besar orang percaya bahwa yang herbal benar-benar aman karena pabrik pembuatnya memang tidak diharuskan mengumumkan efek sampingnya!

Ada beberapa alasan mengapa orang mengonsumsi obat alternatif/herbal. Alasan-alasan inilah yang tentu saja membuat pasar obat ini jadi begitu besar.

Pertama, obat alternatif/herbal tidak dikonsumsi ketika pengobatan konvensional memberi kepastian. Contohnya, untuk penyakit radang usus buntu.

Kedua, ada berbagai bahan aktif dalam satu jenis tanaman dengan kadar berbeda-beda. Sehingga tidak bisa dikontrol bahan aktif mana yang diperlukan.

Ketiga, bisa saja terdapat beragam kontaminasi, seperti bakteri, virus, jamur, parasit, mikrotoksin, pestisida, logam beracun, dan lain-lain.

Jadi, keyakinan bahwa obat-obat produk-produk ‘alami’ sepenuhnya aman, lembut, dan tidak mempunyai efek samping jelas-jelas sebuah kesalahan.

Tembakau adalah contoh bahan obat yang sering dikonsumsi secara ‘alamiah’. Apakah obat ini tidak punya efek buruk? Ente pasti tahu jawabnya.

*Ryu Hasan

Warganet
Latest posts by Warganet (see all)