Olahraga dan Propaganda Politik dalam Film Race (2016)

Olahraga dan Propaganda Politik dalam Film Race (2016)
©Race (2016)

Olahraga dan Propaganda Politik dalam Film Race (2016)

Pada tahun 1936, Berlin terpilih menjadi tuan rumah Olimpiade, sebagaimana keputusan dalam Sidang Komite Olimpiade Internasional (IOC) ke-29 di Barcelona pada 1931. Ajang bergengsi ke-11 tersebut direncanakan akan berlangsung 1 Agustus hingga 16 Agustus 1936.

Untuk mengungguli Olimpiade edisi sebelumnya di Los Angles pada tahun 1932, Jerman yang kala itu dipimpin oleh Hitler membangun stadion baru dengan kapasitas 100 ribu kursi. Selain membuat sejumlah fasilitas olahraga lain.

Dilansir dari situs resmi Olimpiade, sebanyak 49 negara dengan total 3.963 atlet ikut berpartisipasi dalam Olimpiade 1936. Atlet putra berjumlah 3.632 orang, sedangkan atlet perempuan 331 orang.

Pesta olahraga paling bergengsi tersebut dibuka di stadion Berlin pada Sabtu, 1 Agustus 1936. Pesawat Hidenburg Jerman terbang di atas stadion sambil membawa bendera Olimpiade. Sebagai negara yang dipimpin oleh rezim fasisme, Hitler melihat Olimpiade sebagai peluang untuk mempromosikan pemerintahannya yang mengunggulkan ras Arya dan mewujudkan sikap anti-semitismenya.

Ada banyak hal yang terjadi dalam Olimpiade tersebut, termasuk di dalamnya mengenai persoalan politik. Sebagaimana ditunjukkan dalam film Race tahun 2016, sebuah film kisah nyata Amerika Serikat yang bergenre drama biografi olahragawan yang bercerita tentang Atlet Afrika, Jesse Owens, yang memecahkan rekor empat mendali emas dalam Olimpiade Berlin 1936. Film ini disutradarai oleh Stephen Hopkins dan skenarionya ditulis oleh Joe Shapnel dan Anna Waterhouse.

Cerita Film Race Tahun 2016

Pada permulaan tahun 1933, seorang pemuda asal kota Cleveland, Ohio, Amerika, dengan bakat alami sebagai sprinter handal tengah bersiap untuk meninggalkan rumahnya. Pemuda ini berhasil mendapatkan beasiswa untuk masuk ke Ohio State University, pemuda itu bernama Jesse Owens.

Ohio State University memiliki tradisi juara dalam olahraga atletik cabang lari jarak pendek, namun setelah Larry Snyder turun menjadi pelatih mereka selalu kalah. Padahal Larry Snyder merupakan legend atletik di Amerika. Media memberitakan bahwa Snyder terancam untuk dipecat. Di tengah-tengah posisi yang genting tersebut, tak disengaja Snyder melihat bakat seorang Jesse Owens.

Tanpa basa-basi, Synder langsung mengintai Jesse Owens dan langsung memintanya untuk ikut Olimpiade Berlin. Jesse di satu sisi tertarik untuk ikut Olimpiade tersebut, tetapi di satu sisi ia khawatir soal isu rasisme yang sedang dikumandangkan rezim Nazi Jerman. Meski begitu Jesse kemudian melakukan latihan secara serius di bawah asuhan Snyder.

Sementara itu, internal Olimpiade Amerika sendiri tengah berada dalam konflik, isu mengenai politik Jerman saat itu memang tengah gencar-gencarnya. Publik Amerika mendorong agar negaranya memboikot acara Olimpiade Berlin. Pendirian yang sama dipegang oleh Asosiasi Atletik Amerika (Avery Brundage) yang tidak ingin atlet-atletnya berpartisipasi pada sebuah event yang diyakini berlangsung pada keberpihakan pada tuan rumah.

Sementara pihak komite sendiri menginginkan agar mereka menyingkirkan urusan politik. Biarkan negara Jerman mengetahui negara mana yang paling digdaya. Namun demikian, kedua pihak tetap tidak menemukan titik temu. Akhirnya diusulkan agar mereka tidak membuat keputusan atas rumor belaka, salah seorang harus turun langsung ke Jerman untuk meninjau situasi sebenarnya.

Avery Brundage ketua Olimpic Amerika kemudian berkunjung ke kota Berlin dan diantar untuk meninjau proyek-proyek fasilitas Olimpiade. Ketika sedang meninjau Avery melihat dengan nyata rumor tentang fasisme dan rasisme, utamanya terhadap kaum Yahudi.

Pada kesempatan itu Avery bertemu dengan Joseph Goebbels Menteri Propaganda Nazi, ketika Avery ditanya kesan oleh Goebbels, Avery bertanya balik, “apakah Jerman mau dikenal sebagai negara yang mengadakan Olimpiade tanpa Amerika?”. Avery menegaskan kalau Jerman ingin menggunakan Olimpiade ini sebagai alat propaganda politik mereka semua tidak akan setuju.

Avery memberikan syarat agar Jerman tidak melarang atlet dari ras apapun. Goebbels pun menyetujui rekomendasi dari Avery tersebut. Di satu sisi Jesse Owens masih terus berlatih dengan sangat gigih di samping melatih mentalnya.

Untuk melakukan follow-up terhadap pertemuan sebelumnya, Avery kembali melakukan kunjungan ke kota Berlin dan kali ini dia terkesan dengan pemandangan kota Berlin yang tidak lagi dipenuhi oleh nada-nada berbau fasis dan rasis. Ia pun kembali bertemu Goebbels, pihak Jerman ingin memastikan lagi soal dukungan Amerika terhadap penyelenggaran Olimpiade.

Untuk memuluskan rencana Goebbels kemudian menawarkan sebuah proyek besar kepada Avery, yaitu pembangunan gedung kedubes Jerman di kota Washington yang besarnya melebihi gedung putih. Pada akhirnya Amerika resmi mengikuti Olimpiade di Berlin.

Kabar itu terdengar oleh Jesse dan Snyder, keduanya cukup senang mendengar hal itu. Singat waktu, Olimpiade Berlin pun dimulai, salah seorang wartawan bernama Lenny kemudian meminta kepada Goebbels untuk diberikan kebebasan secara penuh dalam peliputan Olimpiade, Goebbels pun menyanggupinya.

Halaman selanjutnya >>>
Dimas Sigit Cahyokusumo